PILIH GUBERNUR DAN PILIH SEMANGKA (Bagian ke-2)

Diambil dari Warta Jemaat 9 April 2017.

Saat menjelaskan kualifikasi karunia kepemimpinan, Rasul Paulus menulis, “… siapa yang memberi pimpinan, hendaklah ia melakukannya dengan rajin …” (Rm. 12:8). Rajin dalam arti apa? Bahasa aslinya, “ho proistamenos en spoude” (harfiah: yang memimpin dalam rajin).

Kata rajin di situ diterjemahkan dari kata spoudazo yang sarat makna. Spoudazo berarti mau kerja dan bisa kerja, rela capek dan tahan capek, melakukan dengan konsisten dan tuntas, berupaya penuh kesungguhan, dan mengerjakan tanpa kepentingan tersembunyi. Dalam kata spoudazo terkandung makna cakap, cekatan, dan jujur.

Jika kita memilih pemimpin secara bernalar kritis seperti itu, maka yang kita cari adalah orang yang cakap, cekatan, dan jujur. Apa gendernya, agamanya, budayanya, etniknya, itu bukan kriteria rasional melainkan cenderung merupakan kriteria sentimental dan emosional.

Bila berpikir dengan nalar kita bukan mempersoalkan apa gender, agama, atau etniknya. Yang kita persoalkan adalah apakah ia becus? Ataukah ia cuma ngomong doang? Ataukah malah ia tukang nyolong.

Contohnya terjadi di Rotterdam, kota lambang modernisasi Belanda. Pada tahun 2009 penduduk Rotterdam memilih Ahmed Aboutaleb, seorang Muslim kelahiran Maroko, sebagai walikota. Dulu Aboutaleb datang ke Belanda pada usia 15 tahun tanpa kemampuan bahasa Belanda sepatah katapun. Namun, kemudian penduduk Rotterdam yang beragama Kristen justru memilih dia berdasarkan kinerjanya.

Tentang berpikir rasional itu Gus Dur berucap, “Siapa pun boleh jadi presiden, tak soal apa agamanya, gendernya, atau etniknya!”

Jika agama atau etnik menjadi tolok ukur dalam memberi pengakuan terhadap kepemimpinan seseorang, titik temu tidak pernah akan ada karena bangsa kita terdiri atas puluhan macam agama dan ratusan macam etnik. Titik temu hanya akan terjadi jika kita yang berbeda-beda ini menerima dan menghargai pemimpin yang berbeda agama atau etnik.

Zuly Qodir, sosiolog Universitas Muhammadyah Yogyakarta, menulis, “…demokrasi kita tidak didasarkan pada kebencian etnis atau agama…demokrasi kita adalah inklusif atas agama, etnis, dan partai apapun.”

Memilih gubernur atau presiden memang tidak gampang. Itu sebabnya pada awal karangan sudah dikatakan, pilih semangka susah banget apalagi pilih gubernur.

Saat pilih semangka kita bisa memutar-mutar semangka itu untuk memeriksa apa penyok atau tidak. Namun, mana boleh kita memutarmutar kepala cagub untuk memeriksa apa kepalanya penyok atau tidak.

Andar Ismail

0 Comments

Add a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.