SESUDAH MERAYAKAN PASKAH, LALU…?

Diambil dari Warta Jemaat 23 April 2017.

Panitia Paskah dibanyak gereja sudah menyelesaikan tugas pelayanannya. Kerja keras yang dimulai sejak Minggu Pra Paskah telah dituntaskan. Rapat evaluasi akan diadakan untuk meninjau ulang acara-acara yang telah ditampilkan, menilai kembali kinerja pelayanan, dan kemudian akan dilanjutkan dengan rapat pembubaran panitia dengan rasa syukur dan lega, bahkan juga rasa bangga. Bagaimana kesan anda dengan Perayaan Paskah tahun ini ? Ada yang menarik, ada yang berkesan atau begitu-begitu saja, tak ada yang ‘seru?’.

Selama ini ada banyak orang berpendapat bahwa Paskah kerapkali dirayakan, sepi-sepi saja, tak ada yang istimewa kecuali pagi-pagi buta sudah ke gereja. Lain dengan perayaan Natal yang kelihatan lebih heboh. Untuk merayakan Natal dana yang dibutuhkan lebih besar dari pada dana untuk merayakan Paskah. Acara pun lebih meriah, dekorasi pun lebih ‘penuh’. Ketika tiba di bulan Desember kartu ucapan selamat Natal bertebaran dimana-mana, sementara kartu ucapan selamat Paskah…..tak ada. Untuk menyambut perayaan Natal, orang sering menyiapkan baju, sepatu baru dan pernak-pernik yang berhubungan dengan Natal. Ketika menyambut Paskah, apa yang kita siapkan ? Benarkah Natal lebih berarti/penting bagi kita dibandingkan dengan Paskah ? Semoga saja kita tidak berpendapat demikian.

Paskah jutru merupakan perayaan terpentig dalam tahun Liturgi Gerejawi. Mengapa ? karena Paskah, peristiwa Kebangkitan Yesus Kristus adalah merupakan sumber iman kita selaku orang Kristen. Seperti yang dikatakan oleh Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat Korintus :”Tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu “ (I Korintus 15 : 14) dan “Jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu” ( I Korintus 15 : 17).

Hari Minggu tanggal 16 April yang lalu, ibadah perayaan Paskah telah dilaksanakan. Beberapa Gereja menampilkan acaranya masing-masing. Ada yang menampilkan drama, sketsa, kantata Paskah. Bahkan ada juga gereja yang merayakan Perjamuan Kudus, yang diyakini sebagai ‘feast of the feast’ atau ‘perjamuan terbesar di antara semua perjamuan’. Dalam sebuah artikel yang saya baca, Gereja Kristen Jawa di desa Podosoko, Magelang Jawa Tengah, pada hari Minggu Paskah tersebut, membagi-bagikan telur ayam kepada warganya. Hal itu dipandang sebagai lambang sebuah kemenangan dan pembaharuan hidup. Mereka menghayati bahwa Perayaan Paskah mengingatkan mereka akan tembok ‘pemisah’ yang telah dirobohkan oleh Kebangkitan Kristus. Sehingga hubungan baik dengan Allah dan sesama dapat diwujudkan dan hidup persaudaraan semakin di eratkan.

Dalam hidup kita, sudah berapa kali/banyak kita merayakan Paskah ? sudah berapa banyak khotbah Paskah kita dengarkan ? Apakah peristiwa Kebangkitan Tuhan Yesus itu sudah berhasil membawa perubahan dalam hidup kita ? atau hanya sekedar ibadah ritual yang memang harus dilaksanakan sesuai dengan kalender Gerejawi ?.

Tuhan yang bangkit adalah Tuhan yang hidup, yang oleh Nya kepada setiap orang yang percaya kepada Nya beroleh hidup yang kekal. Melalui Kristus, anak Nya yang tunggal yang dikorbankan di kayu Salib dan di bangkitkan dari kematian, Allah membebaskan kita dari kuasa maut dan memberikan hidup yang baru yang menjalin hubungan yang erat dengan Allah dan sesama manusia.

Jika Allah sudah melakukan semua itu demi kasih Nya kepada kita, lalu apa jawaban kita melalui kehidupan yang Dia anugerahkan ? satu hal yang pasti ialah bahwa kita diciptakan Nya dengan tujuan yang baik, bukan untuk sebuah kesia-siaan. Dengan menerima Paskah sebagai lambang kemenangan iman kita, maka hidup kita hendaknya senantiasa berpusat kepada Nya dan berpengharapan hanya di dalam Dia. Kehidupan kita di dunia ini tentunya tidak hanya berisi hal-hal yang manis dan menyenangkan. Dengan senantiasa berpengharapan kepada Nya, kita meyakini bahwa segala hal yang Allah izinkan terjadi, itu bertujuan untuk membentuk dan memurnikan iman kita. Di balik salib kehidupan yang harus kita pikul, tersembunyi mahkota kemenangan yang akan kita terima kelak jika saatnya tiba. Bagaimana kah cara hidup berpengharapan kepada Tuhan ? yaitu dengan cara mengarahkan diri/hati dan pikiran kepada Kristus, agar dalam hidup yang nyata sesehari, kita dapat meneladani Nya, dengan senantiasa mau berkorban bagi orang lain dan mewujudkan hidup persaudaraan yang tulus. Sehingga hidup yang dianugerahkan kepada kita, kita jalani dengan baik dan menjadi berkat. Perayaan Paskah telah berlalu, namun tugas panggilan Nya tetap berlaku. Kiranya Tuhan menolong kita.

0 Comments

Add a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.