Betulkah Yesus Menodai Agama? (Bagian ke-1)

Diambil dari Warta Jemaat 21 Mei 2017.

Pendahuluan

Putusan hakim terhadap Ahok membuat saya galau dan geram. Bukan karena Ia seagama dengan saya. Sama sekali bukan! Melainkan karena Ia menjadi korban sebuah undang-undang yang sebetulnya tidak patut ada di suatu negara demokratis. Undang-undang penodaan agama dengan gampang dijadikan alat represi terhadap kelompok yang berbeda keyakinan.

Undang-undang penodaan agama pada hakikatnya bersifat multitafsir. Perbuatan seseorang yang sebetulnya tidak menodai agama dengan mudah bisa ditafsirkan sebagai penodaan. Seseorang yang menghayati kehadiran Allah secara berbeda dengan penghayatan yang lazim, bisa dinilai sesat. Seseorang yang berhipotesis tentang figur Allah bisa dituduh menodai agama. Seseorang yang merestruktur sebuah alur cerita kitab suci bisa dianggap menista Firman Allah.

Oleh sebab itu, sebelum jatuh korban-korban lain yang dituduh menodai agama, masyarakat yang demokratis, nasionalis, dan pluralis perlu menuntut dihapusnya undang-undang itu. Kasus Ahok bisa menjadi momentumnya.

Dalam kasus Ahok, sejak awal Sjafii Maarif, mantan ketua umum Muhammadiyah menulis, “Saya telah membaca secara utuh pernyataan Ahok…. Ahok sama sekali tidak menyatakan surat Al-Maidah 51 itu bohong. Yang dikritik Ahok adalah mereka yang menggunakan ayat itu untuk membohongi masyarakat agar tidak memilihnya.”

Kasus Ahok beda total dengan kasus Yesus. Akan tetapi, intinya sama. Mereka dituduh menista agama.

Karangan berikut yang terbagi atas dua bagian dan bergenre semiliputan sidang Sanhedrin saat mengadili Yesus atas tuduhan penodaan agama, saya tulis sebagai sarkasme terhadap adanya undang-undang penodaan agama.

Yesus diadili, dipenjara, dan dihukum karena tuduhan melakukan tindak kejahatan. Ia disalibkan di antara dua orang penjahat. Hukuman mati di kayu salib dikenakan kepada garong, pembunuh keji, atau penjahat besar. Yesus dimasukkan ke dalam kategori itu. Sebetulnya, kejahatan apakah yang telah diperbuat-Nya? Pasal apakah yang dipakai oleh pengadilan untuk menjatuhkan hukuman itu kepada Yesus?

Pengadilan terhadap Yesus berlangsung sesuai prosedur. Instansi yang berwenang merupakan majelis besar beranggotakan maksimal 71 orang pemuka agama, terdiri atas para imam besar aktif, imam besar emeritus, imam biasa, tua-tua, dan ahli Taurat. Dua mazhab yang bertolak belakang, yaitu Saduki dan Farisi, terwakili dalam diri orang-orang itu.

Majelis besar itu disebut Presbiterion atau Sunhedrion (diibranikan menjadi Sanhedrin). Di Alkitab Indonesia diterjemahkan menjadi Majelis Tinggi, Majelis Tuatua, atau Mahkamah Agama. Lembaga ini mempunyai yurisdiksi sipil dan kriminal.

Yesus dibawa ke sidang pengadilan itu. Itu terjadi pada Kamis malam menurut Injil Markus dan Matius, namun menurut Lukas itu terjadi pada Jumat pagi. Kedua versi itu bisa direkonstruksi menjadi sidang yang dimulai Kamis malam dan mencapai vonis pada Jumat dini.

Ketua sidang adalah seorang imam besar. Namanya Kayafas.

Sesuai dengan proses hukum dipanggillah sejumlah saksi. Tentang kredibilitas para saksi itu Markus mencatat, “Banyak juga orang yang mengucapkan kesaksian palsu terhdap Dia, tetapi kesaksian-kesaksian itu tidak sesuai yang satu dengan yang lain” (Mrk. 14:56).

Ternyata belum lagi sidang pengadilan dimulai, para anggota sidang itu diam-diam sudah menyiapkan keputusan hukuman mati. Tertulis, “Imam-imam kepala, malah seluruh Mahkamah Agama mencari kesaksian palsu terhadap Yesus, supaya Ia dapat dihukum mati” (Mat. 26:59).

Akhirnya tampil dua orang saksi yang melaporkan fakta. Kata mereka, “Orang ini berkata: Aku dapat merubuhkan Bait Allah dan membangunnya kembali dalam tiga hari” (Mat. 26:61).

Nah, itu bukti nyata, sebab di depan ratusan orang Yesus memang pernah berkata begitu. Jelas, menurut perspektif para pemuka agama, Yesus telah menodai agama sebab Bait Allah adalah lambang kehadiran Allah.

0 Comments

Add a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.