BUKAN SEKEDAR DIKASIHI

Diambil dari Warta Jemaat 2 Juli 2017.

Saya suka sekali menyaksikan tayangan video di internet, tentang
bagaimana seseorang/ sekelompok orang/ sesama binatang yang
melakukan penyelamatan terhadap seekor binatang yang sedang dalam
kondisi yang tidak kondusif. Biasanya binatang tersebut berada dalam
kondisi kritis dan tinggal menunggu kematian saja, entah karena
kelaparan, tidak ada yang merawat, dianiaya, lolos dari perburuan,
kecelakaan, terjerat, dsb. Menyaksikan kisah penyelamatan tersebut –
mulai dari hampir mati hingga akhirnya sembuh total dan menemukan
kehidupan lagi – sungguh membuat terharu. Indah sekali melihat mahluk
hidup yang menemukan hidupnya kembali.

Terlebih kita manusia sebagai mahluk sosial, kita tidak mungkin
bisa hidup seorang diri. Untuk menopang kehidupan yang terus berjalan,
kita membutuhkan dan sekaligus dibutuhkan orang lain. Meskipun dalam
praktiknya, hubungan saling membutuhkan tersebut seringkali tidak
berjalan sebagai mana mestinya.

Sebagai orang percaya kita patut bersyukur karena kita
mempunyai Tuhan Yesus yang menjadi Sahabat sejati dan Juruselamat
kita. Bahkan Tuhan sendirilah yang menjadikan kita sahabat-Nya.
Tuhan Yesus berkata, “Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab
hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut
kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala
sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku. Bukan kamu yang memilih
Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu.” (Yohanes 15:15-16a). Tidak
hanya itu, Ia pun rela mengorbankan nyawaNya bagi kita. Kalau Tuhan
rela mengorbankan nyawaNya, masakan Dia akan tinggal diam ketika
kita sedang dalam permasalahan yang berat?

Meskipun teman, sahabat dan orang-orang yang kita kasihi di
dunia ini sewaktu-waktu mungkin saja tidak peduli terhadap kita, janji-
Nya, “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali
tidak akan meninggalkan engkau.” (Ibrani 13:5). Penyertaan Tuhan
sempurna. Tuhan berjanji bahwa Dia tidak akan membiarkan dan
meninggalkan kita bergumul sendirian. Karena itu jangan pernah
merasa sendirian, ada Tuhan Yesus di samping kita. Kalau kita percaya
bahwa Dia adalah Juruselamat dan Sahabat, maka sebesar apa pun
persoalan yang kita alami, seberat apa pun pergumulan yang ada,
marilah kita berkata, “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia
yang memberi kekuatan kepadaku.” (Filipi 4:13).

Akan tetapi, sebagai orang percaya kita bukan hanya
diperlakukan sebagai sahabat oleh Kristus, melainkan harus juga
menjadi sahabat bagi orang lain. Tidak hanya dikasihi tetapi juga
mengasihi. Kasih dan persahabatan yang Tuhan berikan kepada kita,
menjadi dasar untuk kita mengasihi dan bersahabat dengan orang lain.
Ayat Yohanes 13:34-35, yang dibalut melodi indah, menjadi dasar bagi
kita untuk bersahabat dan mengasihi sesama. Mari kita nyanyikan,

PKJ 275 “Perintah Baru”
Perintah Baru kuberi padamu
Agar di antara kamu saling mengasihi
Sama seperti Aku mengasihi kamu,
Sehingga orang kan tahu engkau muridKu,
jikalau saling mengasihi.
Sehingga orang kan tahu engkau muridKu,
jikalau saling mengasihi.

Kita mengasihi bukan sekedar melakukan perbuatan baik, apalagi
jika kita hanya berhenti pada “dikasihi”. Kita dikasihi dan mengasihi
karena kita adalah murid-Nya, yang sudah dikasihi-Nya terlebih dulu.
Sebagai pengikut dan sahabat Kristus, kita juga harus mewarisi gaya
hidup-Nya. Tuhan beserta kita.

0 Comments

Add a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.