Tumbuh gak ya?

Diambil dari Warta Jemaat 26 Februari 2017.

Bila kita meluangkan waktu untuk memperhatikan sebatang pohon maka kita akan bertanya-tanya, bagaimana cara pohon itu hidup khususnya di tengah teriknya musim kemarau? Pohon tersebut tetap kokoh, hijau dan hidup walaupun permukaan tanah di sekelilingnya terlihat keras dan mengering. Apa yang menyebabkan hal ini dapat terjadi? Rahasianya adalah di kedalaman permukaan tanah ada “sumber makanan” yaitu air pemberi kehidupan yang dapat diserap oleh akar pohon itu. Pohon itu dapat tumbuh karena ada sumber makanan! Itu jugalah yang ditulis oleh pemazmur,”Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil” (Mazmur 1:3)

Orang Kristen seumpama pohon akan tetap hidup dan bertumbuh bila mereka mencari makan dari Firman Allah. Dalam pertumbuhan orang Kristen, kita tidak mempunyai resep “keberhasilan” yang abrakadra dan instan dalam satu malam! Bila ada diantara kita yang masih memiliki pikiran seperti demikian maka berhentilah berpikiran demikian. Hanya saat kita mau hidup taat pada pimpinan Roh Kudus maka kita akan (makin) bertumbuh dan (makin) serupa dengan Kristus.

Sebagai manusia, kita mempunyai kebutuhan mendasar yang harus dipenuhi dalam dirinya; diantaranya adalah memiliki lingkungan (komunitas) yang menerimanya dan merasa dirinya bermakna. Yang menjadi pertanyaan terpenting adalah siapa yang dapat memenuhi kebutuhan mendasar tersebut? Dalam Yohanes 17:3 tertulis,”Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satusatunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus” Hal yang terindah ialah kita bisa mengenal Allah yang Maha Kuasa dan menjadi sahabatNya, bayangkan hangatnya hubungan seorang anak dengan bapa yang mengasihinya.

Sehubungan dengan “mengenal Allah”, kita dapat menggarisbawahi beberapa hal berikut:

Pertama, mengenal Allah adalah urusan pribadi. Apa maksudnya? Mengenal Allah adalah masalah sikap kita terhadap Dia pada saat Ia membuka diriNya kepada kita. Orang yang teratur membaca Alkitab akan mengembangkan pengenalan yang jauh lebih dalam dengan Allah ketimbang dengan orang yang hanya dengan semangat sesaat.

Kedua, mengenal Allah adalah masalah keterlibatan pribadi, di dalam pikiran, kehendak dan perasaan. Jika tidak demikian, maka yang terjadi bukan merupakan hubungan pribadi secara penuh. “Kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya TUHAN itu!…….” (Mazmur 34:9) “Mengecap” berarti “merasakan” sesuatu dengan mulut kita, berkaitan dengan panca indera kita. Kita tidak boleh kehilangan fokus tentang fakta bahwa mengenal Allah merupakan hubungan emosional, seperti halnya intelektual ataupun kehendak. Jika tidak demikian, hubungan antarpribadi itu tidak bisa mendalam.

Ketiga, pengenalan akan Allah merupakan masalah kasih karunia. Kok bisa begitu? Karena ini merupakan hubungan yang seluruh inisiatifnya dimulai dari Allah sebab Allah sepenuhnya di atas kita dan kita sepenuhnya tidak dapat menuntut perkenan Allah sama sekali karena dosa kita. “Mengenal” ketika diterapkan kepada Allah, mengacu pada inisiatif Allah dalam mengasihi, menebus, memanggil dan memelihara kita.

Maukah kita terus bertumbuh dalam pengenalan kepada Tuhan? Maukah kita menjadi “pohon yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan tidak layu daunnya……..”

Pnt. Hardijanto Widjaja

0 Comments

Add a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.