APA WAJAH BERIMANMU?

Diambil dari Warta Jemaat 25 Juni 2017.

Adakah kenangan atau pengalaman manis yang kita ingat ketika Lebaran tiba?

Eiittssss…jangan terburu-buru mengatakan „tidak ada‟ hanya karena mengasumsikan kalau meningkatnya kejahatan belakangan ini disebabkan semata oleh orang-orang yang ingin berlebaran. Itu adalah asumsi yang tidak sepenuhnya dapat dipertanggungjawabkan namun dipastikan dapat melukai rekan kita yang Muslim. Bukankah orang jahat memang akan selalu beraksi setiap ada kesempatan, terlepas apa pun hari rayanya.

Senang rasanya pulang ke rumah saat Lebaran. Di tempat saya dibesarkan, Lebaran selalu menjadi perayaan iman bersama yang mewujud dalam cara-cara sederhana dan terus dipelihara. Salah satu tradisi yang terus dipertahankan hingga saat ini adalah saling mengantar makanan. Misalnya saja keluarga kami, yang notabene beragama Kristen, biasanya akan selalu mendapat kiriman makanan dari para tetangga yang Muslim. Saking banyaknya, kami tidak perlu masak sampai beberapa hari ke depan. Selain berkirim makanan, ada pula tradisi untuk berkunjung ke rumah-rumah untuk mengucapkan selamat Lebaran, dan hal ini dilakukan oleh orang-orang non-Muslim. Ini adalah perjalanan yang mengenyangkan karena setiap tuan rumah akan menjamu tamu-tamunya dengan baik.

Menyenangkan bukan? Tentu yang dimaksud bukan semata karena makanannya yang berlimpah, namun ada kehangatan dan sukacita yang dibagikan kepada sesama yang berbeda dalam perayaan iman ini. Ini adalah kenangan sekaligus pengalaman manis yang saya rasakan ketika Lebaran tiba. Sayangnya tradisi ini mulai luntur dimakan keegoisan dalam beriman sehingga tidak lagi banyak dijumpai di tempattempat lain. Boro-boro berbagi rezeki1 , hidup bersama dengan orang yang berbeda saja kini sudah membuat beberapa pihak kebakaran jenggot dan resah. Boro-boro bersilaturahmi, menerima kekayaan perbedaan saja menjadi hal yang kini terasa sulit. Dewasa ini semakin banyak orang yang hanya memedulikan dirinya sendiri. Bukannya melampaui dan merayakan kekayaan perbedaan yang ada, kini beriman justru seringkali menjadi dasar untuk menciptakan banyak sekat dan memperuncing ketegangan yang seharusnya tidak perlu ada.

Kita bisa memilih wajah beriman apa yang kita tampilkan; apakah wajah permusuhan, menyeramkan, atau justru wajah yang hangat dan merangkul setiap orang dalam perbedaan. Wajah beriman seperti apa yang kita nampakkan dalam keseharian kita?

Semakin beriman seseorang, harusnya semakin besar pula ruang yang diciptakan untuk merengkuh orang lain. Semakin beriman seseorang, harusnya semakin besar pula kesadaran yang muncul untuk menjaga kehidupan bersama. Semakin beriman seseorang sejatinya menghantar kita pada keyakinan bahwa Tuhan mengasihi dan berkarya dalam kekayaan hidup setiap orang.

Mari rayakan iman kita dengan membiarkan orang lain menjadi bagian di dalamnya sehingga mereka pun dapat mengecap kehangatan kasih kita yang rasakan. Tunjukkanlah wajah beriman yang hangat dan terbuka, dengan demikian mereka dapat mengenal Yesus yang kita imani.

Selamat merayakan iman!

0 Comments

Add a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.