Warta Jemaat 30 Juli 2017

BIOLA

Seorang tua yang tidak berpendidikan berniat mengunjungi suatu kota besar untuk pertama kali dalam hidupnya. Dia dibesarkan disebuah dusun terpencil, bekerja keras membesarkan anak-anaknya dan sekarang menikmati kunjungan pertamanya ke rumah anaknya yang modern.

Suatu hari, sewaktu berjalan-jalan seputar kota, si orang tua mendengar suara yang menyakitkan telinga. Belum pernah dia mendengar suara yang begitu tidak enak didengar di dusunnya yang sepi dan dia bersikeras mencari sumber bunyi tersebut. Mengikuti arah suara yang menggangu itu ke sumbernya, dia melihat sebuah ruangan di dalam sebuah rumah, di mana terdapat seorang anak kecil sedang belajar bermain biola.

“Ngiiiik! Ngoook!” berasal dari nada sumbang biola tersebut.

Saat dia mengetahui dari putranya bahwa itulah yang dinamakan “biola”, dia berpikir bahwa dia tidak akan pernah mau mendengar suara yang mengerikan tersebut lagi.

Hari berikutnya, di bagian lain kota tersebut, si orang tua ini kembali mendengar sebuah suara yang mendayu-dayu membelai-belai telinga tuanya. Dia tidak pernah mendengar melodi yang begitu indah di dusunnya, diapun mencoba mencari sumber suara tersebut. Sampai ke sumbernya, dia melihat sebuah ruangan depan sebuah rumah, di mana seorang wanita tua, seorang maestro, sedang memainkan sonata dengan biolanya.

Seketika, si orang tua ini menyadari kesalahannya. Suara tidak mengenakkan telinga yang didengarnya dulu bukanlah merupakan kesalahan dari sang biola, bukan pula salah sang anak. Itu hanyalah proses belajar seorang anak untuk bisa memainkan biolanya dengan baik.

Hari ketiga, di bagian lain dari kota tersebut, si orang tua mendengar sebuah suara lain yang bahkan melebihi keindahan dan kejernihan suara sang maestro biola. Melebihi indahnya suara aliran air pegunungan, melebihi indahnya suara angin di musim gugur, melebihi suara burung-burung pegunungan yang bernyanyi setelah hujan lebat, bahkan melebihi keindahan keheningan pegunungan yang damai di musim salju pada malam hari. Suara apakah? Itulah suara sebuah orkestra besar yang memainkan sebuah simfoni.

Setiap manusia memiliki peran penting dalam merajut harmoni kehidupan, dan peran-peran ini harus diperhatikan. Jika tidak, seseorang tidak akan bisa mengelola peran dalam dirinya dengan baik. Kalau ia tidak menyadari peran dalam dirinya, maka ia juga tidak akan mampu “deal” atau bekerjasama dengan peran-peran lain yang di luar dirinya, sehingga cenderung mengarah kepada hal yang destruktif atau bersifat melemahkan komunitas. Padahal, Roma 8:28 berkata, “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Sebenarnya, apapun yang terjadi, jaminan “kebaikan” disiapkan bagi orang-orang tertentu. Kuncinya adalah mengasihi Allah, yakni terpanggil menghidupi rencana (baca: peran) yang sudah dianugerahkan-Nya.

Orang yang mengasihi Allah adalah mereka yang memenuhi rencana Allah. Layaknya seorang anak kecil (dalam ilustrasi di atas) yang memainkan biola, kita harus terus belajar memainkan peran kita melalui setiap karunia, karakter, kapasitas, dsb., hingga menjadi seorang yang cakap mengelola diri dan memanfaatkannya untuk tujuan baik. Bayangkan jika, keluarga, komunitas dan gereja kita dipenuhi oleh para maestro handal, maka kebaikan dan keindahan yang muncul akan dinikmati semakin banyak orang. Ketika seseorang memenuhi perannya dan mendukung peran lainnya serta saling bekerjasama demi tujuan dan kebaikan bersama, di situlah kita dapat mendengar harmoni yang paling indah.

Fernando Simanjuntak, S. Si. Teol.

Download PDF

WJ30Juli2017

0 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *