Membarui Hubungan Menantu-Mertua (Bagian ke- 1)

Diambil dari Warta Jemaat 8 Januari 2017.

Perang dingin yang sering terjadi dalam keluarga adalah antara menantu perempuan dan ibu mertua. Golongan usia yang rawan adalah 30-40 tahun pada menantu dan 60-70 tahun pada mertua. Begitulah pengamatan saya sebagai pendeta GKI Samanhudi.

Darimana saya mendapat informasi adanya konflik itu? Pihak mana yang melaporkan? Biasanya pihak ibu mertua. Kadang-kadang ada juga dari pihak menantu.

Apakah saya langsung mempertemukan kedua pihak yang berselisih itu? O, tidak! Tentu tidak! Bukan begitu caranya. Cara begitu malah akan mempertajam konflik, sebab pihak terlapor pasti akan merasa dipermalukan oleh pihak pelapor.

Lagi pula kalau begitu caranya bisa jadi perang dingin akan meletus menjadi perang terbuka. Nah, mana sanggup saya melerai seorang menantu yang sewot dan seorang mertua yang senewen? Bisa-bisa malah saya dicakar dari kiri dan kanan.

Lalu bagaimana caranya? Apa pendekatan saya saat pertama kali menjumpai pihak terlapor? Sebetulnya, dari sepuluh kasus konflik keluarga, tidak lebih dari satu yang dilaporkan. Sisanya muncul tersirat atau terdeteksi dalam percakapan biasa. Keluarga cenderung enggan melaporkannya sebab menepuk air di dulang akan memercik muka sendiri.

Tentu saja bentuk, isi persoalan, dan intensitas tiap konflik berbeda. Akan tetapi, polanya hampir serupa. Ini lebih kurang keluhan seorang mertua, “Pak Andar sendiri pernah bilang, anak saya sifatnya fleksibel dan gampang cocok dengan siapa saja selama jadi majelis gereja. Tapi dia terlalu takut pada istrinya. Mau datang ke rumah saya, musti lapor kepada istri. Mau membelikan sesuatu untuk saya musti minta ijin istri. Menantu saya itu enggak ketulungan judesnya. Ia enggak pernah manis kepada saya. Selalu ketus. Saya enggak dapat perhatian. Saya enggak dihargai.”

Sekarang kita dengar keluhan pihak menantu, “Tiap kali bertemu Pak Andar di gereja, Mami langsung ramah dan manis banget. Mami ketawaketawa. Padahal di rumah ia diktator galak seperti Queen Victoria atau Margareth Thatcher. Bicaranya selalu ketus. Ketika kami baru menikah, ia menghargai saya. Akan tetapi sesudah itu ia super judes. Tak pernah ia ramah pada saya. Saya capek-capek masak lalu membawanya ke rumah Mami, tetapi jangankan memuji prakarsa saya, bilang terima kasih pun tak pernah. Ia tak pernah memperhatikan perasaan saya.”

Demikian lebih kurang keluhan mertua dan menantu. Sekarang mari kita bandingkan kedua keluhan itu. Silakan baca ulang. Isinya tentu berbeda. Namun, apakah Anda juga menemukan sejumlah persamaan? Sebetulnya, inti atau substansi kedua keluhan itu sama.

Apa persamaannya? Baik mertua maupun menantu merasa : aku kurang dihargai, aku kurang diperhatikan, aku diperlakukan ketus dan kasar, aku diperlakukan kurang ramah, aku diperlakukan kurang baik, aku kurang disayang.

Kedua orang itu sama perasaannya: merasa kurang. Kurang! Mertua mengeluh, “Menantu saya kurang menghargai saya.” Menantu mengeluh, “Mami kurang menghargai saya.” Sami mawon!

Andar Ismail

0 Comments

Add a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.