Kebaktian Rabu Abu

JUJUR DAN TULUS DIHADAPAN ALLAH

Rangkaian masa Pra Paska di awali dengan Rabu Abu yang diadakan hari Rabu,tanggal 1 Maret 2017. Bertempat di ruang kebaktian, acara yang baru diaplikasikan di GKI 2 tahun terakhir ini dihadiri oleh 231 umat yang terdiri dari 98 Pria dan 133 wanita.

Pdt.Semuel Akihary sebagai pembawa Firman didampingi oleh Pdt. Iwan Tri Wakhyudi, Pdt.Frida Sitomorang, Pdt. Lucia D Wijaya dan Pnt. Maria Sindhu yang melayani tanda penorehan abu di dahi setiap umat yang hadir.

Mengapa kita harus jujur dan tulus dihadapan Allah ? demikian Pnt. Stella sebagai pemimpin liturgi menyapa umat di awal ibadah. Hal ini mengajarkan kepada kita pemahaman setelah Tuhan Yesus kotbah di Bukit. Ditujukan kepada Alah yang tersembunyi maka pahala akan datang dari Allah sendiri.

Lagu pujian “Sungguh lembut Tuhan Yesus memanggil dan Yesus janji beri kasihNya” dari KJ 353 bait 1 dan 4 mengalun dan mengajak umat memasuki panggilan beribadah.

Mazmur 121 : “ Aku melayangkan mataku ke gunung-gunung; dari manakah akan datang pertolonganku ? Pertolongan kita adalah dari Allah yang menjadikan langit dan bumi. Ia takkan membiarkan kaki kita goyah karena Tuhan yang selalu menjaga kita….

Berita Anugerah diambil dari Ibrani 5 : 7-8 , Yesus sebagai Imam besar, dalam hidup-Nya sebagai manusia telah mempersembahkan doa dan permohonan. Allah mendengarnya…..sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya.
Injil terambil dari Mat 6 : 1-6, dilanjutkan ayat 16 -21 ( hal memberi sedekah, berdoa dan berpuasa).

Di dalam kerajaan Allah,bagaimana seseorang hidup bagi orang lain dan untuk kemuliaan Allah. Semua tindakan apapun yang kita lakukan tidak pernah berakhir pada diri sendiri, karena kita tahu tujuan hidup dan Allah melihat hati kita.

Apa artinya jujur dan tulus ? Telanjang dihadapan Allah yang maha tahu, tampil apa adanya, mencari Tuhan dengan diam-diam,menemukan Allah secara pribadi, fokus pada tujuan untuk mencari Allah. Dengan cara tersebut kita memiliki kekuatan dan iman yang tulus, dan jiwa yang bersih. Tulus dan jiwa yang bersih menunjukkan aman dihadapan Allah.

Bersedekah, berdoa dan berpuasa merupakan bentuk ibadah kita dalam mendekatkan diri pada Allah. Kebanyakan kita berpikir bahwa puasa adalah rujukan jitu untuk minta belas kasihan Allah, tapi tujuan yang benar supaya dalam segala pergumulan hidup akan jelas jalan Tuhan buat kita. Dikuatkan dan dimurnikan dalam proses berpuasa untuk tahu persis jalan dan kehendak Tuhan.

Bacaan injil mengantar kita memasuki masa Pra Paska. Melalui cara-cara yang disebutkan dalam bacaan akan menolong kita membangun hubungan rohani untuk menghayati iman kita. Supaya dalam arus yang membawa kita dekat kepada Allah menolong kita mendekat dan bergantung kepada Allah.

Tanda Abu didahi mengingatkan kita akan hancur seperti debu. Mencari dengan diam didalam ketulusan dan kemurnian hidup kita, mengambil bagian dalam Rabu Abu .

Penerimaan Abu diabad pertengahan merupakan kebiasaan menyesali dosa dan menaburi diri dengan Abu. Abu/ debu berbeda, tapi ritual orang Kristen adalah lambang/symbol dan bukan bentuknya. Hal ini mengingatkan kita akan 2 hal yaitu :

1. Manusia dibentuk dari debu dan tanah dan dihembusi nafas hidup.
2. Menyadari betapa kokohnya manusia, rapuh dan dekat dengan kehancuran. ( di…..kuasa si jahat).

Tanda penorehan Abu di dahi, membawa umat pada pertobatan yang sungguh, yang merupakan tujuan dari Rabu Abu. Abu menjadi tanda perkabungan akan dosa.
Berbahagialah orang yang miskin dihadapan Allah. Mentalitas seorang Kristen adalah bergantung sepenuhnya kepada Tuhan.

Jadilah orang Kristen penyu yang diam-diam tapi berbuah banyak, bukan ayam yang banyak berkoar/ berkokok tapi telur hanya satu. Demikian Pdt Semuel menutup renungan yang dibawakan.

Lagu “Di Heningnya malam ini” dilantunkan oleh KV Joyfull mengajak kita bagaimana darah yang kudus sudah sucikan kita, sehingga jati diri bukan diri kita lagi tapi Kristus yang hidup dalam diri kita. Berpusat pada diri sendiri menjadi ke Kristus sebagai sumber anugerah.

Abu symbol kesedihan yang mendalam, pertobatan. Pembakaran daun palem yang kering mengingatkan kita akan penyesalan. Bertobatlah sebab kerajaan surga sudah dekat.

Satu persatu umat maju, abu ditorehkan di jidat dalam bentuk tanda salib. Penorehan abu menutup ibadah Rabu Abu pada malam itu dengan khidmat.
(Chris 010317).

0 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *