KELUARGA BAHAGIA DAN KELUARGA YANG TAMPAK BAHAGIA

Diambil dari Warta Jemaat 15 Oktober 2017.

Ada sebuah kisah imajiner tentang keluarga yang tampak bahagia. Kisah
tentang Davit dan Laura istrinya. Mereka dikenal oleh masyarakat luas sebagai
keluarga yang bahagia. Pasangan ini tinggal di sebuah desa di pinggir kota yang
jauh dari keramaian.
Sudah sekian puluh tahun mereka berumah tangga dan belum pernah mengalami
konflik yang berkepanjangan. Banyak orang yang memuji kehidupan rumah tangga
mereka yang tampak begitu indah dan serasi. Bahkan tak jarang orang iri terhadap
keharmonisan keluarga mereka. Sedemikian inspiratif kehidupan keluarga Davit
dan Laura, sampai sebuah tabloit nasional mewawancarai mereka mengenai
rahasia pernikahan bahagia mereka. Saat diwawancara, Davit membuka rahasia
pernikahan mereka.
Berikut penuturan Davit :
Peristiwa ini terjadi sekitar 50 tahun lalu. Saat itu kami sedang berbulan madu.
Kami berdua sedang menunggang kuda melewati sebuah kebun anggur yang luas,.
Tiba-tiba kuda yang ditunggangi Laura tersandung dan ia pun terjatuh. Tetapi Laura
bangkit dengan wajah yang gembira dan sama sekali tidak marah. Ia hanya
mengucapkan satu kata :‟1SEKALI‟. .lalu ia pun kembali menunggangi kudanya.
Beberapa menit kemudian, kudanya kembali tersandung dan Laura jatuh untuk ke
dua kalinya. Lagi-lagi ia bangkit dengan wajah yang tetap tersenyum. Ia hanya
berkata :‟ DUA KALI‟. Saya kagum dengan sikapnya yang santun dan sabar itu.
Saat akan kembali ke villa tempat kami menginap, kuda yang ditunggangi Laura
kembali tersandung dan membuat Laura terjatuh untuk ke tiga kalinya. Kali inipun
Laura tetap menunjukkan wajah yang menyenangkan. Tapi kali ini ia mengeluarkan
pistol dari dalam tasnya, dan ….‟door!‟. dia menembak mati kuda tersebut.

Davit sangat terkejut dengan reaksi Laura dan langsung membentak
dengan keras, „heii, apakah kamu sudah gila ?mengapa kamu menembak mati
kuda itu ? itu bukan kuda kita!‟. Laura menatap Davit dengan wajah yang lembut
dan hanya mengucapkan satu kata :SEKALI‟. Sejak hari itulah kami tak pernah
bertengkar sekalipun; dan itulah rahasia bagaimana pernikahan kami bisa bertahan
dengan damai sampai 50 tahun lebih.

Kisah imajiner tentang keluarga Davit dan Laura tadi menggambarkan
sebuah kehidupan keluarga yang nampaknya bahagia. Dan kadang kita memang
mudah tertipu oleh penampilan orang/keluarga yang tampak harmonis dan
bahagia. Padahal kita tidak tahu apa yang ada dibalik tampilan tersebut. Sering
kita jumpai keluarga yang dipuja dan dipuji orang banyak, sering membuat orang iri, padahal mereka „menyimpan‟ sesuatu yang pelik dan „menekan‟. Memang banyak
keluarga keluarga yang pandai „bersandiwara‟ dan „tebar pesona‟.

Semua orang mendambakan kehidupan keluarga yang harmonis yang
bahagia. Tetapi sayangnya itu hanya impian kosong belaka. Mereka ingin bahagia,
namun hanya menuntut dan mengharapkan pasangannya membahagiakan dirinya,
menuruti segala keinginannya, tanpa berupaya memberikan yang terbaik bagi
pasangannya. Mereka hanya ingin menuntut , tanpa saling menuntun. Betapa banyak sesungguhnya pasangan yang egois, namun kelihatan di depan orang-orang, mereka harmonis. Mereka berupaya menampakkan wajah bahagia, namun sesungguhnya sengsara !.

Padahal, keluarga bahagia terdiri dari pasangan yang saling menghormati
dan menghargai satu sama lain. Saling memberikan yang terbaik bagi
pasangannya. Mereka tidak menekankan hak nya, tetapi juga kewajibannya satu
sama lain. Sebagai keluarga, mereka tahu dan sadar akan tugas dan tanggung
jawabnya masing-masing. Mereka menyadari bahwa mereka memiliki banyak
kekurangan dan kelemahan. Untuk itulah mereka senantiasa memperbaiki diri dan
bukan mencari-cari kesalahan atau kelemahan, agar diri sendiri kelihatan paling
„baik‟. Padahal tak ada orang yang sempurna, karena itu adalah sesuatu yang amat
salah, jika saling menuntut kesempurnaan pasangan. Justru seharusnya mereka
saling menerima apa adanya pasangannya, apapun kondisinya. Mereka sebaiknya
dan seharusnya belajar untuk tidak mudah kecewa atas kekurangan dan
kelemahan yang ada pada diri pasangannya.

Keluarga bahagia selalu mengedepankan pikiran positif dan membuang
segala prasangka buruk. Keluarga bahagia tak akan membawa kebiasaan lama
dari orang tua nya yang sudah tak pantas dan tak cocok lagi bagi kehidupan masa
sekarang. Kelaurag bahagia senantiasa mencari inovasi baru dan bukan
memelihara kebiasaan buruk di keluarga nya dulu. Dan keluarga bahagia
senantiasa menjauhkan diri dari 5 S. yaitu:‟ sombong „(selalu ingin berkuasa dan
benar sendiri) „serakah‟, selalu ingin paling banyak, paling menguntungkan diri
sendiri. „sirik‟, Ini sama dengan sms, senang melihat orang susah dan susah
melihat orang senang‟. „sentimen‟, selalu cari cari kesalahan dan menyusahkan
pasangannya dengan berbagai perintah. „sadis‟, tak punya nurani dan tak punya
belas kasihan‟. 5 hal ini adalah racun dalam keluarga yang „mematikan‟.

Semoga keluarga-keluarga dapat memancarkan kebahagiaan yang tulus,
yang asli dan bukan hanya „keliahatannya‟ saja. Suasana bahagia yang utuh dan
asli akan memancarkan kebahagiaan yang mudah ditangkap dan disaksikan oleh
orang-orang di sekitar mereka. Kebahagiaan yang bukan dibuat-buat, yang hanya
tebar pencitraan, yang hanya pura-pura bahagia, penuh sandiwara konyol. Banyak
yang seperti itu di sekitar kita, dan sungguh mereka sebenarnya rapuh dan
sengsara!. Semoga mereka sadar dan belajar untuk memperbaiki diri.

0 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *