Warta Jemaat 16 April 2017

TEMBOK KEMUSTAHILAN DAN MONUMEN PENGHARAPAN

            Setahun  sekali umat Kristen berkumpul di gereja atau di tempat-tempat kebaktian untuk mengenangkan hari kematian dan merayakan Kebangkitan Yesus Kristus, yang dikenal sebagai Hari Raya Paskah. Saat-saat seperti inilah merupakan kesempatan untuk merenungkan kembali, mengapa Yesus harus mati di kayu Salib dan kemudian dibangkitkan pada hari yang ke 3. Pesan-pesan apakah yang kita dapatkan ketika kita merayakan hari Raya Paskah ?. Apakah  sebenarnya arti Paskah bagi kita ? Apakah cukup dengan datang ke tempat kebaktian/gereja, bernyanyi atau menyaksikan sebuah pementasan drama ?. Kalau hanya itu saja, kita telah tertipu oleh sebuah tradisi ke Kristenan tanpa makna. Selain hanya untuk memuaskan mata dan telinga. Sehingga makna yang sesungguhnya dari peristiwa Paskah akan tak berbekas dalam hidup sehari-hari.

Sesungguhnya peristiwa Paskah/Kebangkitan Tuhan Yesus adalah peristiwa dimana ‘tembok kemustahilan’ dirobohkan. Karena kebangkitan Tuhan Yesus sulit untuk diterima oleh akal manusia. Kebangkitan adalah merupakan kemustahilan yang terbesar bagi banyak orang.Namun Paskah berarti merayakan, mengimani, mengamini dan mengagungkan sebuah kemustahilan terbesar yang sudah runtuh. Mengapa kebangkitan Lazarus, Tabita dan yang lainnya tidak sampai dirayakan seperti Paskah ?. Sebab kebangkitan mereka tidak menyangkut kebangkita kita. Tetapi Kristus bangkit untuk kita dan demi kita. Dan itu adalah karya Allah yang luar biasa yang mewujudkan kasih Nya kepada kita manusia yang seharusnya binasa oleh karena dosa-dosanya. “Tetapi yang benar ialah, bahwa Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal. Sebab  sama seperti maut datang karena satu orang manusia, demikian juga kebangkitan orang mati datang karena satu orang manusia”  ( I Korintus 15 : 20 – 21 ). Tembok kemustahilan telah diruntuhkan melalui Kebangkitan Yesus Kristus.

Sesudah tembok kemustahilan terbesar itu runtuh, maka muncullah ‘Monumen Pengharapan’, yang disebut sebagai Kebangkitan orang mati di masa mendatang. Dengan/melalui Kebangkitan Nya, maka kita tak boleh lagi takluk kepada segala bentuk kemustahilan dalam hidup ini. Tetapi bagaimana kenyataan nya ? Banyak contoh yang memperlihatkan bahwa kita masih saja mudah menyerah pada perkara-perkara yang menghadang perjuangan dan panggilan kita di dunia ini. Hal itu berarti kita harus mau kembali kepada berita Alkitab. Sangat banyak contoh di dalam Alkitab yang menunjukkan bahwa Tuhan tidak mengenal ‘jalan buntu’. Kita sering merasa bahwa usaha kita dalam menghadapi berbagai persoalan,masalah dan pergumulan, menemui jalan buntu. Hal itu terjadi karena kita sering bersandar pada kekuatan akal, pikiran dan tenaga kita sendiri.

Karena itu, Paskah haruslah menjadi ‘kompor’, untuk menghangatkan, menyalakan dan  mengobarkan kembali iman kita. Panggilan Tuhan di dunia ini yang harus ditopang dengan iman yang besar, adalah panggilan sebagai ‘saksi kebangkitan Nya’. Hal ini adalah penting. Sebab jika  kebangkitan Nya tidak disaksikan dan diteruskan, maka tak akan ada gereja Tuhan. Dan karunia keselamatan dari Tuhan hanya dinikmati oleh segelintir manusia saja.  Roda Kerajaan Allah di dunia mandeg, rencana Allah untuk menyelamatkan dunia tak terwujud. Itulah sebabnya, begitu Kristus bangkit, para murid Nya mengalami sukacita dan mengalami pembaharuan hidup. Dengan kompak dan berani,mereka menjadi saksi kebangkitan Kristus. Karena itu Kebangkitan Kristus yang kita rayakan sebagai hari raya Paskah, perlu kita ukur bukan dari hebohnya acara-acara yang ada. Tetapi  kuasa dan pengaruh yang ditimbulkannya. Yaitu perubahan perspektif kehidupan yang lebih luas dan terciptanya relasi manusia yang tidak lagi ekslusif tetapi inklusif.  Itulah arti Paskah bagi kita, yang merubah cara berpikir dan  prilaku hidup kita. Marilah kita menghargai apa yang sudah dilakukan oleh Kristus di Golgota dan apa yang terjadi pada peristiwa Kebangkitan Nya.  Robohkanlah setiap tembok pemisah dan tembok kemustahilan dan mari kita membangun monumen pengharapan yang menjadikan kita setia dan taat melakukan apa yang diperintahkan Nya dngan segenap hati, jiwa dan segenap akal budi kita.

Pdt. Em. Setiawan Oetama

Download PDF

WJ16April2017

0 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *