Membarui Hubungan Menantu-Mertua (Bagian ke- 2)

Diambil dari Warta Jemaat 15 Januari 2017.

Itulah penyebab rusaknya hubungan antar orang. Suami merasa kurang diperhatikan istri, istri merasa kurang diperhatikan suami. Begitu juga karyawan dan majikan. Tetangga dan tetangga.

Kita merasa kurang dihargai oleh tetangga. Itu penilaian diri kita. Kita adalah orang yang kurang dihargai. Akibat konsep diri seperti itu kita merasa jengkel kepada dia. Makin lama kita makin jengkel. Rugi kita sendiri.

Cobalah untuk mengganti dan membarui konsep diri kita. Ganti konsep diri dari “Aku orang yang kurang dihargai” menjadi “Aku orang yang bisa menghargai”. Lalu mulailah menghargai tetangga itu. Senyumlah kepadanya. Sapalah dia. Berilah perhatian kepadanya.

Apa yang akan terjadi? Sangat mungkin tetangga itu sedikit demi sedikit akan mulai memberi perhatian kepada kita. Oleh karena kita memberi perhatian, kita akan diberi perhatian. Yesus berkata, “Berilah dan kamu akan diberi…” (Luk. 6:33a).

Ucapan Yesus itu adalah pedoman untuk hubungan antar orang, antar golongan, antar bangsa, antar agama, dan lainnya. Jika kita menghargai orang lain, orang itu akan menghargai kita. Simak logika Yesus untuk pedoman itu, “… sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu” (ay. 33c)

Mengapa ibu mertua tadi tidak diberi perlakuan manis? Oleh sebab ia sendiri pun tidak memberi perhatian manis. Mertua dan menantu itu setali tiga uang (lih. “Sebotol racun Cinta” di Selamat Berkerabat).

Itulah pendekatan pedagogis saya dalam konflik menantu-mertua. Saya tidak menasihati, sebab dalam pedagogi tidak dipakai cara menasihati. Yang saya lakukan adalah memberdayakan orang itu untuk mengenali citra dirinya, yaitu bahwa ia sebetulnya adalah pribadi yang punya perhatian, namun belum memanfaatkan potensinya. Akibatnya ia kurang memberi perhatian sehingga ia pun kurang diberi perhatian.

Sebetulnya, cerita ini masih panjang. Ada satu pihak yang belum disebut padahal ia adalah korban yang hatinya paling terluka. Ia adalah sang putra. Dalam konflik ini ia jadi bumper yang babak belur ditabrak dari kiri dan kanan. Ia tulus mencintai ibunya dan tulus mencintai istrinya, namun justru karena ketulusannya ia disalah pahami oleh kedua belah pihak. Dengan simpati nanti saya akan menulis bab tersendiri.

Setelah menantu dan mertua itu mulai teduh, apakah saya mempertemukan mereka? Tidak! Tidak pernah! Pertama, karena proses pemulihan hubungan sebaiknya berlangsung alamiah antara yang bersangkutan. Kedua, karena pertemuan seperti itu mudah merosot menjadi seremoni, padahal yang perlu adalah diplomasi.

Bahkan, dalam banyak kasus pihak menantu tidak tahu bahwa selama beberapa bulan itu berkali-kali saya berkunjung ke mertua. Sebaliknya mertua pun tidak tahu bahwa saya berkali-kali mengunjungi menantu.

Pada awal bab ini ada pertanyaan: bagaimana caranya saya mendekati pihak terlapor? Pihak terlapor tidak boleh tahu bahwa ia dilaporkan sebab ia akan merasa dipermalukan. Lalu bagaimana caranya saya berkunjung berkali- kali tanpa dia tahu bahwa ia adalah terlapor?

Begini caranya. Saya berkunjung bukan sebagai pendeta, melainkan sebagai seekor kura-kura.

Kura-kura? Ya, sebagai kura-kura di pinggir perahu, alias … pura-pura tidak tahu.

Andar Ismail

0 Comments

Add a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.