PILIH GUBERNUR DAN PILIH SEMANGKA

Diambil dari Warta Jemaat 2 April 2017.

Memilih buah semangka itu susah. Soalnya, dari warna kulitnya kita tidak tahu apa buah ini bagus atau tidak.

Konon, caranya begini: ulurkan empat jari tangan lalu dengan agak bertenaga tepuk-tepuklah semangka itu. Tepuk dari depan, dari belakang, dari kiri, dan kanan. Kalau ada bunyi “Pok, pok, pok!” seolah-olah ada getaran air, katanya itu semangka ranum, manis, dan kandungan airnya tinggi alias juicy.

Itu tentang pilih semangka. Kalau pilih gubernur atau presiden tentu lebih susah. Siapa gerangan berani tepuk-tepuk kepala cagub atau capres. Mustahil kita boleh tepuk-tepuk kepala beliau dari depan, belakang, kiri, dan kanan?

Itu baru baru satu macam kriteria. Padahal kalau kita pilih presiden, gubernur, bupati, ketua perkumpulan, ketua panitia atau lainnya, kriterianya lebih banyak. Kriteria apakah yang paling kita utamakan?

Coba pikir. Kalau kita naik pesawat terbang yang tergoncanggoncang melintas di atas puncak-puncak gunung, kriteria apa yang kita pakai untuk menilai pilot? Pasti bukan apa pilotnya beragama ataukah tidak. Juga bukan apa agama pilot itu. Juga bukan apa pilotnya seagama dengan aku atau tidak. Juga bukan apa etnik pilotnya.

Bukan! Yang kita nilai adalah apakah pilotnya cakap atau tidak? Kita perlu pilot yang cakap. Ia harus cakap menerbangkan pesawat ini supaya semua penumpang selamat. Itu yang terpenting. Meskipun saya pribadi merasa perlu menunduk berdoa setiap kali naik pesawat terbang atau alat angkut lain, namun saya tidak pernah merasa perlu untuk mencari tahu apakah pilot, nakhoda, atau pengemudinya beragama ataukah tidak. Yang penting ia cakap.

Nah, bukankah faktor cakap sepatutnya menjadi kriteria utama dalam memilih seorang pemimpin? Apa manfaatnya kita mempunyai pemimpin yang saleh beragama, namun tidak cakap menjalankan tugasnya.

Cakap berarti tahu seluk beluk lapangan tugas yang diembannya. Ia sanggup menangani secara bijaksana dan tepatguna tiap persoalan yang timbul.

Cakap juga berarti menghasilkan kinerja yang bermutu tinggi. Itu bukan berarti bahwa pemimpin memborong segala tugas. Pemimpin bukan pemborong tugas, melainkan pendorong tugas yaitu memberdayakan orang-orangnya menjalankan tugasnya masing-masing.

Berkaitan erat dengan cakap adalah cekatan. Pemimpin yang cakap namun lamban tidak mendatangkan banyak kemajuan. Kita butuh pemimpin yang cekatan, yaitu cepat tanggap, gesit, dan tegas. Ia menindaklanjuti tiap laporan dan keluhan. Ia bukan peragu. Bukan orang yang suka menunda-nunda. Ia memantau kinerja anakbuahnya dan bisa memuji namun jika perlu juga memaki.

Akan tetapi meskipun pemimpin cakap dan cekatan, kita akan terpuruk jika ternyata ia sibuk meraup uang ke dalam kantongnya sendiri. Kita butuh pemimpin yang jujur. Artinya, tidak mencuri. Tidak membohong. Tidak menyalahgunakan fasilitas kerja untuk kepentingan pribadi.

Jujur juga berarti berintegritas. Perbuatannya sejalan dengan perkataannya. Ia tidak hanya senyum-senyum santun bermanis mulut sambil sebentar-bentar menyebut nama Allah, namun sebetulnya hanya sibuk membuat pencitraan.

Itulah tiga kriteria utama seorang pemimpin. Cakap, cekatan, dan jujur. Supaya bisa maju kita perlu pemimpin yang berkualifikasi seperti itu.

0 Comments

Add a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.