INILAH YANG KUKASIHI

Diambil dari Warta Jemaat 3 September 2017.

Sebagai seorang pemain musik sejak masa remaja, Bob Kauflin mendapat kesempatan untuk belajar alat musik piano di Temple University, Philadelphia, Amerika Serikat. Sebelum berkuliah, Kauflin melayani secara aktif di Gereja Katolik sebagai pemain organ untuk beberapa ibadah, seperti ibadah Minggu, ibadah pemberkatan nikah, dan ibadah penghiburan. Ia memainkan lagu-lagu dengan baik dan kreatif, sesuai dengan permintaan. Ketika berkuliah, ia menghadiri ibadah Gereja Baptis yang diadakan di kampusnya. Sejak itulah, Kauflin mulai mengenal rupa-rupa
ibadah di luar tradisi Gereja Katolik, seperti: ibadah Gereja Baptis, ibadah persekutuan Kharismatik, ibadah Gereja Lutheran, ibadah Gereja Calvinis (Presbiterian), dan ibadah Gereja Methodis.

Pada 1976 Kauflin menyelesaikan kuliahnya dan ia menikah dengan Julie. Pasangan suami istri ini senang melayani di bidang musik. Oleh karena itu, tidak lama setelah menikah, mereka bergabung dengan grup musik rohani GLAD.Bersama grup ini, mereka berkeliling ke berbagai gereja di Amerika Serikat untuk melayani Tuhan dengan musik dan puji-pujian. Kauflin rupanya menjadi semakin terkenal karena ia sering tampil di panggung memainkan piano atau organ dengan baik.

Pada 1984 Kauflin mengakhiri pelayanan berkeliling ke gereja-gereja. Ia ternyata merasa terpanggil untuk menjadi pendeta. Oleh karena itu, Kauflin pun memutuskan untuk belajar teologi dan setelah itu mengikuti proses kependetaan di Sovereign Grace Ministries (SGM). Setelah menjadi pendeta, Kauflin lebih dikenal sebagai seorang pemimpin ibadah (worship leader) yang cakap. Beberapa tahun kemudian ia diangkat sebagai Direktur Pengembangan Ibadah di SGM.

Pada suatu kali, ketika akan memimpin sebuah ibadah khusus yang dihadiri oleh banyak orang, Kauflin mengalami sesuatu yang meresahkan dirinya. Sebelum naik ke panggung, ia telah berdoa bersama dengan tim ibadah setempat. Namun, pikiran Kauflin bergumul dengan keraguan yang tiba-tiba muncul. Inilah kata-kata keraguanyang dituliskannya:
Apa bedanya malam ini? Kali ini juga akan sama saja. Apakah malam ini akan punya nilai kekal? Orang-orang akan menyanyi, mengangkat tangan, penuh semangat, lalu pulang ke tempatnya masing-masing. Lalu saya akan melakukan ini lagi berulang-ulang sepanjang hidup (Kauflin 2010, 7-8).
Kauflin tiba-tiba merasakan segala sesuatu menjadi hampa. Dirinya pun mengalami kegersangan batin. Ia mengecap ada sesuatu yang salah dengan pelayanan dan ibadah yang sedang dikerjakannya. Ia merasa makna yang luhur dan kudus dari pelayanan dan ibadah itu telah semakin luntur dan pupus. Ia akhirnya merasa bersalah.

Kauflin bergumul dengan peristiwa malam itu. Sejak itu ia sering berdoa dalam keheningan saat teduh. Ia ingin mendengarkan jawaban Tuhan sendiri atas pergumulannya. Ia berharap Tuhan segera memulihkan kegersangan batinnya. Ironis memang, sebagai seorang pemimpin ibadah yang hebat, pelayan Tuhan yang aktif, Kauflin tiba pada keresahan yang mencekam.

Setelah lama bergumul, Kauflin tiba pada kesadaran yang memulihkan dirinya. Kauflin meyakini kesadaran ini sebagai pertolongan Roh Kudus yang bukan saja memulihkan dirinya, tetapi juga membentuk dirinya. Kauflin kemudian memutuskan untuk membagikan kesadaran ini melalui kotbah-kotbahnya, ceramah-ceramahnya, dan tulisan-tulisannya. Buku Worship Matters: Leading Others to Encounter the Greatness of God yang ditulisnya dan diterbitkan pada 2008 (Illinois: Crossway Books) – diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Samuel E. Tandei (Bandung: Lembaga Literatur Baptis, 2010) – adalah salah satu bentuk upaya Kauflin untuk menggugahumat Tuhan yang beribadah, secara khusus para pelayan ibadah, termasuk di dalamnya para pendeta, penatua, pemusik, dan pemandu puji-pujian.

Di bawah ini beberapa kutipan tulisan Kauflin dari buku WorshipMatters, yang saya
pikir patut kita perhatikan:

Selama bertahun-tahun kita sudah membaca ataupun mengalami langsung apa yang disebut “peperangan ibadah” – perdebatan soal gaya musik, pilihan lagu, dan drum. Namun jarang sekali kita mendengar “peperangan ibadah” yang terjadi di dalam diri kita. Sesungguhnya ini lebih serius (Kauflin 2010, 15).Kita masing-masing mengalami peperangan yang bergejolak di dalam diri kita menyangkut apa yang paling kita kasihi – Tuhan atau sesuatu yang lain? (Kauflin 2010, 15-16). Ibadah bukan hanya soal musik, teknik, liturgi, lagu-lagu, atau metodologi. Ibadah itu menyangkut soal hati. Ibadah itu menyangkut apa dan siapa yang
lebih kita kasihi daripada apapun juga (Kauflin 2010, 22).

Kauflin menyadari bahwa selama aktif melayani di gereja-gereja, ia ternyata lebih mengasihi dirinya sendiri. Ia menikmati tepuk tangan dan sanjungan banyak orang. Pelayanan dan ibadah dikerjakannya ternyata bukan karena kasih kepada Allah, tetapi kasih kepada diri sendiri. Bukan Allah yang lebih “dipuaskan” oleh pelayanan dan ibadahnya, melainkan dirinya sendiri. Sesungguhnya pelayanan dan ibadah untuk kepuasan dan kemuliaan diri sendiri itu hanyalah suatu pertunjukan hiburan duniawi belaka. Itu bersifat sementara.Tidak kekal. Itulah sebabnya kegersangan batin terjadi. Jadi, dalam pelayanan dan ibadah Anda, siapakah yang Anda kasihi?

0 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *