INDAHNYA BERBAGI

Diambil dari Warta Jemaat 13 Agustus 2017.
Di sebuah stasiun kereta, seorang perempuan setengah baya tampak duduk membaca buku sambil menunggu kedatangan kereta. Seorang bocah laki-laki berpakaian kumal dan kotor mendekatinya. “Bu saya lapar, saya ingin membeli makanan tapi saya tidak punya uang”. Perempuan itu menatap bocah yang berdiri di hadapannya, wajahnya tampak pucat. Ia berdiri lalu pergi ke sebuah warung dan membeli sebungkus makanan dan minuman kemudian memberikannya kepada sang bocah. Anak itu segera duduk di lantai, ia langsung membuka bungkusan dan mulai makan dengan terburu-buru, sementara perempuan itu melanjutkan membaca bukunya. Tiba-tiba perempuan itu melihat anak tersebut berhenti makan dan membungkus kembali sisa makanan dengan tergesa-gesa. Perempuan itu mengira anak itu bermaksud membuang sisa makanan ke tempat sampah. Ia berdiri menghampiri si anak dan memarahinya. “Adik saya juga lapar bu, dia belum makan, nasi ini untuknya”, dengan terbata-bata sang bocah berkata kepada perempuan itu. Tak lama kemudian ia berlari keluar sambil memegang bungkusan sisa makanannya.

Ibu Teresa pernah menceritakan pengalaman yang berkesan dari sebuah keluarga miskin di Kalkuta. Ketika itu ia mendengar ada keluarga miskin dengan beberapa orang anak yang kelaparan selama beberapa hari. Bergegas ia datang dan membawa satu kantong beras untuk keluarga itu. Ibu dari keluarga miskin itu menerima kantong beras itu, lalu membaginya menjadi dua bagian. Setelah itu ia pergi keluar membawa kantong beras yang berisi setengah beras yang sudah diberikan ibu Teresa. Ketika ia kembali ibu Teresa bertanya ke mana ia pergi membawa berasnya. Wanita itu menjawab, ia memberikan setengah dari beras yang didapatnya kepada tetangganya yang juga miskin dan kelaparan. Ibu Teresa tersentuh oleh tindakan ibu tersebut, yang dalam kekurangannya masih mengingat dan memperhatikan orang lain. Ia mau berbagi walau sedikit dengan tetangganya yang kelaparan.

Hidup saling memberi dan berbagi sesungguhnya memang indah. Mengutip perkataan Sir Winston Churcill, “Kita membuat kehidupan dengan apa yang kita dapatkan, tetapi kita juga membuat kehidupan dengan apa yang kita berikan.”

Hal penting tentang memberi dan berbagi, bukan soal banyaknya yang dapat kita berikan, tetapi berapa banyak cinta yang mendasari pemberian kita. Kita dapat memberi tanpa cinta, tetapi mencintai pasti memberi. Memberi walau sedikit, tetapi dengan cinta yang besar, akan menciptakan keajaiban. Ajaibnya, seperti kata Karl Menninger, “Cinta menyembuhkan orang, baik yang memberikan maupun yang menerimanya”.

0 Comments

Add a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.