KELUARGA

Diambil dari Warta Jemaat 1 Oktober 2017.

Apakah anda masih ingat lirik lagu dari film „keluarga cemara?‟
sepenggal lirik lagu itu syairnya „harta yang paling berharga adalah
keluarga, mutiara tiada tara adalah keluarga….‟. Film yang
mengisahkan tentang kasih sayang nan indah antara orang tua dan
anak anaknya, walau mereka hidup sederhana. Keluarga cemara
memang tidak hidup berlimpah harta, tetapi mereka „kaya‟ dengan
saling pengertian, saling menghargai dan peduli satu sama lain .
Selalu ada perhatian, pengertian dan pengharapan di tengah-tengah
berbagai pergumulan. Sebuah film yang sarat dengan makna yang
luhur bagi kehidupan keluarga. Apalagi di tengah-tengah kehidupan
yang mengutamakan „harta‟, jabatan dan kenikmatan.

Dalam kitab Kejadian 2 : 18 – 25, dikisahkan karya indah Allah
dalam wujud keluarga pertama di dunia. Allah tak ingin Adam hidup
seorang diri mengelola bumi ini. Allah tahu harus ada penolong bagi
Adam, sang laki-laki. Allah pun menciptakan Hawa, mahluk yang
disebut „perempuan‟, yang diciptakan Allah dari tulang rusuk Adam
agar mereka berdua melangkah sepadan. Saling tolong menolong,
bukan saling „todong-menodong‟. Sepadan juga berarti, baik yang
ditolong maupun yang menolong tidak merasa lebih „tinggi‟ atau lebih
„rendah‟.

Karya Allah ini menyadarkan kita bahwa sebuah keluarga
terbentuk atas rencana dan kehendak Allah. Dan karena manusia
diciptakan oleh Allah menurut rupa dan gambar-Nya, maka berarti
setiap keluarga harus hidup sebagaimana Allah hidup. Keluarga
seharusnya menjadi „fotokopi‟, kehidupan Allah, meneladani Dia.
Berkomunitas dan berkomunikasi sesuai dengan yang Allah kehendaki, sehingga setiap keluarga benar-benar menjadi reflektor
Allah.

Hari ini tanggal 1 Oktober 2017, bulan Keluarga GKI
Samanhudi dimulai. Berbagai acara telah disusun dan direncanakan.
Melalui acara-acara yang ada, kiranya diminati dan dihadiri oleh
keluarga-keluarga GKI Samanhudi, kita bersama belajar untuk terus
memelihara dan menumbuhkan cinta kasih dalam keluarga.
Sehingga rumah menjadi tempat tinggal sebuah keluarga, tidak hanya
menjadi pelindung dari teriknya sinar matahari atau dinginnya hujan.
Namun juga menjadi tempat untuk berbagi suka dan duka, saling
menghargai dan menopang, saling menguatkan. Sebagai tanda
bahwa rumah adalah bukan sekedar bangunan, tetapi tempat untuk
mewujudkan kasih Tuhan.

Kiranya rumah keluarga kita boleh senantiasa menjadi sumber
kehangatan, tempat belajar dan bertumbuh, sekaligus menjadi tempat
pemulihan diri dari segala persoalan yang menindih hati. Sehingga
rumah senantiasa menjadi tempat yang dirindukan oleh tiap anggota
keluarga. Berikut ini ada sebuah kutipan dari sebuah catatan
seseorang yang merantau jauh dari sanak keluarganya:

“Wherever people go
Whatever they may invent
They will never discover
Anything better than a family…”
Bless this house, Ooo Lord Jesus‟.

 

0 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *