Warta Jemaat 23 Juli 2017

Proyek “Peduli Orang Terdekat”

Baru-baru ini, saya (atau kita) dikejutkan dengan sebuah kejadian seorang siswa kelas 2 SMP Global Islamic School bernama Rangga, yang mati karena bunuh diri menggantung di lemari baju kamarnya. Menurut informasi yang beredar, alasan bunuh diri tersebut adalah karena Rangga mengalami kekosongan dalam dirinya, tidak ada yang peduli. Keluarganya hancur, ayah dan ibunya masing-masing sudah menikah lagi dengan orang lain. Rangga depresi dan merasa ayah ibunya tidak menyayanginya lagi. Bagi Rangga, orang-orang terdekat yang harusnya dekat, dirasa sangat jauh bahkan tidak pernah hadir dalam hidupnya.

Di kesempatan lain, di suatu sore, seorang pemuda datang duduk di sebelah saya. Kami berdua di situ dalam rangka memesan nasi goreng di pinggir jalan, karena rasa lapar yang begitu kuat. Akan tetapi, setelah makanan disiapkan, si pemuda tersebut tidak jadi makan dan berkata kepada penjual nasi goreng agar membungkus makanannya. Saya memperhatikan apa yang dilakukan pemuda tersebut. Ternyata, tidak jauh dari tempat kami berada, ada sebuah gerobak kecil yang terparkir. Di dalamnya, seorang bapak tua renta tampak tidak terawat sedang tidur. Secara diam-diam, pemuda tersebut meletakkan bungkusan nasi goreng miliknya di dalam gerobak si bapak tua tersebut. Yang menarik adalah, tidak lama setelah itu, ada seoran wanita yang menyelipkan sesuatu (saya duga uang) ke dalam tas selempang yang tergantung di gerobak. Kepedulian si pemuda menginspirasi orang lain untuk ikut peduli. Bagi si pemuda, si bapak tua sangat dekat, meskipun sesungguhnya ia “jauh”.

Dua kejadian di atas menunjukkan kepada kita dua hal. Pertama, terlalu sulit bagi kita untuk menemukan orang lain yang sangat membutuhkan kita, sepanjang kita fokus memperhatikan diri kita. Memang sangatlah wajar, karena setiap orang memiliki urusan dan permasalahan yang banyak, sementara waktu sangat sedikit. Hal tersebut membuat proyek “peduli orang terdekat” menjadi selalu tertunda dan akhirnya hilanglah kesempatan itu, sampai kita berjumpa dengan kesempatan lainnya. Kedua, di tengah keterbatasan (waktu, tenaga, dana, dsb.) kita, ternyata selalu ada yang bisa kita berikan untuk orang lain. Sepanjang kita tidak terlalu fokus kepada diri sendiri dan membuka mata hati untuk peduli terhadap sekeliling kita, maka sesungguhnya tersedia banyak sekali orang-orang yang membutuhkan kita. Kalau sudah demikian, proyek “peduli orang terdekat” menjadi salah satu proyek unggulan dalam kehidupan kita.

Matius 25:40, “Aku berkata kepadamu sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk aku.” Ayat ini menginspirasi sekaligus mengingatkan kita agar senantiasa melakukan proyek “peduli orang terdekat”. Kristus hadir di dalam setiap orang-orang yang lemah, bau, sakit, miskin, yang kosong jiwanya, yang membutuhkan penguatan. Kristus menderita karena Ia berbela rasa dengan orang-orang yang tidak berdaya. Mengasihi Kristus berarti juga mengasihi orang-orang yang lemah. Bersahabat dengan Kristus berarti juga mau bersahabat dan berbela rasa dengan mereka yang terpinggirkan dan dianggap hina. Tuhan kiranya menolong dan memampukan kita menjadi berarti bagi sesama.

Fernando Simanjuntak, S. Si. Teol.

*orang terdekat yang dimaksudkan di sini adalah mereka yang lemah dan menderita serta sungguh-sungguh membutuhkan bantuan orang lain.

Download PDF

WJ23Juli2017

0 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *