MENJALANI HIDUP YANG TAK PASTI

Kebaktian Pra-Paskah 2, tanggal 12 Maret 2017.

“Apakah anda menjalani hidup yang tak pasti? Bagaimanakah anda bisa mengetahui apa yang akan terjadi dengan anda esok hari? Menjadi tua itu apakah pasti bagi yang muda?” Demikian beberapa pertanyaan menggelitik yang diajukan oleh Pendeta Rinto Tampubolon dalam mengawali kotbahnya dalam Kebaktian Umum 1 dan 2.

Berbahagialah Bapak Ibu yang sudah menjadi tua..karena tidak selalu manusia itu menjadi tua. Ada yang di usia remaja/ pemuda selesai…dan tidak pernah menjadi tua..

Pendeta Rinto mengilustrasikan seorang tetangga yang menanam pohon jati, dengan harapan pohon jati tersebut dapat dijual bila ia membutuhkan uang. Menunggu hingga sepuluh tahun, tiba-tiba pohon tersebut terbakar. Dia merasa sangat kehilangan karena masa depannya bergantung pada pohon tersebut. “Apakah betul hidup ini tidak pasti? Kalau tidak pasti untuk apa kita hidup?” Demikian pertanyaan lanjutan yang dilontarkan oleh Pendeta Rinto.

Kotbah dilanjutkan dengan mengangkat kisah Abraham. Bagaimana Abraham dipanggil di saat kehidupannya nyaman. Sesuai kejadian 12: 1-4, Abraham istimewa di mata Allah, karena dia percaya akan rencana Allah meski dia belum melihat rancangan yang besar itu. Dalam ketidakpastian perjalanan menuju tanah perjanjian, Abraham memilih percaya bahwa Tuhan senantiasa menyertai dan tahu Tuhan ada bersama dengan dia. Allah tidak merancangkan hal-hal yang buruk tapi hal-hal yang baik. Lalu bila memang demikian, mengapa kita harus mengalami penderitaan di dalam dunia ini? Demi menyempurnakan kita untuk kehidupan yang disiapkan Allah bagi kita kelak. Dalam Yohanes 3:1-17, seorang ahli taurat yang bernama Nikodemus, mempelajari dan mengamati apa yang sebenarnya yang ada pada diri Yesus di zaman itu. Nikodemus melihat fenomena kehadiran Yesus yang mengusik semua ahli taurat. Hal inilah yang mendorong Nikodemus mencari Yesus untuk dapat bercakap langsung denganNya. Dia melihat dan merasakan bahwa hadirat Tuhan hadir dalam diri Yesus.

“Nah, untuk dapat melihat kehadiran Tuhan dalam kehidupan harus memohon pertolongan Roh Kudus.” Tuhan bersama kita…mendampingi kita…menopang kita sehingga tidak sampai tergeletak. Kalimat ini menutup kotbah yang disampaikan Pendeta Rinto.

0 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *