Pilkada

Diambil dari Warta Jemaat 12 Februari 2017.

Setelah sekitar empat bulan masa kampanye untuk Pemilihan Umum Kepala Daerah DKI Jakarta, maka mulai hari ini kita memasuki minggu tenang, dan tanggal 15 Februari 2017 akan dilaksanakan pemungutan suara sekaligus penghitungan suara. Apa yang kita rasakan setelah memasuki minggu tenang? Betul-betul menjadi tenang dan siap dengan pilihan, atau malah bimbang dan ragu untuk menentukan pilihan pada hari Rabu nanti?

Konon Pilkada Jakarta 2017 ini adalah ajang kontestasi gubernur yang paling menyedot perhatian, bukan hanya warga ibukota saja, namun seluruh rakyat Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Banyak orang menyebut pesta demokrasi kali ini adalah Pilkada rasa Pilpres. Tidak salah memang, bahkan hiruk- pikuk dan hingar-bingar Pilkada kali ini terasa lebih seru dan lebih panas dibanding Pemilihan Umum Presiden yang terakhir. Sebelum kontestan diumumkan secara resmi oleh KPUD, kampanye tidak resmi sudah bisa kita saksikan tiap hari. Kompetisi dari para kandidat calon gubernur begitu sengitnya, pendukung dan tim sukses tiap pasangan calon termasuk partai- partai pendukung berusaha sekuat tenaga untuk mempromosikan calonnya. Mungkin karena semangat yang berlebihan ini, black campaign tidak segan- segan diluncurkan untuk menyudutkan kompetitor para calon, dan yang memprihatinkan serta sangat disayangkan adalah isu SARA (Suku, Agama, Ras, Antar Golongan) berhembus sangat kencang, sehingga cukup merepotkan pemerintah untuk menangkal dan meredamnya. Memang isu SARA adalah hal yang sensitif dan sangat potensial memecah-belah kesatuan bangsa dan negara.

Sejak era reformasi bergulir tahun 1998, iklim demokrasi dirasakan di negeri ini. Orang bebas berbicara dan menyatakan pendapatnya, unjuk rasa menjadi pemandangan nyaris setiap hari, pers bebas memberitakan kejadian apa saja tanpa sensor, dan Pilkada adalah salah satu produk yang muncul di era penuh kebebasan ini. Kita layak bersyukur bisa menikmati alam demokrasi. Tidak semua rakyat di negara lain bisa merasakannya, masih banyak negara yang meskipun tingkat kemakmurannya lebih tinggi dari negeri kita, namun rakyatnya masih dibungkam dan dikekang untuk berekspresi, dan tidak bebas menyatakan pendapat. Dengan „kemewahan‟ demokrasi yang kita miliki ini, maka sebagai warga ibukota hendaknya kita tidak menyia-nyiakan hak pilih kita untuk menentukan pemimpin sekaligus pelayan masyarakat untuk masa lima tahun ke depan, dengan mendatangi tempat pemungutan suara untuk memberikan hak suara kita.

Sebagai gereja dan umatNya yang sudah mendapat anugerah dari Tuhan berupa akal budi dan hikmat, seyogyanya kita menentukan pilihan sesuai hati nurani masing-masing. Marilah, dengan akal sehat yang sudah Tuhan anugerahkan, serta tak lupa memanjatkan doa memohon bimbingan dan pertolonganNya, kita menggunakan hak pilih kita dengan keyakinan bahwa Tuhan di dalam Kristus Yesus akan memberikan pemimpin yang terbaik yang akan melayani kepentingan masyarakat luas di Jakarta, karena “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu” (Yohanes 9 : 16a). Sebagai pengikut Kristus kita tidak boleh sembarangan dan gegabah dalam menentukan pilihan. Setelah masa kampanye dan juga debat sebanyak tiga kali, kita sudah bisa mengetahui visi & misi para calon, janji-janji manis juga sudah diucapkan, baiklah nalar kita menilai dengan jernih semua itu, serta jangan lupa memperhatikan track record (rekam jejak) masing-masing pasangan calon. Pilihlah calon yang mempunyai komitmen dan integritas, jujur dan bersih, “Disamping itu kaucarilah dari seluruh bangsa itu orang-orang yang cakap dan takut akan Allah, orang-orang yang dapat dipercaya, dan yang benci kepada pengejaran suap; tempatkanlah mereka di antara bangsa itu menjadi pemimpin………” (Keluaran 18 : 21).

Apabila seluruh umat dan masyarakat memilih pemimpinnya sesuai dengan petunjuk dari Tuhan, maka akan benarlah pepatah Latin yang berbunyi Vox Populi Vox Dei, Suara Rakyat Suara Tuhan.

Selamat berhikmat dan selamat memilih.

Pnt. Eko Setiawan

0 Comments

Add a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.