KAYA DI HADAPAN ALLAH

Diambil dari Warta Jemaat 19 Maret 2017.

Belakangan ini, orang semakin materialistik, yaitu hidup yang menekankan materi, atau menjadikan materi segala-galanya. Segala sesuatu diukur dari materi, sehingga yang selalu dicari adalah materi, tak soal, halal atau haram yang penting mendapatkan materi (uang, kekayaan dan harta benda). Di samping materialistik, orang pada zaman ini pun semakin hedonis (mengutamakan kesenangan dan kenikmatan, menjadikan materi sebagai tujuan hidup), yang dicari adalah kesenangan dan kenikmatan, makan enak dan belanja (konsumerisme).

Selain kedua hal di atas, orang semakin egosentris (memusatkan segala sesuatu hanya kepada kepentingan diri sendiri), yang penting “aku” yang lain, tidak dipedulikan. Orang yang egosentris, cenderung tidak memerhatikan orang lain, yang diperhatikan hanya diri sendiri dan kepentingannya. Sikap yang makin materialistik, hedonis dan egosentris pada akhirnya membuat orang ingin cepat kaya. Berlaku tidak jujur dengan cara korupsi, baik sekala kecil maupun besar, menipu dan curang.

Keinginan memiliki banyak harta, tak hanya terjadi pada zaman moderen seperti sekarang, tetapi juga sudah terjadi sejak zaman Yesus, ribuan tahun yang lalu. Keinginan memiliki banyak harta dan menjadi kaya, bukan saja karena orang ingin hidup senang dan nikmat, tetapi juga disebabkan oleh rasa khawatir kekurangan. Maka banyak orang ingin menjadi kaya karena kekayaan dapat menjadi jaminan ketenangan hidup.

Dalam Lukas 12:19-21, dikatakan, “Sesudah itu aku akan berkata kepada jiwaku: Jiwaku, ada padamu banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah! Tetapi firman Allah kepadanya: Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti? Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah.”

Firman di atas mengingatkan, bahwa kita akan mengalami akhir dari sebuah kehidupan, yaitu kematian. Kematian adalah peristiwa yang tidak pernah memilih waktu kapan, situasi bagaimana, disebabkan musibah, sakit tiba-tiba atau sakit yang sudah lama. Kematian tak pernah bisa diketahui terlebih dahulu, hanya diketahui Allah dan menjadi rahasia Allah. Oleh sebab itu, kita diajak untuk mengisi hidup yang Tuhan anugerahkan dengan benar. Jangan sampai hidup kita sia-sia, yaitu ketika kita memperbanyak harta, menjadi kaya hanya untuk diri sendiri, hanya untuk memuaskan keserakahan, hanya untuk menutupi kekhawatiran dan hanya untuk kesenangan dan kenikmatan. Orang yang demikian, kata Yesus adalah orang yang bodoh.

Mengapa bodoh? Karena orang kaya tersebut menggantungkan hidupnya kepada harta. Dengan kekayaan yang dimilikinya, dikira membuat hidupnya tenang. Ungkapan, “bertahun-tahun lamanya” menggambarkan hidup orang kaya tersebut lama, dan selamanya dapat bersenang-senang. Kemudian Tuhan mengingatkan, bahwa prinsip hidup seperti itu adalah kebodohan. Orang kaya itu, tak menyadari jika tiba-tiba mati, jiwanya diambil Tuhan. Kemudian, kekayaannya untuk siapa? Apakah dirinya masih bisa menikmati kekayaan yang sudah dikumpulkan itu? Bukankah itu kesia-siaan?

Dalam hal ini, Tuhan tidak membenci orang kaya. Tuhan juga tidak melarang hidup kaya. Namun, Tuhan ingin agar kekayaan kita peroleh dengan benar. Merupakan hasil kerja keras bukan hasil korupsi, penggelapan uang atau tindakan yang tidak jujur. Tidak mendapatkan kekayaan di atas penderitaan orang lain. Misalnya, meraup keuntungan sebanyak mungkin tetapi karyawan yang bekerja membuat usaha kita maju, hidupnya tidak sejahtera, tidak diperhatikan dan diperlakukan dengan baik. Kekayaan yang bukan hasil pemerasan, atau karena merima suap. Kekayaan yang kita peroleh dengan benar adalah berkat Tuhan, maka kita tak boleh egosentris, tidak mementingkan diri sendiri dan tidak tamak, karena egosentrisme dan ketamakan adalah suatu kebodohan.

Kita harus berbagi. Jika kekayaan dihayati sebagai berkat Tuhan, maka kita pun harus menjadi saluran berkat bagi sesama yang hidupnya tak beruntung dan dalam kesusahan, karena kekayaan yang kita miliki tak dibawa mati. Jadilah orang kaya di hadapan Allah, yaitu orang yang menggantungkan hidupnya kepada Allah bukan kepada harta kekayaannya. Minggu Prapaskah adalah minggu penyangkalan diri, selama Minggu-minggu Prapaskah kita maju ke depan altar memberi persembahan. Membawa kepada Tuhan Amplop Penyangkalan Diri. Melalui persembahan yang kita berikan, maka kita telah melakukan tindakan berbagi kepada sesama manusia yang membutuhkan, seperti yang Tuhan kehendaki.

Pdt. Iwan Tri Wakhyudi

0 Comments

Add a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.