PADAMU NEGERI

Diambil dari Warta Jemaat 20 Agustus 2017.

Keringat mengucur deras, nafas memburu, dada terasa sesak, tetapi bocah itu menguatkan hati untuk tetap berlari mengejar seorang perempuan muda cantik yang terlihat berjalan terburu-buru. Sesekali ia berhenti karena kehilangan jejak perempuan yang berjalan sangat cepat itu. Matahari siang yang panas menyengat tidak dihiraukannya, genderang yang berbunyi keras dari perutnya tak diindahkannya, ia terus berlari.

Kejadiannya memang tak terduga. Ia sedang asyik menyemir sepatu hitam salah seorang tamunya di depan sebuah restoran, ketika perempuan berambut hitam panjang dan berkacamata tebal itu bergegas keluar dari restoran. Perempuan itu tampak terburu-buru dan tidak sadar kalau miliknya yang berharga terjatuh. Ia sudah berusaha memanggilnya tetapi perempuan itu tidak mendengarnya. Sejenak ia tampak menimbang, dan akhirnya cepat-cepat diselesaikannya pekerjaannya lalu bergegas lari menyusul perempuan itu. Kotak kayu berisi peralatan menyemir dan tas kulit lusuh miliknya tertinggal tanpa sempat dibawanya. Ia hanya ingat satu hal, ia harus berhasil menemukan dan menjumpai perempuan muda yang tadi melewati tempat duduknya.

Usahanya tidak sia-sia, dengan nafas tersengal ia berhasil bertemu perempuan yang berdiri di hadapannya dengan penuh keheranan. Wajah polosnya penuh keringat, rambutnya berantakan, mata jernihnya memancarkan kelegaan, sementara tangannya terulur ke arah perempuan itu. “Ini tadi jatuh”, katanya sambil menyodorkan sebuah benda berwarna hitam berkilat dan mulus dengan jari-jari kecilnya yang kotor. Perempuan muda itu segera mengenali dompet miliknya. Wajahnya yang keheranan kini tampak begitu bercahaya dan gembira, bocah yang jujur itu baru saja menyelamatkannya.

Lagu “Padamu Negeri” yang tadi nyaring terdengar dari lapangan upacara sekolah, yang bersebelahan dengan gedung pengadilan tempatnya bekerja, sudah selesai berkumandang. Ia kembali dari lamunannya. Lagu itu memang selalu mengingatkannya kepada seseorang, karena lagu itu adalah favoritnya. Dialah Gema, perempuan muda yang 25 tahun lalu dijumpainya, yang kemudian mengadopsinya, sang yatim piatu, menjadi anaknya. Walau sudah tiada, warisan Gema, seorang hakim pejuang yang gigih menegakkan kebenaran dan keadilan, terpatri kokoh pada sanubarinya yang kini melanjutkan cita-cita sang bunda. “Menjadi warganegara yang jujur adalah salah satu cara kita menyukuri kemerdekaan dan menghargai perjuangan dan pengorbanan para pahlawan. Juga cara kita berbakti kepada negeri yang kita cintai”. Begitu kata Gema, 25 tahun yang lalu, di saat pertama kali mereka bertemu.

Kini warisan sang Gema, yang selalu disaksikannya dalam kata dan karya hidup sang bunda, terus bergaung kuat di jiwanya. Ia tahu, perjuangan menegakkan kebenaran dan keadilan penuh dengan tantangan. Namun, itu sepadan dengan mengalami keajaiban, saat menyaksikan cahaya wajah gembira dan bahagia orang yang menerimanya.

0 Comments

Add a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.