APAKAH LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN?

Diambil dari Warta Jemaat 11 Juni 2017.

Ah, berdebat dengan orang bebal memang benar-benar menguras energi.
Suatu kali terjadi perdebatan antara tukang bersih-bersih lelaki dan perempuan. Sang lelaki bersikeras tidak mau membersihkan toilet perempuan karena baginya membersihkan toilet adalah tugas perempuan.

“Ini tidak adil!”, kata perempuan itu. “Saya perempuan, tetapi saya bersedia membersihkan toilet laki-laki sesuai dengan pembagian tugas yang diberikan. Tidak ada yang salah atau pun aneh mengenai hal itu karena saya adalah tukang bersih-bersih,” ujarnya.

Perdebatan semakin panas karena sang lelaki mulai mendiskreditkan perempuan itu. Katanya, “Perempuan itu lebih pantas kerja di dapur, atau bersih-bersih. Jangan sekolah tinggi-tinggi, toh nanti akan berakhir dengan mengurus anak atau tinggal di rumah. Perempuan itu lemah, jadi lakukan saja apa yang memang sudah ditentukan menjadi tanggung jawabnya dan tidak usah banyak gaya. Harga diri pria itu tinggi, tidak cocok kerja-kerja kotor seperti ini, dst.”

Wah, bukan main pemikirannya. Perempuan itu kemudian berlalu dan meninggalkan tanggung jawab membersihkan toilet perempuan padanya. “Perdebatan ini seperti usaha menjaring angin; melelahkan dan tidak berguna,” kata perempuan itu.

Pembicaraan mengenai laki-laki dan perempuan tentu tidak sesederhana membagi mana tugas (yang dianggap cocok) untuk perempuan dan laki-laki. Keunikan laki-laki dan perempuan sejatinya terlalu sempit jika hanya dibatasi pada jenis kelamin tertentu, karena di luar sana ada realitas lain yang tidak bisa dipungkiri keberadaanya sebagai bagian dari ciptaan Allah yang begitu baik.1 Keberadaan lelaki dan perempuan terlalu kaya untuk dibatasi pada pikiran-pikiran manusia yang seringkali terbatas.

Apakah laki-laki dan perempuan?

Laki-laki dan perempuan adalah bagian dari ciptaan yang begitu dikasihi Allah. Dalam keberagamannya, mereka adalah sosok yang indah, unik, dan istimewa pada dirinya sendiri. Mereka gambar dan rupa Allah. Manusia, baik laki-laki atau pun perempuan, adalah sosok yang (harusnya) tidak bisa berdiam diri ketika terjadi ketidakberesan di hadapan mereka, karena sejatinya mereka diciptakan dengan sebuah tujuan: untuk saling mengisi, menopang, dan melakukan pekerjaan baik yang telah disiapkan Allah bagi mereka. Mengingat manusia berarti mengingat kasih karunia Allah, karena dengan mengingatnya, kita dibawa pada kenyataan bahwa Sang Juruselamat merengkuh manusia, bahkan dalam keadaan yang tidak layak sekali pun. Lantas siapa kita, sehingga menganggap bisa mendiskreditkan atau bahkan menghakimi yang lain, hanya karena dosa kita tidak sama dengan mereka?

Mari rayakan diri sebagai ciptaan Allah yang berharga dengan mengelola kehidupan bersama secara bertanggungjawab dan maksimal. Mengotak-ngotakkan diri hanya berdasarkan tugas, atau pandangan yang umumnya berlaku, apalagi mendasarkannya hanya pada jenis kelamin tertentu, justru akan mendangkalkan keindahan kita sebagai ciptaan. Kita berharga di mata Tuhan. Setiap orang dikasihi Tuhan dan dipanggil untuk berkarya di tengah dunia.

0 Comments

Add a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.