ENGKAU TETAP ALLAHKU…

Diambil dari Warta Jemaat 5 Maret 2017.

Menjadi Kristen (baca: pengikut Kristus) tidak steril dari masalah atau pergumulan hidup. Menjadi Kristen, tak berarti hidup kita selalu lancar dan sukses. Pada waktu tertentu kadangkala kita diperhadapkan pada pergumulan hidup yang tak mudah. Iman dan kesetiaan sebagai pengikut Kristus akan diuji oleh kenyataan hidup. Tokoh Alkitab yang memiliki iman yang teguh pun terkadang dapat diguncangkan berbagai pergumulan sampai hampir terhempas. Misalnya, Pemazmur yang memiliki hati yang tulus dan bersih. Namun, nyaris tergelincir dan terpeleset oleh keiri-hatian terhadap kelimpahan dan kesenangan hidup orang fasik.

Pemazmur mengalami krisis iman. Di satu pihak, ia menyadari bahwa Allah itu baik bagi mereka yang tulus dan bersih hatinya, tetapi di pihak lain, ia tak dapat mengerti mengapa Allah seakan-akan memberkati orang fasik, sedangkan dirinya harus mengalami banyak kesukaran. Ia sedikit pun tak ingin menyangkali kesetiaannya kepada Tuhan walau ia merasakan bahwa semua upayanya untuk mempertahankan hati yang bersih merupakan kesia-siaan (Maz 73:13-16). Di tengah puncak krisisnya, pemazmur menemukan fokus dan orientasi hidup yang tepat. Ia menyadari bahwa dalam perspektif kekekalan, akhir hidup orang fasik adalah sia-sia, sehingga ia menyadari bahwa keberhasilan sementara di bumi bukanlah kebutuhannya yang utama. Kebutuhannya yang utama adalah Allah sendiri, warisan yang tidak akan pernah diambil darinya.

Ia berkata dalam Mazmur 73:21-28, “Ketika hatiku merasa pahit dan buah pinggangku menusuk-nusuk rasanya, aku dungu dan tidak mengerti, seperti hewan aku di dekat-Mu. Tetapi aku tetap di dekat-Mu; Engkau memegang tangan kananku. Dengan nasihat-Mu Engkau menuntun aku, dan kemudian Engkau mengangkat aku ke dalam kemuliaan. Siapa gerangan ada padaku di sorga selain Engkau? Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi. Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya. Sebab sesungguhnya, siapa yang jauh dari pada-Mu akan binasa; Kau binasakan semua orang, yang berzinah dengan meninggalkan Engkau. Tetapi aku, aku suka dekat pada Allah; aku menaruh tempat perlindunganku pada Tuhan ALLAH, supaya dapat menceritakan segala pekerjaan-Nya.”

Pemazmur tetap beriman kepada Allah, betapa pun pahitnya hidup. Merasa seperti hewan, tetapi ia tetap mau dekat dengan Tuhan. Ia yakin, bahwa Allah akan menuntun dan mengangkatnya dalam kemuliaan. Ia berkata, sekalipun dagingku, yaitu tubuhku. Sekalipun hatiku, yang berarti jantungku, hidupku habis lenyap… gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selamalamanya… Dari seruannya, Pemazmur bukan saja tak takut menderita, tetapi mati pun ia tak takut karena Tuhan menuntun dan mengangkatnya. Melalui pembaharuan orientasi hidup yang tertuju pada kekekalan, pemazmur “menantang” kita untuk memiliki iman yang dewasa di tengah dunia yang penuh derita, luka, iri hati dan kejahatan.

Maka marilah dalam memasuki minggu-minggu prapaskah, yang menghantar kita untuk menghayati perjalanan Kristus melalui penderitaan jalan salib dalam gumul dan juang menuju kematian-Nya, kita memiliki orientasi hidup dengan cara pandang, baik seperti pemazmur yang berkata “Engkau tetap Allahku” yang tetap beriman kepada Allah betapapun beratnya pergumulan, maupun seperti Kristus. Agar kita dapat menghadapi dan menjalani pergumulan hidup di dunia ini.

Pdt. Iwan Tri Wakhyudi

0 Comments

Add a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.