BELAJAR DARI YESUS DAN PAULUS

Diambil dari Warta Jemaat 12 Maret 2017.

Orang Farisi selalu mempunyai niat yang tidak baik terhadap Yesus. Mereka selalu mencobai dan menjebak Yesus. Mereka pula yang berteriak, “Salibkan Dia!” saat Yesus di pengadilan Romawi. Namun, dalam Lukas 13:31, sikap orang Farisi tampak peduli kepada Yesus, “Pada waktu itu datanglah beberapa orang Farisi dan berkata kepada Yesus: “Pergilah, tinggalkanlah tempat ini, karena Herodes hendak membunuh Engkau.” Mereka memberitahu Yesus bahwa Dia akan dibunuh.

Di dalam Lukas 13:33, Yesus merespon, “Tetapi hari ini dan besok dan lusa Aku harus meneruskan perjalanan-Ku, sebab tidaklah semestinya seorang nabi dibunuh kalau tidak di Yerusalem.” Ketika mendengar kabar bahwa Yesus hendak dibunuh, Dia tidak mundur melainkan meneruskan perjalanan-Nya. Yesus tak luput dari godaan untuk melupakan misi penyelamatan-Nya, yaitu misi-Nya sebagai Juruselamat dunia. Menyelamatkan dunia dan orang berdosa.

Pada zaman itu, Israel sedang dalam penjajahan kekaisaran Romawi, yang membutuhkan seorang pembebas dari penjajah. Yesus yang tampil dengan penuh kuasa, banyak melakukan mujizat, membuat orang kagum dan berharap agar Yesus mengusir penjajah. Banyak orang Israel memandang, bahwa Yesus pantas menjadi raja dan pemimpin mereka. Yesus digoda untuk memilih, menyelamatkan Israel dari penjajahan Romawi dan menjadi raja di dunia secara politis, atau Dia memilih untuk meneruskan misi penyelamatan-Nya dengan mati di atas kayu salib untuk manusia berdosa.

Yesus menghadapi persoalan antara melaksanakan misi penyelamatan dan mengalami kematian secara hina seperti “penjahat” yang disalib? Atau Dia bebas dari kematian dan mengikuti nasihat dan pesan orang-orang Farisi agar Yesus tidak ke Yerusalem karena Herodes akan mebunuh-Nya? Ternyata Yesus memilih untuk meneruskan perjalanan ke Yerusalem. Dia melakukan misi Allah, Dia taat kepada kehendak Bapa walau harus mati disalib.

Jika Yesus memiliki misi dan terus pantang mundur melaksanakan misi itu walaupun ada “harga” yang harus dibayar dengan kematian-Nya. Yesus dalam menghadapi dan mengatasi persoalan berat antara hidup dan mati, berkata “harus” artinya tak boleh mundur. Ungkapan “harus meneruskan perjalanan-Ku,” bukan berarti pemaksaan atau terpaksa tetapi sebagai “motivasi” untuk berjuang, taat dan setia, bahwa semua dapat dijalani walau berat. Maka, sesungguhnya setiap kita pun memiliki misi untuk taat dan setia kepada kehendak Bapa.

Di samping Yesus, dalam Alkitab, ada tokoh iman yang berjuang untuk taat kepada kehendak Tuhan, yaitu rasul Paulus. Dia berkata, “Bertandinglah dalam pertandingan iman yang benar dan rebutlah hidup kekal.” Paulus ditolak, dipenjara dan didera, hendak dibunuh, menghadapi berbagai bahaya di gurun, di laut, dalam misinya memberitakan Injil tetapi dia tetap setia. Dia pun berkata, “aku telah mengakhiri pertandingan yang baik… aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman…” (2 Tim 4:6-8).

Di tengah perjuangan sebagai orang beriman, ketika menghadapi berbagai pergumulan, kita sering digoda, yang membuat iman bisa goyah dan hidup kita pun bisa menyimpang dari kehendak Allah. Namun, apapun pergumulan kita, misi kita sebagai orang beriman, tak boleh menyerah. Marilah kita menghayati, meneladani dan belajar dari Yesus dan Paulus dalam hal ketaatan dan kesetiaan kepada kehendak Allah dengan terus hidup “menyangkal diri” kita.

Pdt. Iwan Tri Wakhyudi

0 Comments

Add a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.