Betulkah Yesus Menodai Agama? (Bagian ke-2)

Diambil dari Warta Jemaat 28 Mei 2017.

Kemudian ketua sidang pun menunggu reaksi Yesus. Akan tetapi Yesus diam saja.

Langsung ketua sidang pengadilan itu berdiri. Perhatikan kata berdiri ini. “Lalu Imam Besar itu berdiri dan berkata …” (Mat. 26:62). Kitab Misnah yang terbit 170 tahun kemudian sebagai buku rabinik mencatat tradisi lisan bahwa ketua sidang berdiri jika sebuah tuduhan sudah terbukti. Jika tradisi itu sudah berlaku pada zaman Yesus maka perbuatan ketua sidang itu merupakan sugesti yang memengaruhi hakim-hakim yang lain.

Sambil berdiri ketua sidang mengajukan pertanyaan tentang pokok lain, “Demi Allah yang hidup, katakanlah kepada kami, apakah Engkau Mesias, Anak Allah, atau tidak” (Mat. 26:63).

Yesus menjawab, “Engkau telah mengatakannya…” (Mat. 26:64). Versi Lukas lebih jelas, “Kamu sendiri mengatakan, bahwa Akulah Anak Allah…” (Luk. 22:70).

Segera ketua sidang mengoyakkan jubahnya. Itu tanda amarah pemuka agama jika Allah dihujat atau dinodai.

Lalu ketua sidang menyimpulkan, “Ia menghujat Allah. Untuk apa kita perlu saksi lagi? Sekarang telah kamu dengar hujat-Nya. Bagaimana pendapat kamu?” (Mat. 26:65, 66a).

Majelis hakim berseru dengan suara bulat, “Ia harus dihukum mati!” (Mat. 26:66b). Vonis majelis hakim pun diketok.

Maka puaslah para pemuka agama itu. Memang sudah lama mereka merasa posisi dan popularitas mereka terancam oleh kehadiran Yesus. Mereka iri dan dengki terhadap Yesus. Oleh sebab itu mereka ingin menyingkirkan Yesus. Tertulis, “Ketika imam-imam kepala dan orang-orang Farisi mendengar perumpamaan-perumpamaan Yesus, mereka mengerti bahwa merekalah yang dimaksudkan-Nya. dan mereka berusaha untuk menangkap Dia …” (Mat. 21:45-46).

Juga dicatat, “…ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi terus menerus mengintai dan membanjiri-Nya dengan rupa-rupa soal … mereka berusaha memancing-Nya, supaya mereka dapat menangkap-Nya berdasarkan sesuatu yang diucapkan-Nya” (Luk. 11:53-54).

Para pemuka agama terus mencari kesempatan memancing Yesus untuk mengucapkan hal-hal yang bisa tergolong menodai agama. Itulah isu yang paling empuk untuk menjebak Yesus. Undang-undang penodaan agama itu sangat elastis seperti karet yang bisa ditarik ke sana-sini. Menyebut nama Allah bisa dianggap menodai agama. Mengutip Taurat bisa dianggap menista Allah, sebab pemuka agama yang fundamentalis menganggap Taurat turun dari surga sehingga tiap kata di dalamnya adalah mutlak Firman Allah yang tidak mungkin salah dan tidak boleh disanggah.

Di mata para pemuka agama, tindak kejahatan Yesus semakin jelas. Ia telah menghujat Allah. Ia melanggar kitab suci. Ia menodai agama. Jadi, Ia harus dihukum mati.

Itulah vonis majelis hakim. Sesuai dengan prosedur, seusai sidang pengadilan pada Jumat pagi itu para hakim lalu menyerahkan pelaksanaan eksekusi hukuman mati itu kepada yang berwenang yaitu penguasa militer kekaisaran Romawi.

Siang hari itu juga eksekusi hukuman mati dilaksanakan. Itulah keputusan para hakim yang berfungsi sebagai pengadil di pengadilan yang berkeadilan demi mengadili dan mengadilkan perkara sesuai dengan asas keadilan.

Sejarah tidak mencatat apa yang terjadi selanjutnya dengan para hakim itu. Mungkin mereka malah dipromosi.
Seluruh kota Yerusalem terkejut lemas, menundukkan kepala dan bermuram durja. Mereka beriktikad menghormati putusan hakim namun rasa keadilan nurani mereka telah terusik.

Maka menyeringailah sebuah lagu parau, “Hormatilah putusan hakim! Hormatilah putusan hakim!”

0 Comments

Add a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.