MENGAPA HARUS TIDAK JUJUR ?

Diambil dari Warta Jemaat 14 Mei 2017.

Sebuah Fakultas kedokteran di Temple University suatu kali pernah mengadakan suatu penelitian yang menarik tentang ketidakjujuran. Mereka membentuk dua kelompok. Kelompok pertama diminta untuk berkata tidak jujur dan kelompok ke dua diminta untuk berkata dengan jujur. Selama aktivitas itu, respon otak mereka dianalisa melalui MRI. Dan hasilnya sungguh mencengangkan!. Ternyata para „pembohong‟ itu telah mengaktifkan Sembilan area di otaknya, sedangkan orang yang berkata dengan jujur hanya memakai 4 area. Jadi untuk berdusta, ternyata otak bekerja 2 X lebih keras !. Berbohong itu ternyata „melelahkan‟ dan berkata dengan jujur itu „melegakan‟.

Anda tentu pernah mendengar atau membaca kisah tentang Ananias dan Safira. Kata orang, nama biasanya menjadi „harapan‟ atau juga perwujudan dari sikap seseorang. Nama yang bagus, nama yang indah agaknya bukanlah menjadi jaminan untuk hidup yang benar/tulus. Nama Ananias artinya, : Tuhan yang memberikan. Safira artinya : Cantik, yang jelita. Tetapi sayangnya sikap/perilaku mereka tidak sesuai dengan nama yang mereka sandang. Sikap/perilaku mereka berdua penuh dengan ambisi,tipuan, ketidakjujuran.

Dalam suasana pengaruh Pentakosta yang membawa/membuat persekutuan yang erat dalam jemaat, ternyata Ananias dan Safira menjadi „perusak‟ persekutuan dari dalam. Ketika itu orang-orang terlibat dalam kegiatan untuk saling melayani, saling membantu, meringankan beban kehidupan bersama, yaitu dengan memberikan apa yang mereka miliki untuk pelayanan bersama. Ananias dan Safira menjual sebidang tanah, namun sayangnya mereka tidak jujur. Mereka menjual sebidang tanah mereka hanya untuk mengejar/mendapatkan pujian atau nama baik dalam jemaat. Ambisi mereka berdua adalah ambisi yang keliru, demi kepentingan mereka sendiri. Mereka berdua tak ingin tersaingi oleh orang lain dalam hal memberi persembahan, tetapi mereka berdua tidak jujur. Ananias dan Safira mencari jalan untuk mendapat kehormatan dengan membawa korban, tanpa „mengorbankan‟ sesuatu. Terbukti ketika mendapat hasil dari penjualan tanah mereka, Ananias dengan sepengetahuan istrinya Safira, menahan hasil penjualan dan sebagian lagi diserahkan kepada Petrus. Oleh Roh Kudus, Petrus mengetahui ketidakjujuran Ananias. Petrus mengatakan bahwa sesungguhnya hasil penjualan tanah itu adalah hak mereka, tetapi mengapa harus berdusta? Ananias meninggal karena ketidakjujurannya, bukan karena Petrus yang menghukumnya, tetapi Tuhan sendiri yang menghukumnya. Safira, istri Ananias ternyata mendukung perilaku suaminya (pasutri memang harus kompak, seperti Pasutri di Samanhudi). Safira ternyata sepakat dengan dusta suaminya, sehingga di depan Petrus dan Tuhan, ia berani berdusta dan ia pun meninggal menyusul suaminya. Peristiwa ini membuat banyak orang ketakutan. Masih adakah perasaan takut itu pada masa kini???? Perilaku Ananias dan Safira sangat mungkin menjadi perilaku kita, yang dengan sadar tidak jujur terhadap sesama kita. Bahkan kita sering secara berani „bermain-main‟ dengan Tuhan. Mengapa harus tidak jujur?

Seseorang yang bernama Davit Mamet pernah berkata: ”Manusia itu mungkin atau tidak mungkin mengatakan apa yang mereka maksudkan; tetapi mereka selalu mengatakan sesuatu yang dirancang untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan”. Dengan kata lain maksudnya ialah bahwa „sesungguhnya dibalik segala sesuatu yang kita katakan atau lakukan, selalu ada tujuan. Menyatakan kejujuran atau mengungkapkan kebohongan, juga didorong oleh motivasi demi mendapatkan sesuatu, ada hasrat di balik ucapan dan tindakan.

Mereka yang tidak jujur adalah mereka yang menutupi diri begitu rupa di hadapan orang lain, yang secara pasti akan terbuka „kedoknya‟. Biasanya mereka adalah pribadi-pribadi yang tidak memiliki kompetensi yang pantas, namun ingin tampak pantas di hadapan sesamanya. Maka tak ada cara lain, selain melakukan ketidakjujuran. Mereka selalu membutuhkan „penghias‟ bagi dirinya di hadapan sesamanya; entah itu dengan kata-kata yang „manis‟, sikap yang seolah rendah hati atau juga „tebar-pesona‟. Semua itu dilakukan agar mereka kelihatan lebih „wah‟ dari yang lain. Semakin besar ketidakjujurannya, maka semakin tampak hebatlah dirinya. Semakin terbiasa seseorang berkata dan berbuat tidak jujur, maka semakin terbiasalah mereka „menjual‟ ketidakjujurannya. Orang-orang yang tidak jujur memang penuh dengan kreavitas, dan itulah kreavitas yang „liar‟, yang sesungguhnya „memiskinkan dirinya. Dan seseorang yang bernama Josh Billings pernah berkata :”Kejujuran adalah kekayaan yang paling jarang dimiliki oleh manusia”.

Kita memang hidup di zaman yang sulit untuk menemukan kejujuran, dimana-mana! dan orang memang kelihatannya lebih suka untuk „dibohongi‟ melalui kata-kata yang „manis‟, sikap ramah yang palsu, daripada kejujuran atau „apa adanya‟. Karena itu banyak orang yang kemudian menganggap ketiakjujuran adalah hal yang „lumrah‟. Karena itu ketidak jujuran itu selalu cuma-cuma, namun ada akibatnya !, cepat ataupun lambat ia akan „mati‟ nuraninya. Kejujuran memang „menyakitkan‟, namun akan selalu lebih baik dari pada ketidakjujuran yang dikemas dengan „manis‟. Karena itu jauh lebih terhormat menjadi pribadi yang tampak biasa tetapi jujur, dari pada menjadi pribadi yang kelihatannya „wah‟, tetapi penuh dengan kepalsuan. Lebih berbahagia menjadi orang yang tidak dipuja-puji, namun jujur, dari pada dianggap „hebat‟ tetapi hasil dari ketidak jujuran. Alexander Pope berkata: “Orang yang jujur adalah ciptaan Tuhan yang paling mulia”. Orang yang disebut mulia, bukan karena jabatan atau kedudukannya, tetapi karena kejujurannya. Mari kita wujudkan itu dalam perjalanan kehidupan ke depan.

One Comment

Add a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.