DARI BELIBET LIEUR KE BLEIBET HIER

Diambil dari Warta Jemaat 10 September 2017.

Pada suatu kali dalam sebuah ibadah pembukaan konven para pendeta GKI Klasis Jakarta Utara, dinyanyikanlah lagu-lagu komunitas Taizé. (Lagu-lagu Taizé berasal dari sebuah komunitas para biarawan Kristen yang didirikan atas dasar persaudaraan kasih, yang oikumenis, di desa Burgundy, Perancis.) Salah satu lagu Taizé yang dinyanyikan dalam ibadah pembukaan konven itu adalah “Tinggallah Bersama Aku”. Setelah ibadah selesai, seorang rekan pendeta bertanya, “Apakah judul asli lagu „Tinggal Bersama Aku‟ itu adalah Belibet Lieur?” Seorang rekan lain dengan tertawa menjawab, “Bukan belibet lieur, tapi Bleibet Hier!”

Belibet lieur adalah dua kata dari dua daerah di Indonesia, yaitu kata belibet dari Betawi dan kata lieur dari Sunda. Arti belibet adalah „kusut tidak beraturan‟. Kata lieur menunjuk pada kondisi bingung. Jadi, jika dua kata tersebut digabungkan menjadi belibet lieur, maka itu berarti “kondisi berbelit-belit, tidak beraturan, dan membuat bingung”.

Arti kata bleibet hier (bahasa Jerman) yang merupakan judul lagu Taizé itu adalah “tinggallah di sini”. Lirik lagu Bleibet Hier diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi lagu “Tinggallah Bersama Aku”. Liriknya pendek, yaitu: “Tinggallah bersama Aku/ di dalam doa/ di dalam doa.” Seperti lagu-lagu Taizé lainnya, lagu ini pun dinyanyikan berulang-ulang (silakan dengar lagu ini di youtube.com dengan kata kunci “tinggallah bersama aku”). Dengan menyanyikan lagu ini, orang diajak untuk masuk ke dalam persekutuan dengan Tuhan di dalam kedamaian doa.

II

Pada masa lalu Yogyakarta dikenal sebagai kota yang tenang. Hal itu ditandai oleh penggunaan sepeda kayuh dan delman sebagai alat transportasi masyarakat. Kota ini pun memiliki jam belajar pada malam hari sehingga jalanan tampak lengang dan tenang pada jam-jam tersebut.

Kini Yogyakarta sudah berubah. Yogyakarta menjadi sebuah kota yang ramai. Hal itu ditandai oleh pembangunan hotel-hotel, mal-mal, dan tempat-tempat kuliner. Kendaraan bermotor (mobil dan sepeda motor) pun semakin memadati kota Yogyakarta. Ini membuat banyak pengguna sepeda kayuh tersingkir. Para pengguna sepeda kayuh merasa tidak aman dan tidak nyaman menempuh jalan-jalan raya. Para pedestrian (pejalan kaki) juga merasa demikian di trotoar. Selain oleh karena ruang gerak menjadi sempit akibat para pedagang kaki lima, tidak jarang pengguna sepeda motor memakai trotoar untuk memarkirkan sepeda motornya.

Beberapa tahun lalu warga Yogyakarta dikenal ramah. Di dusun-dusun dan kota, orang-orang sering saling menyapa ketika berpapasan. Kebersamaan warga terasa hangat dan akrab. Lirik lagu “Yogyakarta” (1990) dari KLA Project melukiskan situasi kehangatan dan keakraban kota pariwisata ini: “Pulang ke kotamu/ ada setangkup haru dalam rindu/ Masih seperti dulu/ tiap sudut menyapaku bersahabat/ penuh selaksa makna.”

Keramahan seperti dilukiskan lagu “Yogyakarta”, kini terasa mulai langka. Hanya di desa-desa yang jauh dari kota, suasana kebersamaan yang hangat dan akrab masih dapat ditemukan. Namun, di kebanyakan daerah, apalagi di kota, banyak warga mulai bersikap “sendiri-sendiri” alias individualis karena hedonis atau cari kesenangan sendiri saja.

Yogyakarta tidak lagi menjadi kota yang menawarkan ketenangan dan keramahan. Perubahan ruang-ruang publik dengan rupa-rupa pusat belanja dan tempat-tempat kuliner, ditambah dengan jumlah kendaraan yang kian meningkat, menjadikan Yogyakarta sebagai kota yang belibet lieur. Demikian juga relasi sosial masyarakat yang mulai digerogoti oleh individualisme, hedonisme, dan egoisme, membuat kehidupan di kota ini belibet lieur. (Tak heran, sebagaimana diberitakan liputan6.com 26 Agustus 2017, jumlah warga yang mengalami gangguan jiwa semakin bertambah di Yogyakarta.)

III

Dalam hidup yang serba cepat dan sarat penat, atau belibet lieur, banyak orang sebenarnya membutuhkan ruang dan waktu untuk menenangkan diri, yakni ruang dan waktu persekutuan yang penuh kedamaian dengan Allah dan sesama. Ibadah dengan lagu-lagu pendek yang dinyanyikan berulang-ulang, seperti ibadah komunitas Taizé, pada kenyataannya menawarkan ruang dan waktu itu. Lagu Bleibet Hier atau “Tinggallah Bersama Aku”, memuat pesan yang penuh rahmat bagi kita, yaitu agar kita tinggal di dalam persekutuan dengan Allah yang membawa kedamaian sejati. Bukankah Tuhan Yesus Kristus berkata, “Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. … Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku, kamu tidak dapat berbuat apa-apa” (Yoh. 15:4-5)? Semoga siapapun yang belibet lieur mau menyambut undangan bleibet hier dari Tuhan.

0 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *