SAPU-SAPU MURAHAN

Diambil dari Warta Jemaat 9 Juli 2017.

Di dalam kamar kostnya yang kecil, Teguh memelihara dua ekor ikan mas koki. Ikan mas koki tersebut hidup di dalam kotak akuarium yang tidak terlalu besar ukurannya, dan diletakkan di salah satu sudut kamar. Di waktu senggang, Teguh sering memandangi bentuk dan gerak-gerik mas koki yang sangat lucu, dengan ekornya yang melambai-lambai. Suatu ketika, ia melihat bahwa air dalam akuarium tersebut mulai keruh dan dinding kacanya berlumut, sehingga Teguh tidak lagi dapat memandang keindahan ikan mas koki dengan jelas. Mengatasi hal tersebut, Teguh berencana membeli ikan sapu-sapu, karena berdasarkan informasi yang didapatnya, ikan sapu-sapu suka makan lumut. Lalu, ia pun pergi membeli seekor ikan sapu-sapu seharga Rp. 500 di toko ikan. Sampai di rumah, Teguh langsung memasukkan ikan sapu-sapu tersebut ke dalam akuarium.

Keesokan harinya ketika terbangun, Teguh memperhatikan ikan-ikan tersebut terlihat jelas. Airnya menjadi lebih jernih dan bersih. Tetapi di balik keindahan ikan mas koki yang meliuk-liuk tersebut, ada seekor ikan sapu-sapu yang membersihkan lumut yang menempel pada kaca. Ikan yang murahan serta secara kasat mata kurang menarik karena warna dan bentuknya, ternyata memiliki peran dan fungsi yang penting dalam menghadirkan keindahan dan kenyamanan akuarium. Itulah sebabnya, banyak orang yang mencari ikan sapu-sapu karena perannya yang sangat luar biasa membersihkan akuarium.

Ada tiga hal yang dapat kita pelajari dari ikan sapu-sapu tersebut. Pertama, bahwa Tuhan menciptakan segala sesuatu (apalagi kita manusia) demi tujuan tertentu. Tuhan menciptakan dan menghidupkan kita demi sebuah tujuan mulia. Sebagai orang percaya, kita diciptakan untuk menghadirkan kemuliaan Tuhan lewat hidup kita. Kedua, setiap orang – bagaimana pun keadaannya – diberikan Tuhan kelengkapan untuk mendukung tujuan mulia tersebut. Karunia, bakat dan minat, gaya dan keunikan setiap orang, adalah kelengkapan yang dapat digunakan untuk menjalani kehidupan yang memuliakan Tuhan, yakni membawa kebaikan bagi banyak orang. Tidak ada seorang pun yang sungguh-sungguh tidak dapat melakukan apa pun. Ketiga, kecil menurut seseorang, belum tentu menurut yang lainnya. Bisa saja, bagi sebagian orang apa yang kita miliki dan lakukan tidak terlalu penting dan tidak bermanfaat, tetapi belum tentu bagi yang lain. Itu sebabnya, jangan malu dengan semua yang kita miliki, dengan kepribadian dan bentuk fisik, dengan apa yang kita lakukan, dsb. Teruslah kita percaya diri mengembangkan potensi kita dalam rangka membawa kebaikan bagi sesama.

Sesungguhnya, Tuhan tahu apa yang Dia lakukan terhadap kita, bahkan Dia sendiri yang menenun kehidupan kita. Mazmur 139:13, “Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku.” Kita semua adalah pribadi yang berharga di mata Tuhan. Melalui nyanyian KJ 184 ini, mari kita menghayati ke-berharga-an diri kita berdasarkan kasih sayang yang Tuhan berikan:

Yesus Sayang padaku, Alkitab mengajarku
Walauku kecil lemah, aku ini milik-Nya
Yesus Tuhanku sayang padaku;
Itu firman-Nya di dalam Alkitab.

Yesus sayang padaku, Ia mati bagiku;
Dosaku dihapus-Nya, surga pun terbukalah.
Yesus Tuhanku sayang padaku;
Itu firman-Nya di dalam Alkitab

0 Comments

Add a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.