KONFLIK DAN MASALAH DALAM KELUARGA

Diambil dari Warta Jemaat 29 Oktober 2017.

Apakah ada keluarga yang hidupnya tanpa konflik dan masalah? Konflik
dan masalah hanya akan berhenti bila seseorang sudah meninggal dunia.
Artinya , selama kita hidup, kita pasti akan mengahadapi dan mengalami
konflik dan masalah. Persoalan utamanya adalah ; bisa atau tidaknya kita
mengatasi dan mengelola konflik dan masalah tersebut dengan benar dan
sabar. Karena kita bertumbuh atau tidak, faktor faktor itulah yang menentukan.
Seseorang diukur kedewasaannya ketika dia mampu mengatasi konflik dan
masalah yang ada dalam hidupnya. Semakin kita sanggup mengatasi dan
mengelola konflik-konflik yang ada, semakin kita memiliki pengalaman untuk
dapat „melewati‟ kehidupan pribadi mau pun keluarga dengan tenang dan
damai.

Konflik dan masalah akan bertambah besar dan hebat ketika masing-
masing anggota keluarga terlalu menuntut satu sama lain , menjadi sosok yang sesuai dengan keinginannya. Konflik dan masalah tak akan dapat terselesaikan
jika masing-masing anggota keluarga merasa paling benar, paling bijak dan
paling berkuasa. Menuntut seseorang untuk menjadi sosok yang sesuai dengan
keinginan kita, hanya akan membuat frustrasi diri sendiri dan kita akan
semakin sewot dan ngomel terus. (seperti suara „radio rusak‟)

“There is no perfect life”, begitu kata orang bijak. Kehidupan yang
sempurna hanya akan kita terima ketika kita kembali ke rumah Bapa di surga.
Selama kita hidup di dunia ini, kita tak akan menemukan kehidupan yang
benar-benar sempurna, karena tiap orang punya kelemahan dan siapapun
dapat berbuat salah. Hanya orang-orang yang sombong dan „keblinger‟ lah
yang merasa dirinya paling-paling dan itu cuma bikin pening dan pusing orang
lain. Dalam keluarga pun, sehebat dan seromantis apapun kelihatannya (krn banyak yang pintar „tebar pesona‟) akan selalu ada dan dapat ditemukan hal-
hal yang „tidak beres‟. Yang pernah terjadi atau sedang terjadi. Tetapi ada banyak orang-orang yang pandai „bersandiwara‟.

Lalu bagaimana mengatasi konflik dan masalah dalam keluarga ?
Yang pertama adalah “mencegah konflik / masalah” dan yang kedua adalah
“Mengatasi / mengobati konflik / masalah”. Pada dasarnya mencegah tentulah
lebih baik daripada mengobati.

Konflik dan masalah dapat terjadi ketika masing-masing tidak menjadi
pendengar yang baik,ketika salah satu pihak tidak menghargai pembicaraan
alam suatu dialog. Apalagi jika salah satu pihak merasa dirinya lah yang paling
benar dan bijak. Apalagi jika memang sudah punya perasaan „sentimen‟ dan hobbynya cari-cari masalah dan kurang kerjaan. Sebab memang ada orang-
orang yang lebih suka „ribut‟ daripada damai. Entah karena warisan orang tuanya atau memang karena „rada-rada‟. Padahal konflik dalam keluarga adalah‟sasaran‟ empuk untuk iblis. Waktu suami-istri bertengkar dalam konflik,
iblis tepuk tangan dan membisikan kata-kata: „ayo semangat‟, sikaat terus
sampai habiiisss. Maka masing-masing pihak akan habis-habisan bertengkar
dalam konflik. Dan mungkin para tetangga akan menyaksikan „sinetron‟ dengan
gratis. Anggota keluarga seyogyanya menyadari kelemahan masing-masing,
tak usah merasa rugi atau „dilecehkan‟ ketika mendapat teguran atau ketika
diingatkan akan kesalahannya. Sayangnya banyak orang yang lebih
mempertahankan „gengsi‟ daripada mengakui kesalahan yang ada. Orang
memang lebih suka menuntut „dihargai‟ dan dihormati, daripada menghargai
dan menghomati orang lain.

Konflik dan masalah tak terpisahkan dari kehidupan manusia sesehari,
siapapun dia. Kita memang merasa punya masalah ketika harapan tidak sesuai
dengan kenyataan. Kita sering merasa sudah „dekat‟ satu sama lain dalam
kehidupan suami-istri. Tetapi ketika ada sedikit saja yang tak sesuai dengan
perasaan, pemikiran dan keinginan kita, kita mulai pasang kuda-kuda dan
mengambil ancang-ancang untuk „menyerang‟. Di sinilah diuji „kedewasaan‟
kita. Kita tak usah menuntut orang lain bersikap bijak, mulailah dari diri sendiri.
Terimalah kelemahan dan kekurangan yang ada dan tak usah iri apalagi
dengki, jika kenyataannya bahwa kita memang tidak memiliki kelebihan yang
pasangan kita miliki. Berani mengakui kelebihan orang lain dan menghargainya,
adalah bagian dari wujud menghargai anugerah Tuhan. Karena itu kita
seharusnya mau belajar rendah hati dan belajar untuk memperbaiki kekurangan
dan kelemahan yang ada dalam diri sendiri. Menyadari kekurangan diri dan
membenamkan hati kita ke dalam keinsyafan bahwa kita membutuhkan orang
lain untuk berbagi, saling mengisi dan saling melengkapi. Sejatinya, konflik
adalah merupakan pembelajaran sikap hidup, pendewasaan berpikir dan
pematangan jiwa seseorang. Tak usahlah „memasung‟ hati kita dalam
„kebencian‟ dan rasa angkuh, karena itu bukanlah ciri orang yang memiliki kasih
Tuhan.

0 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *