BELAJAR MENGAMPUNI DALAM KELUARGA

Diambil dari Warta Jemaat 8 Oktober 2017.

Ada sebuah kisah tentang seorang anak yang nakalnya „luar
biasa‟, baik di dalam rumah maupun di luar rumah. Ia tak takut pada suapapun,
ia tak memandang siapa yang ada di hadapannya. Kalau sedang marah,
siapapun akan „dihajarnya‟. Orang bilang, kalau lagi marah, ga bisa lihat kuping.
Orang bilang jangan cari masalah atau gara-gara lah sama anak itu, kalau
tidak pingin ruwet.

Suatu hari anak itu kena „batunya‟. Orang yang tidak mau menerima
sikap dan kata-katanya yang „kasar‟ itu adalah kakaknya sendiri. Sang kakak
membalasnya dengan sikap dan kata-kata yang lebih kasar lagi. Akibatnya
mereka berkelahi. Tak ada yang mau mengalah, saling pukul,. Tak ada yang
dapat melerai mereka , sampai akhirnya mereka lelah sendiri. Lalu sang ibu
mendekati mereka dan meminta supaya kedua anaknya itu bersalaman. Sang
kakak mengulurkan tangan kanannya untuk bersalaman, tetapi sang adik tak
mau mnerimanya. Bahkan anak itu/sang adik malah hampir menampar
kakaknya. Untung nya tangan sang ibu cepat menangkap tangan si anak nakal
itu. Dan sang ibu berkata: „Kamu harus minta maaf sama kakakmu‟. Sang adik
berkata: “Tidak, dia yang harus minta maaf sama aku”… akhirnya sang ibu
berkata: “Nak, ketahuilah bahwa selama ini kami semua mengampuni mu. Kami
selalu memaafkan segala perbuatan nakalmu. Coba satu kali ini saja, kamu
minta maaf pada kakakmu‟.

Mata sang adik yang nakal itu kemudian mulai tergenang air mata, ia
merangkul kakaknya dan memangis dalam pelukannya. Peristiwa itu telah
merubah si anak nakal itu, karena ia sadar bahwa selama ini ia selalu
dimaafkan oleh saudara-saudaranya. Kini ia mulai merubah sikapnya, ia tak lagi
menyusahkan keluarganya dan juga orang lain. Ia menjadi anak yang santun.
Ternyata keluarganya belajar untuk tidak sampai terlanjur mendiamkan sang
anak nakal itu. Keluarganya mencoba untuk menegurnya baik-baik, agar si
anak nakal itu, bisa menyadari kesalahannya.

Menurut saudara, mana yang lebih mudah atau lebih sulit, „memberi‟
atau „menerima‟, khususnya soal maaf. Mudahkah memberi maaf pada yang
telah menyakiti kita, sulitkah memberi maaf pada yang bersalah pada kita ;
mudahkah menerima maaf atau sulitkah menerima maaf?. memang mudah
memberi maaf, jika hanya di mulut, begitu juga mudah meneriuma maaf, hanya
di mulut. Apalagi jika seseorang merasa paling benar dan paling baik. Rasa
nya sukar meminta maaf (maluu dhe, harga diri „turun‟., memberi maaf, waah
tidak bisa begitu saja donk. Banyak alasan, banyak argumen yang membuat
seseorang sulit minta maaf dan juga memberi maaf. Apalagi jika kedudukan,
harga diri dan prestise didahulukan. Padahal, tiap hari kita minta ampun, minta
maag pada Tuhan, minta kemurahan hati Tuhan, supaya kita tetap di kasihi
Nya. Tetapi kepada orang lain, berlaku berbagai syarat.

Belajar mengampuni sebaiknya dimulai dari dalam keluarga. Sebuah
keluarga seharus nya belajar untuk berani mengaku salah, rendah hati untuk
memberi ampun/maaf. Keluarga seharusnya menjadi „sekolah‟, dimana saling
mengampuni itu adalah kunci „kedamaian‟ dalam keluarga. Mengamnpuni
memang hanya bisa terjadi jika seseorang mempunyai kerendahan hati dan
„tau-diri‟.. karena tak ada seorangpun yang luput dari kesalahan. Sayangnya
banyak orang merasa paling „baik‟, paling benar, paling penting, maka sulit
baginya untuk meminta maaf dan memberi maaf. Padahal, adakah orang yang
sempurna, tanpa cacat-cela dalam hidupnya.Tuhan mengajak kita menjadi
peserta dalam anugerah pengampunan Nya, tetapi banyak orang ingin menjadi
„hakim‟ bagi sesamanya. Karena itu sebenarnya banyak orang ytang „tak tahu
malu‟ dan „tak tahu diri‟.

Mari kita belajar membangun sikap saling mengampuni dalam hidup
kita. Sebab kita di dalam Anugerah Allah, senantiasa diampuni Nya. Dengan
saling mengampuni, hidup kita menjadi suatu pintu menuju kebahagiaan. Jika
kita mengampuni sesama, kita akan mengalami betapa hidup ini begitu indah….
inginkah anda mengalami hidup yang indah….saling mengampunilah.

0 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *