Masa Konsolidasi/Periode Krekot (1953 – 1955)

Setelah timbulnya peristiwa Patekoan, maka diusahakan adanya pos-pos pekabaran Injil di Berok (kawasan Pasar Ikan) dan di Teratai (kawasan Tubagus Angke). Pos-pos tersebut melayani para anggota jemaat yang berdomisili di daerah kota. Bertempat di rumah keluarga Tan Ngo Liong di Gg. Terate No. 29 dan di rumah keluarga Ny. Jo Rie Nio di Jalan Ekor Kuning Jakarta.
Kebaktian Minggu di Gedung “Tjheng Lian Hwee”. Suasana seperti ini berlangsung sejak tahun 1953 sampai dengan tahun 1955.

Anggota jemaat yang tidak berdomisili di daerah kota memusatkan kegiatan dan persekutuannya di Balai Pertemuan Kawula Muda (Tjheng Lian Hwee) yaitu di Jalan Krekot 28 (sekarang Samanhudi 28) Jakarta.

(Gedung di Jalan Krekot No. 28, menjelang pembongkaran menjadi gedung GKI Samanhudi)

Bangunan balai pertemuan itu berbentuk rumah tinggal, namun serbaguna. Setiap hari kerja berfungsi sebagai kantor Badan Pendidikan Kristen Jabar, TKK BPK Jabar KPS Jakarta, SMEPK BPK Jabar KPS Jakarta, Sekolah Minggu, tempat kegiatan pemuda dan tempat kegiatan pramuka.

Setiap Sabtu sore diubah menjadi tempat kebaktian, untuk dipakai pada hari Minggu pagi. Kursi-kursi diatur sedemikian rupa agar cukup untuk jemaat yang hadir. Di tempat itulah para jemaat melaksanakan kebaktian. Seusai kebaktian, ruangan itu dirapikan, dibersihkan, dan difungsikan kembali sebagai kantor dan sekolah.

Kegiatan pramuka yang diadakan di Tjheng Lian Hwee adalah kegiatan pramuka ranting Pasar Baru. Status kegiatan tersebut adalah kegiatan ekstra organisasi gerejawi. Kegiatan ini secara organisasi di bawah Kwartir Nasional, tetapi perhatian jemaat terhadap kegiatan ini cukup besar. Bahkan peserta dan pemimpin kegiatan ini pun sebagian besar dari kalangan jemaat itu sendiri. Rupanya sangat disadari bahwa kegiatan pramuka merupakan wadah yang penting untuk berbaur dan bermasyarakat.

Kisah Persil Krekot 28 ini berliku dan unik. Pada mulanya berstatus rumah sewaan yang dikelola oleh Majelis Jemaat Patekoan sejak tahun 1946. Pemiliknya adalah Tuan Gehimal, seorang pengusaha tekstil di Pasar Baru. Timbulah sengketa. Majelis Patekoan yang waktu itu berstatus penyewa yang sah, hampir kehilangan statusnya akibat tindakan Urusan Persengketaan Perumahan (UPP).

Tercatatlah peristiwa itu sebagai saat perjuangan Tjheng Lian Hwee yaitu tanggal 2 Januari 1952 mempertahankan persil Krekot 28. Rapat kilat diadakan, kemudian para anggota jemaat melakukan unjuk rasa di depan Balai Pertemuan Kawula Muda itu. Kata-kata protes yang ditulis pada kain rentang pun digelar.

(Pdt. Samuel Messah melayani baptis sidi di GKI Kelinci)

Protes itu ditujukan kepada UPP dan pejabat-pejabatnya. Pihak pengunjuk rasa mendapat dukungan dari Mr. Yap Thiam Hien. Ia bertindak selaku pembela. Puji Tuhan sengketa itu akhirnya terselesaikan, bahkan Jemaat GKI Kelinci berhasil membeli persil Krekot 28 itu pada tahun 1961.

Jemaat GKI Samanhudi (Krekot) tahun 1953 – 1955 belum mempunyai pendeta sendiri. Pimpinan pelayanan dilakukan oleh Pendeta Konsulen yaitu Pendeta Samuel Messah (Tjan Tong Ho) dari GKI Gunung Sahari IV/8. Sedangkan Tan Kong Djin sebagai guru Injil.

Dalam keadaan seperti itu jemaat sangat mendambakan agar secepatnya memiliki gedung gereja yang baru. Berbagai usaha untuk memperoleh dana pembangunan dilaksanakan. Kaum wanita yang tergabung dalam Komisi Wanita (d.h. Perhimpunan Wanita Kristen) menjadi kelompok yang giat mencari dana pembangunan gereja tersebut.

Sekitar pertengahan tahun 1954, jemaat berhasil membeli dan memiliki sebuah persil tanah dengan bangunan tua di Jalan Kelinci 34 Jakarta. Di tempat itulah peletakan batu pertama pembangunan gedung gereja pada tanggal 21 Februari 1955. Setahun kemudian gedung itu rampung pembangunannya. Secara resmi diadakan kebaktian penahbisan gedung gereja tersebut pada tanggal 5 Desember 1955.

Gedung GKI Kelinci diresmikan pemakaiannya pada tanggal 5 Desember 1955.

Masa Pembangunan/Periode Kelinci (1955 – 1976)

Setelah memiliki gereja di Jalan Kelinci 34, nama Jemaat Krekot berubah menjadi Jemaat Kelinci.

Nama para anggota jemaat dan para pendeta yang berjasa dalam pengabdian serta pelayanan mereka merintis, menegakkan, memajukan kebersamaan dan kesaksian di jalan terang Tuhan sangat pantas dicatat dalam sejarah.

Pendeta Lee Sian Hui (Clement Suleeman) diteguhkan tanggal 16 Mei 1957, memasuki masa emiritus tanggal 25 November 1985. Ia berasal dari Gereja Kristus Jatinegara atau GKI Bekasi Timur. Ia sangat berjasa dalam memajukan serta membina wawasan oikumenis para anggota jemaatnya.

Ia berhasil mengukir sejarah pada tahun 1962 yaitu tahun kelahiran Sinode Am. Di GKI Kelincilah terselenggara persidangan gerejawi yang melahirkan Sinode itu.

(Para pendiri Sinode Am GKI berfoto bersama di GKI Jalan Kelinci no. 34 Jakarta pada tahun 1962)

GKI Kelinci mendapat kehormatan menjadi tuan rumah persidangan tersebut. Pendeta Clement melayani jemaat sampai akhir hayatnya. Ia kembali ke rumah Bapa tanggal 24 Agustus 1988, akibat kecelakaan lalu lintas di jalan tol Jagorawi pada saat ia menuju Wisma Kinasih untuk menghadiri acara penyatuan GKI.

(Pendeta Clement Suleeman beserta istri di antara Majelis Jemaat GKI Kelinci pada tahun pelayanan 1958 – 1959)

Penginjil Lie Beng Tjoan (Eliezer Rasmindarja) ditahbiskan sebagai pendeta untuk Sekretaris Sinode GKI Jabar. Ia anggota Jemaat Kelinci. Lebih dari dua dasawarsa, ia membantu pelayanan di Jemaat Kelinci.

Martin Jonatan, S.Th (Tan Tian Tjiang) diteguhkan sebagai tua-tua khusus tanggal 24 September 1957. Ditahbiskan sebagai pendeta tanggal 14 Maret 1959. Berstatus emiritus tanggal 2 April 1990.

Andar Ismail, S.Th (Siem Hong An) berstatus tua-tua khusus di Jemaat Kelinci sejak 26 Januari 1964. Tanggal 25 Juni 1965 ditahbiskan sebagai pendeta jemaat. Namun jemaat harus merelakan Pendeta Andar meninggalkan mereka selama dua tahun (1973 – 1975), sebab ia beralih tugas melayani di Bina Warga Cipayung atas permintaan Sinode GKI Jabar. Setelah itu ia kembali bertugas di Jemaat Kelinci. Sejak 1 September 1988 ia menjadi pendeta utusan GKI Jabar di Sekolah Tinggi Teologi Jakarta, sampai sekarang.

Pendeta Johannes Loing (Pengerja Sinode GMIM) diteguhkan sebagai pendeta Jemaat Kelinci tanggal 5 Juli 1970. Sampai dengan 30 April 1983 bertugas di Jemaat Samanhudi, kemudian ia menerima panggilan untuk melayani di GKI Kayu Putih (d.h. Ahmad Yani).

Kehidupan jemaat kian berkembang. Terbentuklah komisi-komisi dengan aneka kegiatan pelayanan. Komisi-komisi tersebut berfungsi sebagai pembantu majelis jemaat.

Tahun 1958 terselenggara Kebaktian Pemuda setiap hari Minggu. Kegiatan ini dirintis oleh Dewan Pemuda dengan tenaga khusus Ong Bik Lian. Mulailah kawula muda menabur sesuai dengan perkembangan kegiatan pemuda di GKI Sinode.

Dewan Pemuda kemudian berkembang menjadi Komisi Pemuda yang statusnya sejajar dengan komisi-komisi lain sebagai Badan Pembantu Majelis Jemaat. Komisi ini menyelenggarakan kegiatan keolahragaan, rekreasi, kepanduan, kesenian dan lain-lain. Pemuda non-GKI bahkan non-Kristen pun boleh menjadi anggotanya, karena kegiatannya bersifat ekstraorganisasi gerejawi.

Tanggal 7 Mei 1970 pertama kali diadakan pelayanan Kebaktian Remaja (usia 11 – 16 tahun). Bertempat di Krekot 28. Selanjutnya penyelenggaraan kebaktian remaja ini dipindahkan lokasinya ke GKI Jalan Kelinci No. 34. Mulai tahun 1967 prasarana pelayanannya berkembang menjadi Komisi Remaja.

Komisi Anak adalah satu-satunya komisi yang sudah terbentuk sejak periode Patekoan. Sebutannya waktu itu adalah Badan Pengurus Sekolah Minggu.

Pelayanan kepada anak kian ditingkatkan. Cabang-cabang baru pun mulai dibuka. Setiap liburan sekolah, komisi ini mengadakan Sekolah Alkitab Liburan (Vocational Bible School). Kegiatan ini sangat positif dan para orang tua menyambutnya dengan sukacita.

Komisi Dharma Sarjana terbentuk pula. Komisi ini melayani anggota jemaat yang berpendidikan tinggi dan para sarjana. Uji coba pelayanannya sekitar tahun 1966 – 1970, ternyata berkembang sangat pesat. Komisi inilah yang menjadi cikal bakal pelayanan Poliklinik, Biro Konsultasi Psikologi dan Lembaga Bantuan Hukum (LBH).

Hadir pula Komisi Dewasa-Muda (Young Adult). Komisi ini memberikan pelayanan pada anggota jemaat yang akan membentuk rumah tangga baru. Pelayanannya dirintis pada tahun 1969 -1975. Kegiatan ini berbentuk kepanitiaan dan program komisi. Kegiatannya dilanjutkan dalam Pekan/Bulan Keluarga setiap bulan Oktober (penyelenggaraannya setahun sekali).

Tahun 1968 secara struktural terbentuklah Komisi Pelawat. Komisi ini semula ditangani langsung oleh majelis jemaat. Kemudian mengikutsertakan para mantan anggota majelis. Program kerja komisi ini terbagi dalam 39 wilayah. Setiap wilayah diasuh beberapa pelawat yang bertugas menggembalakan 10 – 15 orang kepala keluarga yang menjadi anggota jemaat di wilayah masing-masing. Dalam komisi ini tercatat ada 243 pelawat.

Komisi Musik terbentuk tahun 1973. Komisi ini berperan untuk mengatur kerja sama pelayanan dan mengatur giliran paduan suara serta mengatur giliran tugas para pemain musiknya. Paduan Suara Hosiana, Jubilate, Maranatha, Gloria, Shalom, kemudian Sangkakala, Nafiri, PS Gabungan, kelompok pemain musik angklung, kolintang, band, ansambel, organis, pianis dan sebagainya.

Peristiwa-peristiwa penting dalam kurun waktu dua dasawarsa yang dijalani dalam suka dan duka oleh para jemaat tercatat sebagai berikut:

Pos PI di Jalan Teratai V/26 yang dibuka tahun 1956 lebur menyatu dengan Jemaat GKI Kampung sawah yang beralamat di Jalan Teratai V/19 (rumah keluarga Lenny Obed) pada tanggal 29 Agustus 1969.

Pos PI baru di Tangkilio/Mangga Besar yang bertempat di rumah keluarga Yahya Halim (Liem Oen Som) dibuka pada tanggal 7 November 1965. Pos PI itu didewasakan tanggal 25 Juli 1983.

Kebaktian Syukur seratus tahun Perkabaran Injil Patekoan diselenggarakan tanggal 15 Mei 1969 oleh Jemaat Kelinci dan Jemaat Perniagaan. Pada kesempatan yang bersejarah itulah kedua jemaat secara bersama-sama menerbitkan buku kenangan yang berharga bagi kehidupan jemaat untuk menelusuri jejak langkahnya.

Tahun 1970, Warta Jemaat yang berfungsi sebagai media komunikasi antarjemaat, dalam edisinya menambahkan rubrik “Tolong-Menolong”. Melalui rubrik ini para anggota jemaat dapat mewartakan tenaga kerja atau lowongan pekerjaan. Rubrik ini ternyata amat sangkil (berdaya guna).

Pos PI di Berok diserahterimakan asuhannya kepada GKI Perniagaan tahun 1968. Pos PI ini kemudian menjadi Bajem yang beralamat di Jalan Petak Asem I/6 Jakarta Utara.

Pos PI di Tangkilio didewasakan tanggal 25 Juli 1983 menjadi GKI Mangga Besar.

Gedung Krekot 28 dimanfaatkan untuk kegiatan komisi-komisi. Sebagian ruang dan kamar-kamar yang tersedia digunakan untuk pastori keluarga Pendeta Clement Suleeman tahun 1956 – 1966 dan keluarga Pendeta Andar Ismail tahun 1964 – 1973.

Dalam kurun waktu sepuluh tahun yaitu tahun 1955 – 1965 Jemaat Kelinci beranggotakan sekitar seribu orang, belum terhitung pengunjung pelajar dan pemuda yang hadir dalam Kebaktian Pemuda setiap Minggu. Perkembangan pelayanan yang semakin pesat itu kemudian dilengkapi dengan berbagai sarana pelayanan kantor gereja.

T.P. Adidjaja adalah perintis tata usahawan gereja. Dialah kepala TU GKI yang pertama. Tugasnya dimulai bulan April 1967. Setahun kemudian (1968) digantikan oleh Eddy Gunawan (mantan penatua). Setahun berikutnya (1969) digantikan oleh Frans Suhardyanto. Ia bertugas sebagai kepala kantor gereja sejak 1 September 1979. Sampai ia pensiun Februari 1992. Sebagai penggantinya ditunjuk David K. Setiadi sampai sekarang.

Yang menjadi koster gereja bertugas mulai 7 Maret 1970 adalah Tjie Hoen Giok, kemudian Suripto 1993 dan yang bertugas sebagai pesuruh di kantor gereja mulai 15 September 1979 – sekarang adalah Rojak. Koster yang bertugas rangkap sebagai pengemudi sejak 14 Juni 1976 adalah Yusak Widadya (Ngko Tjia). Ia jadi koster di GKI Samanhudi mulai tahun 1996 – sekarang.

3.3 Masa Pengembangan/Periode Samanhudi (1976 – 1998)

Jumlah anggota jemaat demikian pesat perkembangannya. Pada tahun 1974 berjumlah sekitar dua ribu enam ratus orang. Oleh karena itu Majelis Jemaat membentuk panitia pembangunan gedung ibadah yang baru di Jalan Samanhudi No. 28 Jakarta 10710. Pembangunan gedung gereja tersebut memakan waktu dua tahun.

(Dari kiri : Pdt. Clement Suleeman, Pdt. Martin Jonatan dan Pdt. Johannes Loing memimpin kebaktian peletakan batu pertama pembangunan GKI Samanhudi)

Bertepatan dengan hari raya Jumat Agung tanggal 16 April 1976, Jemaat Kelinci berpindah tempat ibadahnya ke gedung gereja yang baru, lebih besar, megah dan nyaman yaitu GKI Jabar Samanhudi. Adapun peresmian penggunaannya dilaksanakan tanggal 24 Agustus 1976. Kebaktian peresmian itu bersamaan dengan ulang tahun ke-30 Perkumpulan Pemuda (Tjheng Lian Hwee).

Tahun demi tahun bergulir terus. Kehidupan bergereja senantiasa ditingkatkan agar bertambah maju dan kian sempurna segala fasilitasnya. Akhir tahun 1990 gedung gereja tersebut mengubah wajah sehingga menjadi lebih nyaman untuk beribadah secara khusuk. Seluruh ruang ibadah sejuk karena dilengkapi penyejuk udara.

Setelah jemaatnya pindah, gedung di Jalan Kelinci digunakan untuk kegiatan badan pembantu, komisi remaja, komisi pemuda dan kegiatan ibadah lainnya. Pada tahun 1985 gedung ini diremajakan sehingga layak untuk sarana pelayanan poliklinik (yang dirintis pelayanannya sejak tahun 1976) dan Biro Konsultasi Psikologi (yang dirintis pelayanannya sejak tahun 1977). Selain itu layak pula dipergunakan sebagai tempat pertemuan. Komisi Anak juga memanfaatkan ruangan di gedung itu setiap Sabtu sore untuk mempersiapkan guru-guru Sekolah Minggu. (Sekarang dilakukan di ruang konsistori GKI Samanhudi setiap hari Minggu seusai kebaktian II).

Seiring dengan bertambah besarnya anggota jemaat bertambah pula tenaga-tenaga pengerja yang dipanggil dan disiapkan untuk melayani Jemaat Samanhudi.

  1. Pendeta Liely S. Setiadi, ditahbiskan 3 Januari 1980.
  2. Pendeta Paul Suradji, diteguhkan 6 Oktober 1983. Berasal dari Jemaat GKI Sukabumi. Pendeta Paul Suradji mengakhiri pelayanannya Juli 1994, untuk selanjutnya mutasi ke GKI Cawang.
  3. Pendeta Andi Theng, diteguhkan 12 Juli 1984. Berasal dari Jemaat GKI Halimun.
  4. Pendeta Jonatan Subianto, diteguhkan 30 Oktober 1987. Berasal dari GKI Nurdin.
  5. Pendeta Iwan Tri Wakhyudi, ditahbiskan 1 Juli 1991.
  6. Penatua Khusus Djuniasih, diteguhkan tahun 1988 di GKI Samanhudi sampai tahun 1991.
  7. Pendeta Lucia D. Widjaja, ditahbiskan 12 Desember 1994.
  8. Pendeta Frida Situmorang, ditahbiskan 29 Mei 1995.
  9. Henry Runggun, diteguhkan sebagai penatua khusus 26 Maret 1995.
  10. Pendeta Setiawan Oetama, diteguhkan 18 November 1996. Berasal dari Jemaat GKI Sunter.

Pengerja GKI Samanhudi, baris pertama : Pdt. Frida Situmorang, Pdt. Liely S. Setiadi, Pdt. Lucia D. Widjaja. baris kedua : Pdt. Em. Martin Jonatan, Pdt. Setiawan Oetama, Pnt.K Henry Runggun, S.Th. baris ketiga : Pdt. Andi Theng, Pdt. Jonatan Subianto, dan Pdt. Iwan Tri Wakhyudi.

 

 

 

 

 

Pelaksanaan Program Menyeluruh GKI Jabar Samanhudi 1981 – 1998

1. Oikumene Masyarakat (OIKMAS)

Program ini meliputi :

  1. Pelayanan Poliklinik
  2. Lembaga Psikologi atau Biro Konsultasi Psikologi
  3. Lembaga Bantuan Hukum
  4. Pelayanan Diakonia
  5. Dana Siswa
  6. Penyelenggaraan Penataran P-4
  7. Pelayanan Rohani di luar Gereja Samanhudi
  8. Pengelolaan yayasan-yayasan

(Suasana pelayanan pengobatan di Poliklinik Kelinci. Pelayanan pengobatan ini berlangsung sejak tahun 1976 sampai sekarang)

Pelayanan poliklinik menjadi berkat bagi masyarakat sekitar GKI Samanhudi. Pelayanannya kini identik dengan Balai Pengobatan biasa karena sudah dilengkapi pelayanannya selain dokter umum ada dokter gigi, tenaga paramedis dan karyawan. Pelayanan dibuka setiap hari kerja pukul 09.00 s.d. 12.00.

Setahun dua kali poliklinik ini mengadakan pelayanan pengobatan cuma-cuma kepada masyarakat. Biasanya kegiatan itu dilaksanakan dalam rangka memperingati HUT Poliklinik dan HUT Kemerdekaan RI.

Biro Konsultasi Psikologi dan Lembaga Bantuan Hukum (sekarang Klinik Hukum) GKI Samanhudi membuka pelayanan tidak terbatas bagi warga jemaat tetapi melayani juga jemaat-jemaat GKI lainnya.

Pelayanan diakonia memberikan bantuan biaya pengobatan atau biaya perawatan di rumah sakit kepada warga jemaat usia lanjut/lansia atau tunakarya,. Memberikan bantuan perbaikan tempat tinggal atau tempat penampungan saat terkena musibah kebakaran.

Dana siswa diberikan kepada anak-anak anggota jemaat yang kurang mampu. Bantuan diberikan untuk sekolah dari tingkat SD sampai dengan SLTA. Dana siswa juga diberikan kepada anak-anak yang bukan dari kalangan jemaat bahkan diberikan pula kepada anak-anak non-Kristen yang direkomendasikan oleh PGI. Penataran P4 pola 17 jam, dilaksanakan tahun 1984 – 1987 sudah sepuluh angkatan.

Bapak Silalahi, wakil walikota Jakarta Pusat sedang menyampaikan pidato sambutan pada pembukaan penataran P4 Angkatan IV – VI di GKI Samanhudi. Penataran ini berlangsung tanggal 22 – 26 Juli 1985.

Pramuka sedang mengawali acara Kebaktian HUT Proklamasi RI. Kegiatan seperti ini dilakukan setiap tahun di GKI Samanhudi.

Jemaat Samanhudi membina hubungan baik dengan para pimpinan dan staf Rumah Sakit Husada. Sejak tahun 1985 sampai kini, setiap Senin para pengerja secara bergiliran memberikan penyuluhan rohani untuk para perawat dan karyawan rumah sakit ini. Setiap Rabu pagi pendeta dan tim pelawat mengadakan kunjungan kepada pasien-pasien yang dirawat inap di rumah sakit tersebut.

Komisi Pemuda mengadakan persekutuan dengan tunawisma, kerja bakti terpadu dan lain-lain.

Pada tahun 1987 Jemaat Samanhudi merintis pelayanan Pos Kebaktian Pelayanan dan Kesaksian (KPK). Lokasinya di Citra Garden. Kemudian pada tanggal 10 April 1994 didewasakan sebagai Jemaat GKI Citra Garden.

Bajem Citra Garden menyelenggarakan aksi sosial dalam rangka Bulan Keluarga tahun 1989.

Pelayanan perdana sakramen baptis-sidi oleh Pendeta Paul Suradji di Bajem Citra Garden tanggal 27 Desember 1989.

Atas peran serta Jemaat Samanhudi, terbentuk pula Pos KPK Kelapa Gading. Kini pos itu sudah didewasakan sebagai Jemaat Kelapa Gading Indah.

Dalam tahun 1997 pula mulai dirintis pendirian pos KPK di Cimacan, sebagai sarana kebaktian bagi mereka yang sedang berlibur di daerah puncak. Juga Pos KPK di Cikarang.

Peserta rekreasi BPK Penabur KPS Jakarta tahun 1997 berkesempatan mengikuti kebaktian di Pos KPK Cimacan.

Pendeta Iwan Tri Wakhyudi, didampingi Penatua Hilda melayani baptisan anak di Pos KPK Cikarang.

Oikmas Jemaat Samanhudi sangat berperan dalam merintis, membentuk, mengasuh dan mengelola yayasan-yayasan sosial GKI Jabar yaitu Yayasan BPK Penabur, Panti Werda Kristen Hana, Perumahan Lydia, Yayasan Pemakaman Tabitha dan Yayasan Kesehatan GKI.

Secara nasional, Jemaat Samanhudi berperan serta di PGI dan PGIW.

2. Kebersamaan

Porsi yang terbesar dalam pelaksanakan kebersamaan adalah berbagai macam kebaktian. Dalam berbagai kebaktian yang diselenggarakan setiap hari Minggu, Jemaat Samanhudi menjalin persekutuan, pelayanan dan kesaksian.

Kebaktian Umum berlangsung pukul 06.30, pukul 08.30 dan pukul 18.00.

Kebaktian Anak Sekolah Minggu diselenggarakan di enam cabang: Pintu Besi, Pembangunan, Batu Ceper, Taman Apel, Mangga Besar dan Kwitang.

Kebaktian Remaja diselenggarakan di Jalan Kelinci No. 34 pukul 07.00.

Kebaktian Pemuda dimulai pukul 16.00 di GKI Samanhudi.

Kebaktian-kebaktian lain yang sederhana dan acaranya lebih luwes (fleksibel) juga ada. Kebaktian seperti ini disebut Persekutuan.

Kebersamaan bentuk lain adalah persekutuan Doa Pagi. Sepuluh sampai dua puluh lima orang anggota jemaat secara teratur dan rutin menjalin kebersamaan dalam doa pagi pukul 07.00-07.30 setiap Senin sampai dengan Sabtu, kecuali bila libur resmi.

Kebersamaan di wilayah domisili para anggota jemaat juga ada yaitu Persekutuan Wilayah yang dijadwalkan setiap Jumat pukul 19.00. Setiap tahun dalam kegiatan ini terselenggara Bulan Keluarga yaitu setiap bulan Oktober.

Malam Hening menjelang Sakramen Perjamuan Kudus juga merupakan kegiatan kebersamaan yang diarahkan untuk mempersiapkan anggota jemaat memenuhi undangan perjamuan kudus. Akhir-akhir ini Malam Hening diganti dengan sensoramorum bagi majelis jemaat, sedang jemaat dipersiapkan melalui Kebaktian Minggu, dua minggu berturut-turut menjelang Perjamuan Kudus.

Malam Puji Doa (MPD) diselenggarakan setiap Senin. Kegiatan itu kini bernama Malam Bina Bersama. Frekuensi pelaksanannya hanya sebulan sekali.

Kelompok Kerja Pelayanan (KKP) Pelawat dan KKP Kedukaan senantiasa memberikan perhatian khusus pada kehidupan jemaat dalam berbagai peristiwa seperti kelahiran, kematian, sakit, pindah rumah dan sebagainya. Para pendeta bersama para pelawat menentukan jadwal kunjungan bulanan ke rumah-rumah anggota jemaat di tiap-tiap wilayah. Saat ini jumlah pelawat sekitar 245 orang. Pada waktu berkunjung para pelawat menyampaikan Surat Bulanan, Sampul Persembahan, Undangan Perjamuan Kudus, Buku Santapan Rohani dan lain-lain.

Jemaat Samanhudi memiliki Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) yang berfungsi sebagai penasehat majelis jemaat khususnya dalam penelitian dan pemikiran konsepsi perencanaan serta strategi pengembangan Jemaat Samanhudi.

Program kebersamaan lainnya yang dilakukan oleh Jemaat Samanhudi ialah Program Konsistorium, Klasis, dan Sinode. Dalam kegiatan ini dilakukan pertukaran penatua pada minggu ketiga, dan pengkhotbah secara berkala pada minggu keempat dan minggu kelima sebulan sekali. Kunjungan serta perhatian antarjemaat se-Sinode GKI dalam rangka HUT, penahbisan, peneguhan, peresmian tempat ibadah dan sebagainya menjadi bukti kebersamaan saling mengisi antarjemaat Samanhudi dengan jemaat-jemaat GKI Jabar serta GKI lainnya.

3. Pembinaan

Program pembinaan yang telah diselenggarakan di GKI Samanhudi meliputi:

  1. Program pembinaan penatua diadakan setiap tahun menjelang tahun pelayanan baru, dilaksanakan sejak tahun 1990 sampai sekarang.
  2. Penyuluhan Pranikah, diadakan dua kali dalam setahun sejak tahun 1980. Penyuluhan ini menjelaskan tentang kehidupan pranikah ditinjau dari segi teologi, seksiologi, psikologi, keuangan, hukum, dan medis. Seiring meningkatnya kebutuhan, bina pranikah kini diadakan tiga kali setahun.
  3. Program pasangan suami istri (pasutri), diadakan dalam rangka menyambut Bulan Keluarga tahun 1987, 1990, 1996, dan 1997.
  4. Katekisasi Akhir Pekan bagi calon baptis sidi. Program ini merupakan penyegaran khusus dimaksudkan untuk melengkapi pelajaran agama yang telah diperoleh para calon baptis sidi.
  5. Penyuluhan bagi ayah bunda yang ingin menyerahkan anaknya untuk menerima sakramen baptis anak. Materi penyuluhan meliputi seluk beluk kesehatan/penyakit anak, kepribadian dan jiwa anak serta cara membimbing perkembangan rohani anak.
  6. Pemahaman Alkitab Wilayah (PAW), diselenggarakan secara bergiliran setiap Kamis pukul 19.00 di rumah-rumah anggota jemaat. Penyelenggaraan program ini dimulai sejak tahun 1987 dilayani oleh semua pendeta, penatua dan koordinator, juga dibantu oleh pendeta jemaat GKI lainnya. Sedangkan Pemahaman Alkitab Wilayah dalam bahasa Inggris diselenggarakan sebulan sekali di GKI Samanhudi atau di Jalan Kelinci No. 34 sejak tahun 1990. PAW ini dipimpin oleh Pendeta Andar Ismail.
  7. Pelayanan Komisi Manula (sekarang Lansia), dilakukan sejak tahun 1988. Setiap Selasa pagi diadakan persekutuan Lansia. Secara periodik (dua atau tiga bulan sekali) diselenggarakan ceramah yang disesuaikan dengan kebutuhan Lansia. Setahun sekali diadakan retret bermalam ke luar kota.
  8. Penerbitan majalah berkala Pelangi. Penerbitan majalah ini bertujuan untuk membina kebersamaan, penghayatan kegiatan dalam forum tulisan. Majalah ini diterbitkan pertama kali pada tahun 1983 – sekarang.
  9. Perpustakaan terletak di Jalan Kelinci Raya No. 34 Jakarta. Perpustakaan ini merupakan sarana penyiapan sumber pengembangan jemaat. Perpustakaan dilengkapi dengan bacaan-bacaan Kristen dan bacaan lainnya. Penyelenggaraan perpustakaan dimulai sejak tahun 1989.
  10. Penerbitan buku ‘Bunga Rampai Pegangan Ajaran GKI’, yang berisikan berbagai keputusan PMS GKI dan tulisan-tulisan mengenai GKI. Buku ini diterbitkan bulan Oktober 1990.
  11. Kebaktian Pentakosta dan KPI. Diselenggarakan setiap tahun.
  12. Penerbitan kumpulan renungan pilihan dari para pendeta GKI Samanhudi yang diambil dari Warta Jemaat (Buku I telah terbit September 1997).
  13. Buku Pedoman Pelawat, dan Buku Pedoman Majelis Jemaat, diterbitkan sebagai pegangan untuk majelis dan para pelawat menunaikan pelayanannya.

4. Sarana dan Prasarana (SARPRAS)

Tugas dan kewajiban pelayanan SARPRAS mencakup penyediaan segala sarana dan prasarana yang diperlukan dalam pelaksanaan program kerja tahunan. Program tahunannya disusun oleh Majelis Jemaat dalam raker tahunan di Bina Warga.

Setiap minggu SARPRAS harus menyiapkan minimal dua ribu eksemplar Warta Jemaat, dan setiap bulan mengirimkan kira-kira 2.500 eksemplar Surat Bulanan dilampiri sampul-sampul persembahan dan kartu undangan Perjamuan Kudus, serta Buku Santapan Harian.

Dengan semakin meningkatnya penggunaan teknologi canggih maka peran SARPRAS semakin meningkat pula. SARPRAS telah melengkapi pelayanan gerejawi dengan berbagai macam peralatan modern seperti mesin fotokopi, komputer, sistem telepon yang dilengkapi PABX dan interkom.

Sebuah mesin cetak offset mini juga melengkapi kebutuhan dalam pencetakan Warta Jemaat dan buku-buku lainnya. Akhir-akhir ini SARPRAS mulai melihat adanya kebutuhan perluasan lahan, karena kurangnya ruang untuk menampung kegiatan di gereja, dengan enam ribu dua ratus anggota jemaat.

Demikianlah mengenai program kerja GKI Samanhudi saat ini (1998). Kami cantumkan pula kegiatan sepekan di gereja. 

MINGGU

06.30 Samanhudi Kebaktian Umum I

08.30 Samanhudi Kebaktian Umum II

18.00 Samanhudi Kebaktian Umum III

07.00 Kelinci Kebaktian Remaja

07.30 Pembangunan Kebaktian Remaja

08.30 lima tempat Kebaktian Anak

10.30 Samanhudi Persiapan Guru Sekolah Minggu

16.00 Samanhudi Kebaktian Pemuda

16.00 Kelinci Katekisasi

SENIN

07.00 Samanhudi Doa Pagi

10.00 Samanhudi Senam Wanita

SELASA

07.00 Samanhudi Doa Pagi

09.00 Samanhudi Katekisasi

10.00 Samanhudi Persekutuan Lansia

18.30 Samanhudi Katekisasi

R A B U

07.00 Samanhudi Doa Pagi

10.00 Samanhudi Persekutuan Wanita

18.00 Samanhudi Katekisasi

KAMIS

07.00 Samanhudi Doa Pagi

10.00 Samanhudi Senam Wanita

19.00 Rumah Anggota Pemahaman Alkitab Wilayah

JUMAT

07.00 Samanhudi Doa Pagi

07.30 Samanhudi Pertemuan para Pengerja

10.00 Samanhudi Pemahaman Alkitab Wanita

18.30 Samanhudi Persekutuan Pemuda

SABTU

07.00 Samanhudi Doa Pagi

16.00 Pintu Besi Latihan Pramuka

 

Catatan :

  1. Kelompok Kerja Pelawat melawat setiap Selasa dan Kamis ke rumah anggota jemaat.
  2. Kebaktian pemberkatan nikah biasanya setiap hari Sabtu.
  3. Persidangan majelis jemaat Rabu petang.
  4. Pelayanan pastoral oleh pengerja (secara bergiliran) Selasa sampai dengan Sabtu.
  5. Aneka pelayanan lainnya : psikologi, klinik hukum dan poliklinik umum/gigi.

Pengerja dan Majelis Jemaat GKI Samanhudi tahun pelayanan 1998-2000 “Terus Bekerja Menghasilkan Buah”