TUMPENG DAN IMAN KRISTEN

Diambil dari Warta Jemaat 18 Juni 2017.

Tumpeng adalah makanan yang selalu disajikan hampir di semua jenis acara syukuran atau slametan. Biasanya tumpeng terdiri dari dari nasi kuning berbentuk kerucut yang diletakkan di bagian tengah dan dikelilingi dengan berbagai lauk pauk lain. Pernahkah kita memikirkan mengapa bentuk asli nasi tumpeng selalu kerucut? Karena belakangan ini ada banyak orang yang menyajikan tumpeng dengan dengan beragam, misalnya saja bentuk nasinya yang lebih beragam, mulai dari persegi, setengah lingkaran, dlsb. Bentuk kerucut yang biasanya dikenakan pada nasi tumpeng bukanlah tanpa makna atau sekadar dipilih supaya tampilannya unik. Woodward menjelaskan bahwa bentuk kerucut tumpeng yang mirip gunung ini menggambarkan gunung berkat (Woodward 1988, 73). Penggambaran ini sangat menarik karena mengandung pemaknaan yang dalam sekali. Dalam berbagai acara syukuran atau slametan, bukankah biasanya akan ada doa yang dinaikkan? Dalam kaitan dengan pemaknaan gunung berkat, doa-doa yang dinaikkan umat secara bersama-sama saat syukuran atau slametan diyakini akan menuju ke pusat dan naik ke atas (Tuhan), dan di saat yang bersamaan berkat turun ke bawah menuju ke pinggiran atau komunitas lokal sehingga siapapun yang memakannya akan mendapat berkat tersebut (Woodward 1988, 74). Oleh karena itulah bentuk nasi yang kerucut dikelilingi dengan lauk pauk lain yang menggambarkan ada berkat yang tercurah.

Penggambaran ini semakin menarik ketika dikenakan dalam kehidupan bersama. Dalam syukuran atau slametan biasanya keluarga akan mengirim makanan kepada para tetangga sekitar atau bahkan kerabat yang tidak bisa hadir. Makanan—yang oleh masyarakat Jawa biasanya dibungkus dengan besek1 atau sekarang dengan plastik—merupakan simbolisasi penyaluran berkat. Berkat yang diterima dihayati sebagai sesuatu yang harus dibagikan dan dirasakan oleh sebanyak mungkin orang yang bisa dijangkau. Jika kita pun menerima pemberian makanan dari orang, terimalah dengan penuh ungkapan syukur, betapa pun sederhananya makanan tersebut, karena di dalamnya mengandung ungkapan syukur—berkat— yang ingin dibagikan oleh si pemberi.

Pemaknaan untuk menjadi berkat dan membagikan berkat juga sejalan dengan penghayatan iman Kristen kita. Iman Kristen selalu mendorong kita untuk menjadi saksi yang siap diutus untuk membagikan kebaikan Tuhan yang sudah kita terima. Ini bukanlah sebuah pilihan; kalau lagi ingin ya dilakukan, kalau lagi tidak ingin ya sudah. Menjadi saksi yang siap diutus adalah sebuah tanggung jawab atau konsekuensi beriman yang harus kita hidupi dengan penuh komitmen. Bersaksilah dan bagikan berkat ke sebanyak mungkin orang yang bisa dijangkau. Bukan semata untuk mengkristenkan tetapi lebih jauh untuk menyatakan belas kasih Allah. Seperti sudah menjadi kebiasaan bagi orang pada umumnya untuk membagikan makanan sebagai bentuk ungkapan syukur, biarlah kehidupan sebagai saksi juga menjadi sebuah kebiasaan yang otomatis akan kita lakukan di mana pun kita berada.

 

0 Comments

Add a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.