Warta Jemaat 16 Juli 2017

TANGAN YANG MEMBANGUN

Pernahkah Anda merenungkan bahwa setiap bagian tubuh kita ini memiliki peran yang luar biasa? Sepasang tangan bisa melakukan banyak hal yang konstruktif. Tangan mengangkat barang, memberikan sesuatu, menulis, mengetik computer, memperbaiki mesin mobil, mendorong mobil mogok, dsb., walaupun di sisi lain tangan juga sering digunakan untuk melakukan sesuatu yang destruktif; mencelakai anak sendiri, memukul, mencuri barang milik orang lain, dsb. Demikian juga mata, alis mata, jari-jari kaki dan tangan kita, mulai dari yang terkecil
sampai yang terbesar, mulut, pinggang, rambut, pusar, hingga pada bagian tubuh yang tidak kelihatan yang diliputi oleh kulit ini, semuanya memiliki fungsi dan peran yang penting untuk menopang seseorang dalam menjalani dan mengisi hidupnya, apakah itu untuk tujuan yang konstruktif/membangun, ataupun untuk tujuan yang dekstruktif/menghancurkan.

Bagian-bagian tubuh tersebut sesungguhnya menggambarkan kehidupan setiap orang. Tuhan menganugerahkan potensi yang luar biasa kepada setiap kita. Tidak seorang pun yang tidak memiliki sesuatu. Di tengah-tengah keterbatasan/ ketiadaan (ekonomi, fisik, IQ, latar belakang pendidikan, dsb.) seseorang, niscaya ia pasti memiliki sesuatu untuk dijadikan modal menjalani kehidupan yang lebih baik, kalau memang ingin lebih baik. Tetapi persoalannya, banyak orang yang merasa nyaman di dalam keterbatasan atau ketiadaannya, kemudianmulai menyalahkan sekelilingnya. Akhirnya, tidak sedikit orang yang menggunakan potensi diri – yang sebenarnya bisa menjadi modal untuk menjadi lebih baik – justru untuk melakukan hal-hal yang destruktif, sebagai pelampiasan akan ketidaknyamanannya tersebut. Dalam kehidupan sosial, keberadaan orang-orang seperti ini dapat
mengganggudan memengaruhi manusia lainnya. 1 Kor. 15: 33, “Janganlah kamu sesat: pergaulan yang buruk merusak kebiasaan yang baik.” Dalam rangka menuju transformasi manusia seutuhnya, yakni sebuah situasi di mana manusia memenuhi fungsi kodratnya sebagai mahluk yang mulia, iman Kristen mengajar sekaligus memerintahkan kita untuk senantiasa “memanusiakan manusia”. Targetnya adalah bahwa setiap orang serupa dengan Kristus. Pertanyaannya manakah lebih dulu yang harus dibenahi atau diubah, sistem/masyarakat atau individu terlebih dahulu? Pdt. Eka Darmaputera, menggambarkan situasi ini, pernah menulis, bahwa keadaan yang paling ideal adalah:
a. Bila orang-orang merupakan pribadi-pribadi yang tangguh, yang mampu menempatkan diri secara tepat di tengah-tengah lingkungannya; dan
b. Bila lingkungannya merupakan lingkungan yang mendukung bagi individu-individu yang hidup di dalamnya untuk berprestasi dan berkembang seoptimal-optimalnya.

Apakah keseimbangan antara dua hal ideal tersebut mungkin terjadi; sistem masyarakat yang konsdusif dan individu yang kuat? Ah sudahlah, saya pusing memikirkannya, dan saya minta maaf karena membuat Anda pusing dengan kepusingan saya ini. Baiklah, untuk meredam kepusingan tersebut, saya ingin mengajak kita berpikir dan menyadari tentang satu hal. Anda dan saya merupakan ciptaan baru yang memiliki potensi yang luar biasa, khas, unik dan hanya ada satu. Mari kita berfungsi dan menjalani kehidupan ini berdasarkan apa yang ada pada kita. Kalau Anda adalah tangan, apakah Anda sudah menjadi tangan yang membangun/konstruktif atau sebaliknya? Dengan demikian, ayat 1 Kor. 15:33 di atas bukan hanya mengingatkan kita agar tidak bergaul dengan orang-orang yang memiliki kebiasaan yang buruk, tetapi yang penting juga agar kita menjadi “pemberi pengaruh” yang baik di tengah-tengah kebiasaan yang buruk. Kiranya Tuhan menolong dan memampukan kita. Salam

Fernando Simanjuntak, S. Si. Teol.

Download PDF

 

 

0 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *