Saya Tionghoa! Apa Saya Primordial?

Diambil dari Warta Jemaat 29 Januari 2017.

Kita mulai dengan yang susah. Apa artinya primordial? Terkadang istilah itu diucapkan oleh tokoh yang sok hebat. Ternyata bukan hanya pendengarnya, melainkan beliau sendiri salah mengerti.

Ada yang mengartikan primordial itu rasialis. Ada yang anggap itu anti nasional. Ada yang kira itu SARA. Ada yang menduga itu keyakinan dari leluhur. Semua arti itu keliru.

Primordial berarti sudah ada sejak lahir atau sejak awal. Primordialisme berarti pandangan yang menjunjung tinggi hal-hal yang sudah ada sejak lahir atau awal. Akar katanya primarius yang berarti asal mula.

Siapa yang bersifat primordial? Tiap orang, tanpa kecuali! Dalam diri tiap orang terdapat unsur-unsur primordial.

Unsur pertama, etnik. Si A lahir dalam keluarga Toraja. Si B lahir sebagai orang Minang. Si C lahir dari pasangan Prancis dan Bali.

Unsur kedua, keyakinan religius. Pada usia balita anak menerima pengaruh kepercayaan dari orangtuanya.

Unsur ketiga, kebudayaan. Sejak balita anak diteladankan kebiasaan, adat istiadat, bahasa, hari raya, dan kearifan lokal lingkungannya.

Dari berbagai unsur itu, manakah yang paling gampang diserap oleh anak? Tentunya, hari-hari raya.

Dulu sebulan di muka saya sudah demam Natal. Kemudian ada hari raya yang lebih asyik lagi, yaitu Tahun Baru Imlek. Pagi-pagi kami mulai berjalan mengunjungi rumah-rumah kerabat. Saya mengenakan baju baru; baru dalam arti baru terima dari Diakoni GKI Kebonjati Bandung, namun bajunya itu sendiri baju bekas yang gombrong (istilah Inggrisnya: long-gar).

Kunjungan di tiap rumah kerabat itu singkat saja, sebab acara yang terpenting adalah berpamitan. Pada saat pamit itu kerabat akan memberi amplop kecil berwarna merah yang disebut angpau. Klimaksnya terjadi malam hari saat kakak-kakak dan saya membuka amplop-amplop kecil itu yang berisi uang kecil yang paling kecil, namun memberi kegembiraan besar.

Begitulah tiap orang punya unsur-unsur primordial yang berbeda-beda. Apakah primordial itu baik ataukah buruk? Tidak baik namun juga tidak buruk! Primordial adalah konsep netral. Seperti sebilah pisau, ia bisa baik atau buruk tergantung pada orang yang memegangnya.

Pedagogi Orang Dewasa mengenal tiga jenis kepribadian terkait primordialisme.

Pertama, tipe kepribadian yang memutlakkan dan menjadikan primordialnya sebagai peluru untuk membenci primordial yang berbeda. Pergi kemanapun ia memakai atribut primordialnya. Kepribadiannya larut dalam kolektivisme primordial. Ia tenggelam dalam kerumunan massa yang meneriakkan kebencian terhadap golongan primordial lain.

Kedua, kebalikkannya. Ini tipe kepribadian yang justru menyangkal primordialnya sendiri. Ia malu mengakui primordialnya. Kalaupun ada teman yang tahu, ia membantahnya. Ia membohongi dirinya sendiri. Ini gejala disorientasi identitas alias kacang lupa kulit.

Ketiga, tipe kepribadian yang menyikapi primordial secara wajar. Ia tidak fanatik menonjolkan, namun juga tidak menyangkal primordialnya. Ia menerima kenyataan primordialnya dan juga menerima golongan primordial yang berbeda. Tipe ketiga inilah yang sehat dan normal.

Sebuah masyarakat menjadi sehat bila warganya bisa menerima dirinya sendiri sebagaimana adanya dan menerima orang lain yang berbeda juga sebagaimana adanya, sehingga saling bekerja sama.

Ketika menggambarkan gereja sebagai organisme, Rasul Paulus menulis, “… sebab tubuh itu sendiri tidak terdiri dari satu anggota saja, tetapi banyak anggotanya… Seandainya seluruh tubuh itu menjadi mata saja, bagaimana tubuh itu dapat mendengar?… Tubuh itu tidak terbagi-bagi, masing- masing anggota memperhatikan satu sama lain…” (1 Kor. 12:14, 17, 25, BIMK).

Syafii Maarif, pemikir terkemuka Muhammadiyah, menulis, “Orang yang akalnya sehat, jiwanya lapang, dan pikirannya jernih bisa menghargai golongan yang berbeda. Toleransi terhadap golongan yang berbeda merupakan ciri sebuah masyarakat yang beradab.”

Masyarakat kita terdiri atas ratusan macam golongan primordial dengan etnik, agama, adat kebiasaan, hari raya, dan kearifan lokal yang berbeda-beda.

Apakah menjunjung tinggi primordial masing-masing bertolak belakang dengan nasionalisme Indonesia? Sama sekali tidak! Bung Karno berjiwa nasionalis, namun ia menjunjung adat primordialnya misalnya Sungkeman atau bersujud bakti di kaki ibunya.

Primordialisme tidak melunturkan nasionalisme, malah memperkayanya. Masakan keindonesiaan saya luntur hanya karena merayakan Tahun Baru Imlek? Tak usah saya buang apa yang sejak kecil saya pegang.

Oleh sebab itu kepada umat yang merayakannya, saya juga mengucapkan, “Selamat Tahun Baru Imlek!” Eh! Maaf, angpaunya belum ada! Lagi susah uang kecil!

Andar Ismail

 

0 Comments

Add a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.