Menjadi seorang pendeta bukanlah cita-cita. Namun, ketika pada akhirnya saya menjadi seorang pendeta, itulah kenyataanya. Kenyataan itu tak lepas dari apa yang saya hayati sebagai sebuah panggilan Tuhan.

Bermula ketika mulai aktif di Komisi Remaja dan mengajar Sekolah Minggu dan terinspirasi oleh figure seorang pendeta yang sederhana penuh integritas dan dedikasi, maka panggilan itu semakin kuat saya rasakan.

Saya masih ingat kala itu saya masih remaja, di malam yang gelap dan hujan, dengan menaiki sepeda, pendeta yang sudah lanjut usia itu berkunjung ke rumah kami. Kunjungan itulah yang menggetarkan saya. Betapa tidak, pendeta yang sudah sepuh itu begitu peduli kepada umat, tak pandang bulu bagaimana status sosial umat-Nya dan tak memperdulikan cuaca hujan, bersepeda sambil berpayung.

Ketika lulus SMA, saya memutuskan untuk masuk Sekolah Tinggi Theologia Duta Wacana (sekarang: Universitas Kristen Duta Wacana) Yoyyakarta. Disanalah saya dipersiapkan dan ditempa. Pada thaun  1986 saya lulus setelah lima tahun berkuliah. Saya berharap ditempatkan di daerah, namun Tuhan punya rencana lain, saya ditempatkan oleh Sinode GKI Jabar (Sekarang: Sinode Wilayah GKI SW Jabar) di GKI Samanhudi. Tahun 1987 saya diteguhkan menjadi Penatua Khusus (calon Pendeta) pada tanggal 8 Nopember 1987. Dan Ditahbiskan menjadi pendeta pada tanggal 1 Juli 1991.

Perjalanan pelayanan sebagai pendeta, saya rasakan tidakklah selalu mudah. Ada suka ada duka, ada keberhasilan ada pula kegagalan. Bahkan pro dan kontra terhadap keberadaan diri saya pun menjadi bagian dari ziarah di ladang pelayanan-Nya. Namun, semuanya itu saya hayati sebagai cara Tuhan untuk membentuk dan menjadikan saya sebagai pendeta yang terus belajar dan bertumbuh seturut dengan rencana dan kehendak-Nya.

Tantangan paling berat yang saya rasakan dalam menyambut panggilan Tuhan sebagai pendeta adalah hidup dalam kesetiaan melakukan panggilan pelayanan dalam kerendahan hati, penyangkalan diri dan pengosongan diri. Saya menyadari bahwa saya masih jatuh bangun untuk tetap dapat melaksanakan panggilan Tuhan berdasarkan ketiga hal tersebut, sebagaimana yang telah ditelandankan oleh Gembala Agung Yang baik,Tuhan Yesus Kristus.

Dalam ziarah pelayanan,  saya menyadari bahwa setiap manusia adalah ciptaan Tuhan yang berharga. Beberapa ayat menegaskan hal itu. Kejadian 1:26 mengingatkan, bahwa manusia diciptakan hampir sama seperti Allah, dan memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat. Sedangkan dalam Yesaya 43:4, manusia berharga di mata Tuhan, mulia dan dikasihi Tuhan.

Selayatnya dan sepatunyalah, kita memandang diri sendiri dan sesama dalam perspektif Allah memandang kita. Namun, kenyataannya, kita, — khususnya saya – seringkali lupa akan hal ini dan gagal dalam menghargai diri sendiri dan orang lain. Kita dan sesama pada dirinya adalah berharga di mata Tuhan. Namun, di sisi lain, kita adalah orang-orang yang rapuh karena kelemahan yang ada pada diri kita. Saya sangat menyadari akan dimensi kelemahan dan keterbatasan manusiawi yang saya miliki. Dalam kelemahan itulah, tidak mudah untuk hidup dalam kerendahan hati, penyangkalan dan pengosongan diri.

Sebab itu, jika saya dapat menjalani masa pelayanan selam dua puluh lima tahun, itu bukanlah karena hebat dan kuat sya, melainkan terjadi hanya karena kasih karunia Tuhan Yesus Kristus, Sang Pemilik dan Kepala Gereja. Tak ada yang perlu dicatat dan dibanggakan dari saya, sebagai hamba-Nya selain rasa syukur atas anugerah, pimpinan dan penyertaan Tuhan itu sendiri.

Di samping Tuhan, kehadiran rekan-rekan pendeta di GKI Samanhudi memberi peran yang berarti bagi pelayanan saya. Terlebih beliau yang sudah memasuki masa emeritasi adalah guru, mentor dan teladan saya dalam kesetiaan dan komitmennya sebagai pendeta, khususnya dalam pelayanan kedukaan yang tanpa pamrih. Demikian pula para penatua yang silih berganti pada zamannya telah memungkinkan saya dapat memasuki usia dua puluh lima tahun pelayanan di GKI Samanhudi.

Dalam Kesempatan ini, saya dan keluarga mengucapkan terima  kasih tak terhingga kepada Majelis Jemaat dan Jemaat GKI  Samanhudi atas segala perhatian dan kebaikan yang telah diberikan kepada kami. Saya pun berterima kasih dan bersukur atas rekan-rekan sepelayanan, baik rekan pendeta, penatua, pengurus Badan Pelayanan/Komisi, komunitas pasutri dan rekan-rekan sepelayanan lainnya yang telah menerima saya apa adanya dan mau memahami kelemahan dan keterbatasan saya. Juga umat dan anggota Jemaat GKI Samanhudi yang membuat saya belajar banyak apa arti hidup dan pelayanan melalui interaksi yang terjadi di setiap program dan kegiatan jemaat.

Saya berharapa agar rekan-rekan dan umat tak segan menegur dan memberi masukan kepada saya agar pelayanan ke depan menjadi lebih baik lagi. Bagaimanapun, pendeta juga manusia yang bisa salah. Oleh sebab itu, setiap teguran yang disampaikan adalah bentuk tanda kasih terhadap saya. Seraya itu, saya pun memohon maaf, jika selama kurun waktu pelayanan selama dua puluh lima tahun, saya melakukan kekhilafan dan kesalahan, baik melalui perkataan maupun perbuatan.

Saya bersyukur atas hadirnya keluarga yang mendukung saya, istri dan anak-anak yang telah banyak kehilangan waktu bersama saya karena panggilan pelayanan yang harus saya jalani. Di tengah rasa syukur yang mendalam, marilah semuanya kita kembalikan kepada Tuhan, “Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemulian sampai selama-lamanya!” (Roma 11:36).

Pdt. Iwan Tri Wakhyudi