MAKRINA DARI KAPADOKIA

Diambil dari Warta Jemaat 17 September 2017.

Makrina lahir pada tahun ±330 di Kaesarea Kapadokia (sekarang wilayah Turki). Ia adalah anak pertama dari pasangan suami istri, Basilius Tua dan Emmelia. Ia memiliki delapan orang adik, terdiri atas empat adik perempuan dan empat adik laki-laki. Keempat adiknya yang laki-laki diketahui namanya secara pasti, yaitu: Basilius Muda yang kemudian menjadi seorang Penilik atau Uskup (episkopos) di Kaesarea, Gregorius yang menjadi Penilik di Nyssa, Petrus yang menjadi Penilik di Sebaste Armenia, dan Naukratius yang memilih kehidupan menyendiri untuk tujuan rohani di pegunungan Pontus dan tewas ketika berburu.

Ayah Makrina adalah seorang guru sastra dan kebudayaan Yunani-Romawi. Pada waktu Gregorius masih kanak-kanak, sang ayah meninggal dunia. Ibu Makrina, Emmelia, adalah seorang Kristen yang menaruh perhatian serius terhadap kehidupan rohani anak-anaknya. Ketika suaminya meninggal, Emmelia sempat mengalami kesusahan dalam mengurus kehidupan keluarga. Emmelia harus menjalani hidup sebagai single parent yang merawat dan mengasuh sembilan anaknya. Sebagai anak pertama, Makrina membantu Emmelia untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Makrina dan ibunya berusaha membimbing seluruh anggota keluarga, termasuk juga pelayan-pelayan rumah, untuk menjalani laku hidup yang mengarahkan hati kepada Tuhan saja, bukan kepada hal-hal yang bersifat material duniawi (the immaterial way of life) dan sekaligus laku hidup yang mencintai kebanaran sejati berdasarkan firman Tuhan (the philosophical way of life). Demikianlah keluarga ini mengembangkan sebuah komunitas rohani yang lebih berangkat dari persekutuan kasih keluarga. Komunitas ini kelak dikenal sebagai “rumah tangga kudus” (the pious household).

Atas keteladanan yang telah ditunjukkan oleh Makrina, Gregorius sang adik menuliskan secara khusus kisah hidup Makrina dalam traktat Hidup Makrina (Vita Macrinae). Menurut Gregorius, Makrina adalah seorang yang sungguh menunjukkan diri sebagai pribadi penuh kasih dan hikmat di tengah pergumulan keluarga. Sebenarnya Makrina sendiri sempat bergumul dengan dirinya sendiri ketika tunangannya meninggal secara tiba-tiba. Makrina terpukul oleh peristiwa itu. Namun, pelan-pelan ia pun bangkit dari kesedihan dan kekecewaan yang mendalam itu. Ia berhasil memaknai peristiwa tentang kematian orang yang dicintainya. Oleh karena karunia Roh Kudus, Makrina mampu menjadikan kenangan masa lalu yang berbeban berat itu sebagai kenangan yang berhikmat berkat. Makrina berhasil keluar dari lubang gelap dukacita hidupnya.

Berkali-kali Gregorius menuliskan kakaknya sebagai “the great Macrina”, “Makrina yang agung”, sebuah pujian yang mengungkapkan kekaguman Gregorius atas laku hidup rohani Makrina. Gregorius melihat dan mengalami sendiri bahwa Makrina benar-benar telah menolong dan membimbing seluruh anggota keluarga dalam terang Injil Tuhan Yesus Kristus. Dua gambaran tentang Makrina diungkapkan oleh Gregorius. Pertama, gambaran Makrina sebagai Thekla, seorang perempuan yang dikenal sebagai pengikut Rasul Paulus. Dengan gambaran ini Gregorius mau menyampaikan bahwa Makrina adalah seorang guru, pemberita Injil Yesus Kristus, dan pemimpin kepada pengajaran rasul-rasul Kristus. Kedua, gambaran Makrina sebagai Sokrates, seorang filsuf besar dari Yunani. Dengan gambaran ini Gregorius mau mengungkapkan bahwa Makrina adalah seorang pecinta kebenaran sejati berdasarkan firman Tuhan. Sebagai pecinta kebenaran sejati, inilah yang dilakukan Makrina ketika membaca dan mempercakapkan firman Tuhan: ia tidak berhenti pada euforia, yaitu perasaan nyaman atau perasaan gembira yang berlebihan, yang bersifat sesaat atau sementara, tetapi ia memilih untuk masuk kepada aporia, yaitu perasaan resah oleh karena menyadari diri tak layak atau tak mampu menangkap kebenaran yang sejati. Aporia itu terbukti membuat Makrina bergairah mendalami firman Tuhan, bahkan bergairah mempraktikkan firman Tuhan demi kebenaran yang sejati.

Pada tahun 379 Makrina meninggal dunia karena sakit. Selama hidupnya Makrina tampil sebagai pribadi yang menjadi sahabat Allah, yaitu dengan membaktikan hidupnya untuk pekerjaan-pekerjaan Allah di tengah kehidupan keluarga dan masyarakat.

Dari kisah hidup Makrina dari Kapadokia, kita sebenarnya dapat memetik banyak pelajaran yang baik bagi kehidupan kita sekarang ini. Saya sendiri, dari Makrina, belajar tentang seorang pribadi yang berhasil keluar dari lubang hitam masa lalunya, lalu bangkit, dan dengan penuh gairah menempuh perjalanan hidup, merayakan kehidupan di dunia ini, menuju masa depan, demi mencari kebenaran yang sejati berdasarkan firman Tuhan yang abadi.

0 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *