Hoak

Diambil dari Warta Jemaat 19 Februari 2017.

“Hoax” Terus Tebar Benih Konflik dan Literasi Rendah Ladang “Hoax”, itu adalah headline suratkabar Kompas dua hari berturut-turut, tanggal 6 dan 7 Februari 2017 yang lalu. Sedemikian seriusnya masalah hoax sehingga suratkabar beroplah terbesar ini sampai mengangkatnya sebagai headline dua hari berturut-turut.

Menurut Google Translate kata hoax diterjemahkan berita palsu, lebih tepat mungkin berita bohong. Sebetulnya berita palsu atau berita bohong sudah ada sejak lama, bahkan Tuhan sendiri dalam sepuluh firmanNya melarang manusia untuk bersaksi dusta. Dengan kemajuan teknologi informasi saat ini, penyebaran hoax menjadi semakin mudah dan merajalela. Media sosial menjadi sarana yang paling sering dipakai dalam penyebaran berita-berita yang seringkali menyesatkan ini, dan yang sangat memprihatinkan adalah bahwa hoax mengakibatkan terjadinya perselisihan bahkan benturan di antara kelompok masyarakat. Pemerintah menyadari seriusnya penyebaran informasi palsu yang apabila dibiarkan dapat mengancam persatuan bangsa. Instansi terkait telah dan akan terus berusaha untuk mengatasi hal ini, bahkan komunitas Masyarakat Indonesia Anti Hoax telah terbentuk.

Gereja dan anggotanya sebagai bagian dari masyarakat tentu sedikit banyak terkena imbasnya. Berapa kali dalam sehari kita menerima hoax lewat gadget kita? Berbagai macam jenis hoax kita terima hampir tiap hari, dari hal- hal yang ringan seperti anjuran untuk mengkonsumsi makanan atau sayuran dan buah-buahan tertentu yang dapat menyembuhkan 1001 macam penyakit serta menurunkan berat badan dalam waktu singkat; berita gosip murahan sampai hal-hal yang “berat” & “serius” terkait politik dan ekonomi. Bagaimana respon kita terhadapnya? Segera delete atau clear chat, atau malah save, share dan forward sebanyak-banyaknya kepada nama-nama yang ada di daftar contact atau group? Berapa banyak group yang ada di ponsel pintar kita?

Berapa nama yang ada pada setiap group? Sedemikian mudahnya hoax menyebar, bisa puluhan bahkan ratusan yang dalam sekejap hinggap pada ponsel masing-masing, dan kita bisa menjadi “agen” atau “distributor” hoax. Begitu cepat dan gesitnya jari jemari kita beraksi sebelum membaca tuntas, dan otak belum mencerna setiap pesan yang diterima.

Pada masa menjelang Pilkada yang lalu, gelombang hoax makin menjadi-jadi, bahkan bukan lagi berita palsu atau berita bohong, tapi fitnah dan ujaran kebencian (hate speech) menerjang para kandidat, sangat memprihatinkan. Wabah virus hoax sepertinya sudah mendunia, di Prancis yang pada waktu dekat akan menyelenggarakan Pemilu juga mengalami hal yang sama. Sebuah perusahaan media sosial ternama bekerjasama dengan sejumlah media arus utama berusaha mencegah publikasi berita-berita bohong.

Bagaimana dengan kita sebagai komunitas orang percaya menghadapi hal ini? Sebetulnya tidaklah terlalu sulit, cukup dengan membaca dengan seksama berita atau pesan yang muncul di ponsel atau perangkat gadget yang lain, dengan kesadaran dan pemahaman yang baik, kita dapat memilah mana yang benar dan mana yang hoax. Jangan terburu-buru meneruskan kepada teman atau grup, lebih baik segera hapus saja apabila kita yakin atas informasi yang tidak benar. Sebagai umat Tuhan selayaknya kita bertindak dan berbuat sesuai firmanNya: Janganlah engkau pergi kian ke mari menyebarkan fitnah di antara orang-orang sebangsamu; janganlah engkau mengancam hidup sesamamu manusia; Akulah TUHAN (Imamat 19 : 16). Baiklah kita menggunakan alat komunikasi dengan sebagaimana mestinya. Memang sering tidak bisa dihindari kita menerima pesan-pesan yang bermuatan kebohongan, namun janganlah kita tanpa memahami secara utuh dan tanpa verifikasi, dengan mudahnya menyebarkan informasi tidak benar tersebut. Tentunya kita tidak ingin menjadi sumber berita yang tidak bisa dipertanggung-jawabkan apalagi dalam komunitas gereja kita sendiri. “Karena itu buanglah dusta dan berkatalah benar seorang kepada yang lain, karena kita adalah sesama anggota.” (Efesus 4 : 25). Oleh karenanya kita harus cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati, dan ingat: Jangan mau dibohongi pakai………..hoax

Pnt. Eko Setiawan

0 Comments

Add a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.