TOLERANSI ECEK-ECEK

Diambil dari Warta Jemaat 4 Juni 2017.

Di berbagai film aksi, biasanya kemunculan sosok pahlawan
(super) menjadi hal yang sangat dinantikan. Kenapa? Karena sosok
pahlawan akan muncul ketika ada kejahatan. Ia muncul untuk
menghadapi dan menyelesaikan permasalahan yang ditimbulkan oleh
para penjahat dengan cara dan kekuatan (super) yang beragam.

Belakangan ini saya menjumpai banyak pahlawan dadakan,
namun nahas karena kemunculan mereka berbeda jauh dengan
penggambaran pahlawan di film-film aksi yang biasa saya tonton.
Kejahatan justru semakin banyak karena kemunculan mereka. Bukankah
menyesakkan ketika melihat nasib korban persekusi1 yang baru-baru ini
ramai dibicarakan? Tidak hanya ibu yang harus pindah karena tidak
tahan diteror, seorang remaja pun mengalami intimidasi dari sekelompok
pahlawan kesiangan beberapa waktu yang lalu. Ada banyak orang yang
katanya mau membela kebenaran tapi justru melakukan perbuatan
sebaliknya ketika menjumpai orang yang dianggap tidak sejalan.
Perbedaan seolah menjadi alasan yang cukup untuk melegitimasikan
tindakan main hakim sendiri; inilah tindakan khas kaum pahlawan
kesiangan. Apakah saya semata-mata bicara mengenai mereka? Tidak!
saya juga bicara mengenai anda yang sedang membaca tulisan ini.
Jangan-jangan tanpa/dengan sadar kita juga berkontribusi pada berbagai
permasalahan yang terjadi belakangan ini. Lantas setelah kejahatan
terlanjur merajalela, kita muncul di kemudian hari sebagai pahlawan
yang lebih kesiangan lagi.

Toleransi harusnya menjadi perekat dari perbedaan yang begitu
kaya, namun sayangnya toleransi dipahami dan dipraktikkan dengan
tidak semestinya. Toleransi tidak lagi menjadi perekat yang merayakan
perbedaan, namun menjadi wacana ecek-ecek yang justru
membungkam perbedaan.

Apa itu toleransi?

Bukankah pada praktiknya toleransi seringkali dijadikan payung
untuk melindungi orang-orang yang menuntut untuk dihargai, dimengerti,
diterima, namun di saat yang bersamaan menolak mereka yang
berbeda? Dengan berlindung di balik toleransi, tidak sedikit orang yang
memilih untuk mengalah dengan membenamkan perbedaan, dan
merasa bersalah kalau menjadi berbeda. Apakah saudara merasa
bersalah ketika makan dan minum saat orang lain sedang berpuasa?
Saya tidak. Saya makan dan minum saat saya membutuhkannya,
bahkan kalau itu harus saya lakukan di tempat umum di saat orang lain
sedang berpuasa. Saya bertoleransi, justru dengan menunjukkan saya
berbeda. Saya justru bertoleransi karena dalam perbedaan saya
berusaha memperkaya dan mengajar orang lain untuk menghargai
perbedaan, bukan dengan menghilangkan perbedaan. Ketika
bertoleransi dalam perbedaan, saya tidak menanamkan rasa takut dalam
diri karena ada penghargaan terhadap kekayaan perbedaan tersebut.

Jangan takut untuk menampilkan kekayaan perbedaan kita,
nyatakanlah diri kita dengan bijak. Di luar sana—mungkin kita sendiri
juga demikian—masih banyak orang yang mempraktikkan toleransi ecekecek.
Jangan sampai terlambat dan menjadi pahlawan yang lebih
kesiangan. Bertoleransilah sekarang.

0 Comments

Add a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.