KELUARGA BAHAGIA DAN SIKAP MURAH HATI

Diambil dari Warta Jemaat 22 Oktober 2017.

Apakah sikap murah hati ada hubungannya dengan kebahagiaan
keluarga? Sesungguhnya ada keterkaitan yang erat, antara kebahagiaan
keluarga dengan sikap murah hati. Tak ada keluarga yang bahagia jika
anggota keluarganya bersikap pelit/kikir, baik terhadap satu sama lain maupun
dengan orang lain. Karena itu jika kita ingin membangun keluarga yang
bahagia, bersikaplah murah hati. Bagaimanakah kita belajar untuk bersikap
murah hati?. marilah kita coba melihat dan merenungkan beberapa pelajaran
yang dapat kita petik dari Injil Markus 12 : 41 – 44.

Dalam kisah „Persembahan seorang janda yang miskin‟, kita melihat
bahwa tak ada seorangpun yang memaksa janda yang miskin itu untuk
memberi persembahan kepada Tuhan. Janda itu memberi persembahan
dengan suka rela dan sukacita. Hal ini menandakan bahwa ia mendengarkan
„suara hatinya‟, bukan suara pikiran atau logikanya. Jika ia mendengarkan
pikirannya, mustahil ia mau memberi persembahan, sebab ia tidak lagi
mempunyai uang. Logikanya akan menyuruhnya untuk menyimpan uang itu
dan menunda untuk memberi persembahan kepada Tuhan. Orang yang murah
hati, adalah orang yang mendengarkan suara hati, ketimbang suara pikiran.
Alangkah bahagia nya bila anggota keluarga memiliki sikap seperti itu. Ia akan
menjadi berkat, bukan sekedar saluran berkat, bagi sesamanya.

Janda miskin itu memberi dari kekurangannya, bukan kelimpahan.
Memberi adalah sebuah tindakan yang mengharuskan kita „keluar‟ dari diri
sendiri dan „masuk‟ ke dalam diri orang yang akan menjadi penerima
pemberian kita. Janda miskin itu tidak melihat ke dalam dirinya, melainkan
kepada Tuhan yang layak menerima persembahannya. Ia memberi, sebab ia
tidak memikirkan dirinya sendiri. Orang yang memberi adalah orang yang ber
„ego‟ kecil; focus perhatiannya adalah pada orang lain. Betapa bahagianya
keluarga bila para anggota keluarganya tidak egois, tetapi senantiasa mau
berbagi (harta, benda, perhatian, kasih sayang ).

Janda miskin itu memberikan semua uangnya yang ada, ia tidak
menyisakan apapun. Ini pertanda ia mempertaruhkan hidupnya pada
kemurahan Tuhan. Ia menaruh keyakinan bahwa Tuhan akan memelihara
hidupnya. Dan itu lah yang disebut beriman. Mempercayakan diri pada kemurahan Tuhan. Ia tidak takut kekurangan,dan banyak orang biasanya selalu
merasa kurang,kurang,kurang. Lama kelamaan ia akan menjadi kurang ajar
dan selanjutnya jadi kurang waras. Banyak keluarga-keluarga yang
sesungguhnya berkecukupan bahkan berkelebihan, tetapi sayang, mereka
selalu merasa kurang,kurang dan kurang.

Dari hal-hal di atas tadi, kita melihat bahwa sikap memberi atau murah
hati, keluar dari :
a. Lebih banyak HATI
b. Lebih banyak IMAN, dan
c. Lebih sedikit DIRI SENDIRI.

Kini coba kita hubungkan terapkan pelajaran dari janda miskin itu
dalam kehidupan keluarga. Kehidupan keluarga sesungguhnya membutuhkan
lebih banyak hati. Yang dimaksud dengan hati di sini adalah bagian terlembut
pada diri kita. Inilah bagian dari diri kita yang berisi kasih dan belas kasihan.
Sayangnya banyak keluarga yang kehilangan kasih dan tak punya nurani.
Karena itu sering-seringlah berbuat sesuatu kepada pasangan atau anggota
keluarga berdasarkan suara hati.

Kehidupan keluarga membutuhkan lebih sedikit diri. Kita seyogyanya
memberi perhatian yang lebih besar kepada tiap anggota keluarga. Kita belajar
untuk tidak egois, tetapi berusaha untuk sedapat mungkin untuk memberi yang
terbaik kepada anggota keluarga, untuk membahagiakannya dengan tulus.
Kehidupan keluarga membutuhkan lebih banyak iman. Ada banyak
permasalahan dalam keluarga yang dapat memicu konflik, dan sebagian besar
adalah berasal dari kurangnya iman. Karena kurang beriman, maka
orang/anggota keluarga mengkhawatirkan kondisi keuangan dan mulai
menuntut dan mengeluh tiada henti,dan mulai menyalahkan pasangan atau

anggota keluarganya. Karena kurangnya iman, maka ada banyak kecemasan-
kecemasan yang menggerogoti ketenangan keluarga. Seharusnya keluarga

belajar untuk lebih mempercayakan diri kepada kemurahan Tuhan dan
kesetiaan-Nya. Makin kita berserah kepada-Nya, makin sedikit tekanan hidup
dan makin besar sukacita. Anda ingin menjadi keluarga yang bahagia,
bermurah hatilah. Tuhan memberkati keluarga yang murah hati dengan
kebahagiaan yang sejati.

0 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *