MEMBUKA JENDELA HATI

Diambil dari Warta Jemaat 7 Mei 2017

Ada beberapa berita yang tertulis di harian Kompas beberapa waktu yang lalu, yang mungkin dapat mengusik nurani kita. Ada berita yang berjudul “Mereka tergeletak di selasar Rumah Sakit, menunggu kepastian”. Dan ada berita juga tentang seorang ibu yang bayinya disandera di rumah sakit bersalin karena tak mampu membayar biaya persalinan. Mungkin masih banyak lagi berita yang “miris”, yang memilukan hati tentang mereka-mereka yang tak berdaya dan “lemah”.

Ternyata di Negara yang indah dan kaya ini (seperti kata lagu Koes Plus yang berjudul “kolam susu‟), mendapatkan bantuan pelayanan atau bantuan perhatian dan bantuan dana adalah sesuatu yang sering langka. Mendapatkan perawatan yang layak dan keadilan dan kemurahan hati, ternyata bukan milik setiap rakyat “kecil‟. Seorang anak kecil yang bernama Wati yangmenderita tumor di lutut bagian dalam, juga Oding yang mengidap tumor di bagian perut dan juga mengalami gangguan ginjal, harus rela berbaring di selasar unit gawat darurat RSCM. Mereka harus rela menunggu dan menunggu tindakan medis lebih lanjut, tanpa ada kepastian. Mereka memang tidak memiliki kartu BPJS, mereka orangorang „kecil‟ yang „minim‟ informasi. Sungguh tak terbayangkan pedih dan perihnya hati mereka, mereka teronggok bagaikan benda mati yang tak ada harganya. Mungkin malah ada yang bergumam „salah sendiri‟ kenapa tidak mengurus BPJS. Memang ada saja orang yang alih-alih memberikan pertolongan, malah „menghakimi dan sok pinter‟, ketimbang berbuat sesuatu yang nyata untuk meringankan beban mereka. Berita-berita yang ada akan dapat menjadi daftar yang sangat panjang, jika kita rajin membaca berita melalui media cetak maupun media elektronik. Beragam peristiwa yang memilukan terjadi silih berganti dan kadang membuat orang-orang merasa „biasa‟ saja. Yang disebut kemakmuran, kesejahteraan maupun perhatian juga kemurahan hati, sering menjadi „mimpi‟ bagi sebagian besar orang di negeri ini. Karena perhatian dan bantuan yang seharusnya dapat diberikan oleh mereka yang „berada‟, justru terbungkus rapi oleh ego pribadi.

“Buka jendelamu, buka hatimu….”, kalimat ini terukir di sampul sebuah buku yang berjudul “Rumah Tanpa Jendela”. Pesan serupa disampaikan juga dalam film layar lebar yang berdasarkan novel dengan judul yang sama, yaitu bahwa jendela bukan hanya berkaitan dengan rumah, namun juga hati….. di sana dikisahkan tentang impian seorang gadis kecil bernama Rara yang sangat ingin memiliki jendela bagi rumahnya yang kumuh. Juga tentang Aldo, anak laki-laki berusia 10 tahun yang menderita Autis, namun memiliki jendela hati yang teramat lebar, sehingga „kasihnya‟ dapat merangkul banyak anak-anak lain yang hidup dalam kemiskinan.

Lalu dimanakah kita sebagai orang percaya ? masihkah hati kita berjendela, sehingga mampu melihat dan merasakan penderitaan sesama kita ?. kita telah „sukses‟ melewati Minggu-minggu Pra Paskah, perayaan Jum‟at Agung dan merayakan Paskah. Kita bersama-sama diajak untuk merenungkan kasih Tuhan yang sangat luar biasa yang „pengorbanan-Nya‟ memberikan kepada kita „keselamatan‟. Dan apa respon kita terhadap karya Allah dalam Kristus yang sangat besar itu ?. Sudahkah kita membuka jendela hati kita terhadap orang lain yang membutuhkan sapaan persahabatan, sentuhan perhatian ataupun uluran tangan kita ? apakah cukup selama kurang lebih sebulan kita „mengisi‟ amplop penyangkalan diri?. Semoga kita tidak hanya membatasi diri pada ibadah ritual belaka, namun bersedia memberikan diri dalam ibadah yang aktual. Semoga selaku orang-orang percaya yang sudah diselamatkan dengan darah pengorbanan Kristus, kita bersedia membuka jendela hati lebar-lebar, sehingga sinar kasih Tuhan Yesus dapat kita serap melalui jendela itu, untuk kemudian kita pancarkan kepada sesama kita dan pada saat yang bersamaan, memancar pula kepada Dia, Sang Cinta itu sendiri…

Ada sebuah puisi yang saya dapatkan dari seorang rekan yang kiranya dapat menyadarkan kita :

Sebetulnya aku ingin sekali
Membiarkan jendela ini selalu terbuka
Agar dapat kutatap pancaran kasih setia-Mu
Yang tak pernah berubah sejak dahulu;
Agar dapat kureguk sejuk sapaan cinta-Mu
Yang setiap hari selalu baru.
Sebetulnya aku ingin sekali Membiarkan jendela ini selalu terbuka
Untuk mencoba berbagi kepada ciptaan-Mu
Terutama bagi yang telah Kau cipta Seturut gambar dan rupa-Mu
Karena lewat jendela ini pula Aku melihat-Mu di wajah mereka
Dalam berbagai warna yang berbeda-beda
Karena bukankah hidup ini bagaikan pelangi?
Dan setiap warna punya keindahannya sendiri?
Maafkan daku, Tuhan
Kadang kubiarkan jendela hatiku tertutup rapat
Dan aku bersibuk diri dibaliknya, demi diri sendiri
Sehingga Engkau pun tak dapat masuk
Dan hidupku menjadi kering dan busuk……..

0 Comments

Add a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.