HANYA KARENA ANUGERAH-NYA

Diambil dari Warta Jemaat 30 April 2017.

Saya yakin Anda mengenal siapa Christopher Columbus. Ia adalah penemu benua Amerika. Tetapi tahukah Anda ceritera dibalik penemuan yang fenomenal itu ? Columbus dilahirkan di Genoa pada masa ketika semua orang berpikir bumi adalah “rata‟. Pada usia 15 tahun, Columbus telah menjadi pelaut dan berpikir bahwa bumi tidaklah rata, melainkan “bulat‟ , sebagaimana layaknya matahari dan bulan. Ketika itu banyak orang yang mentertawakan pendapatnya dan menantangnya untuk membuktikan hal itu. Columbus berpendapat bahwa dengan berlayar menuju arah Barat dari Portugal, ia akan sampai ke Asia. Dengan di danai oleh Ratu Spanyol, berangkatlah Columbus bersama dengan beberapa anak buah kapalnya. Setelah 5 hari perjalanan, kemudi kapalnya rusak dan disusul juga dengan rusaknya kompas, alat penunjuk arah. Ditimpa oleh musibah ini, Columbus tidak menyerah, ia meneruskan pelayarannya. Setelah mengarungi samudera sejauh 2.300 mil, pada tanggal 12 Oktober 1842, Christopher Columbus TIDAK mencapai tujuannya. Ia GAGAL mencapai Asia, tetapi ia menemukan sebuah benua baru yang ia namakan Amerika !

Ada sebuah kisah lain yaitu apa yang terjadi di dalam laboratorium perusahaan 3 M yang berpusat di Negara bagian Minnesota Amerika Serikat. Seorang ilmuwan berusaha untuk menemukan lem/perekat yang paling kuat. Usahanya selama bertahun-tahun tidak membuahkan hasil yang diinginkan. Lem yang ditemukan malah dengan mudah lepas. Namun, ia berusaha melihat adanya kesempatan lain dan kemudian ia menemukan apa yang kita kenal sekarang sebagai “Post It‟. Yaitu sebuah produk notes yang dapat ditempel dimana saja dan memiliki daya rekat yang lemah, dan dapat dipakai untuk meninggalkan pesan tanpa merusak permukaan yang ditempel. Sebuah penemuan yang justru memberikan “sejarah baru‟.

Columbus yang hanya mau mencapai Asia itu malah mengalami kegagalan, namun justru menemukan Amerika. Begitu pula dengan Maria Magdalena, yang semula hanya mau menjenguk Gurunya, mengalami kegagalan, tetapi ia justru menemukan Yesus yang bangkit. Jika Columbus bersukacita karena melihat melihat benua yang baru, yang sebenarnya sudah ada sedari dulu kala . Maria bersukacita karena ia melihat Guru dan Tuhannya yang semula mati, dikuburkan ,tetapi kini hidup dan bangkit sebagai Sang Pemenang. Sehingga ia dapat bersaksi, “Aku telah melihat Tuhan”. Ia diizinkan Tuhan menjadi orang pertama yang berjumpa, melihat dan berkata-kata dengan Yesus Kristus, setelah kebangkitan-Nya. Peristiwa itu sangat dahsyat dan merupakan goresan yang sangat mendalam bagi jiwa, hati dan seluruh kehidupan Maria Magdalena. Ia mendapatkan pengalaman dan kesan yang begitu hebat dari perjumpaannya dengan Kristus yang telah berhasil membebaskan umat-Nya dari kuasa maut.

Maria telah melihat Yesus tersalib (Yohanes 19 : 25), juga melihat Yesus dikuburkan (Markus 15 : 47), maka begitu ia melihat Yesus sudah bangkit, lenyaplah segala kepedihan hatinya dan digantikan dengan sukacita yang besar. Ke Kristenan yang mengutamakan Kebangkitan Kristus haruslah bertitik-tolak dari sukacita yang besar yang akan mewarnai seluruh aktivitas dan perjuangan hidup. Segala macam problem hidup kita, kejahatan, kekejian dan ketidakjujuran yang terjadi di dunia ini, tidaklah seharusnya melunturkan sukacita kita selaku umat yang sudah diselamatkan.

Karena menjadi orang pertama yang melihat Yesus yang bangkit, maka Maria Magdalena juga lah yang menjadi orang pertama yang memberitakan Injil Kebangkitan Kristus. “fresh from the oven‟ ketika ia bersaksi :”aku telah melihat Tuhan”. Semangatnya itu patut kita warisi, walaupun kita tidak memiliki pengalaman unik seperti Maria.Tetapi kita juga “sudah melihat‟ Tuhan di dalam hidup kita, ketika Tuhan menyapa kita melalui Firman-Nya, melalui peristiwa-peristiwa yang biasa ataupun juga yang menggetarkan jiwa, melalui orangorang yang Ia utus untuk menjumpai kita dan melalui campur tangan Nya di dalam hidup kita sehari-hari. Yesus Kristus yang sudah menjumpai kita, menghendaki agar kita pun mau menjumpai dan menyapa sesama kita, untuk melihat, merasakan dan mengalami sukacita bersama. Sukacita yang melegakan, sukacita yang membangkitkan pengharapan, sukacita yang memperbaharui hubungan dengan siapapun. Sukacita yang menjadi berkat bagi mereka yang ada dalam kepedihan, kekecewaan, keputus-asaan dan sukacita bagi mereka yang „tersisih‟. Adakah hal itu juga terjadi pada kita yang telah merayakan kebangkitan Kristus? Apakah orang-orang di sekitar kita ikut juga mengalami sukacita Paskah? Sayangnya, begitu perayaan Paskah berlalu, maka berlalu juga lah segala sukacita dan kita hidup lagi hanya bagi diri sendiri, sibuk dengan urusan sendiri sendiri. Jalan sendiri-sendiri dan sendiri jalan-jalan!, tidak menjadi berkat, bahkan membuat kebingungan dan kekecewaan bagi yang melihat kehidupan dan pelayanan kita.

Apa yang dialami oleh Maria Magdalena adalah sebuah kasih karunia. Ia menjadi saksi-Nya bukan karena ia adalah orang pandai dengan berbagai titel, bukan juga karena ia adalah orang tercantik atau pandai “omong‟ doang, bukan karena ia pandai “tebar pesona‟. Semua hanyalah karena kasih Karunia Tuhan. Karena itu menjadi Pendeta, penatua, pengurus, aktifis, bahkan anggota biasa yang berhasil menjadi pelayan-pelayan-Nya dan saksi-Nya, itu hanya dimungkinkan semata-mata karena kasih karunia dari Tuhan.

0 Comments

Add a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.