SETENGAH ATAU SEPENUH HATI?

Diambil dari Warta Jemaat 26 Maret 2017.

Yesus bukanlah Pribadi yang masa bodoh dan yang tak mau repot atau tak mau ambil pusing terhadap orang lain. Sebaliknya, Dia selalu memberi “tempat,” perhatian dan waktu bagi orang lain. Terlebih orang yang menderita, pasti selalu mendapat tempat dalam ruang hati-Nya. Maka selama hidup dan karya-Nya, Dia berjalan berkeliling sambil berbuat baik. Dia menyembuhkan orang sakit, menghibur yang berdukacita, memberi makan orang yang lapar, membebaskan orang-orang dari ketulian, kebutaan, sakit kusta, setan dan dari bermacam-macam cacat jasmaniah. Dia pun menghidupkan kembali orang yang sudah meninggal. Yesus peka terhadap setiap penderitaan umat manusia, entah itu penderitaan jasmani atau rohani. Perhatian dan kepedulian Yesus terhadap orang lain tidak setengah-setengah tetapi penuh, sepenuh hati, utuh dan menyeluruh sampai tuntas.

Dalam Yohanes 13:1 dikatakan, “Sementara itu sebelum hari raya Paskah mulai, Yesus telah tahu, bahwa saat-Nya sudah tiba untuk beralih dari dunia ini kepada Bapa. Sama seperti Ia senantiasa mengasihi murid-murid-Nya demikianlah sekarang Ia mengasihi mereka sampai kepada kesudahannya.” Yesus mengasihi mereka sampai kesudahannya. Artinya, Dia mengasihi sampai detik-detik terakhir dari hidup dan karya-Nya di dunia. Sekalipun saatNya sudah tiba untuk beralih dari dunia ini kepada Bapa-Nya di surga, tetapi disebabkan cinta kasih-Nya yang penuh dan total itu, Yesus bersedia makan bersama walau Dia sedang dalam duka mendalam karena saat kematian-Nya sudah tiba. Di saat akhir hidup-Nya, Dia rela merendahkan Diri-Nya dengan membasuh kaki para murid-Nya, sebagaimana dikatakan dalam Yoh 13:5, “Kemudian Ia menuangkan air ke dalam sebuah basi, dan mulai membasuh kaki murid-murid-Nya lalu menyekanya dengan kain yang terikat pada pinggang-Nya itu.”

Kaki adalah bagian yang paling kotor dari tubuh dibasuh Yesus. Tindakan pembasuhan adalah pekerjaan seorang hamba, seorang budak! Namun, kasih Yesus sangat besar sehingga melampaui batas-batas pangkat manusia. Kasih-Nya menjadikan Dia Pelayan manusia, yang telah menunjukkan hati seorang hamba melalui tindakan mencuci kaki. Yesus menjadi teladan, bahwa di dalam kerajaan-Nya jalan naik ke tempat tinggi adalah dengan jalan turun ke bawah, yaitu mencuci kaki.

Melalui teladan-Nya, kita diingatkan bahwa jika kita mengasihi, maka kasihilah secara total tak setengah-setengah. Jika mengasihi keluarga atau pasangan hidup setengah-setengah, keluarga dan pasangan kita tak akan bahagia. Jika orang tua memberikan perhatian dan menyekolahkan anaknya setengah-setengah, maka pendidikan dan sekolah anak akan putus di tengah jalan. Jika siswa dan mahasiswa belajarnya setengah-setengah, maka masa depan mereka bisa suram dan gelap! Begitu pula, jika kita dalam bekerja tak sungguh-sungguh, melakukan pekerjaan setengah-setengah, maka sangat sulit dapat mencapai karir dengan baik. Jika dalam mengasihi Tuhan dan melayani Tuhan setengah-setengah, maka kasih dan pelayanan kita tidak mendatangkan damai sejahtera. Jika kita mengasihi rekan-rekan sepelayanan di gereja atau di tempat kita bekerja setengah-setengah, maka sangatlah sulit bagi kita menerima kesalahan rekan dan sulit untuk memberi maaf atau pengampunan.

Lalu bagaimana cara agar kita dapat memiliki dan menunjukkan kasih, perhatian dan pelayanan yang utuh, sepenuh hati dan tuntas? Tentu, kita perlu bersikap rendah hati seperti Yesus. Dengan sikap rendah hati, kita akan sungguh-sungguh mengasihi, melayani dan bekerja. Sikap rendah hati selalu memberi tempat yang pertama bagi orang lain. Dengan sikap rendah hati, kita melihat dan menganggap orang lain lebih penting dan lebih utama daripada diri kita sendiri. Dengan demikian, kita akan keluar dari “kungkungan” egoisme pribadi sehingga kita dapat mengasihi, memerhatikan dan melayani dengan tulus dan sepenuh hati.

Selaku gereja, kita bersyukur bahwa pada hari ini telah diteguhkan beberapa saudara kita menjadi penatua. Kita berharap agar para penatua dapat meneladani Yesus, tidak setengah-setengah tetapi dengan tulus dan sepenuh hati melayani Tuhan dan domba gembalaan-Nya yang telah Tuhan percayakan kepada mereka. Kiranya Tuhan Sang Kepala Gereja akan melengkapi dan menyempurnakan pelayanan para penatua.

0 Comments

Add a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.