Kebaktian Pra-Paskah 6

Memenangkan Kekerasan dengan Kelembutan

Minggu PraPaskah VI tanggal 9 April 2017 ini dilayani oleh Pdt. Em. Suatami Sutedja dari Gereja Kristen Indonesia(GKI) Gading Indah dalam kebaktian 1,2,dan3. Kebaktian 1 dihadiri oleh 477 umat (183 pria dan 294 wanita), Kebaktian 2 dihadiri oleh 695 umat (254 pria dan 441 wanita) dan kebaktian 3 dihadiri oleh 249 umat (121 pria dan 128 wanita). Minggu PraPaskah kali ini merupakan Minggu Palm arum di mana kita diajak untuk mengalami damai dan belas kasihan Allah sehingga mampu memberi penghiburan dan pertolongan terhadap sesama, khususnya yang lemah, tidak berdaya, teraniaya dan menderita.

Jemaat menghayati Minggu sengsara dalam kemuliaan Yesus yang tidak terletak pada pujian “Hosana”, melainkan pada teriakan “Salibkan Dia!” agar jemaat mempunyai kekuatan untuk menolak kekerasan dengan kelembutan hati yang berbelas kasih.

Di dalam pembacaan warta lisan yang dilakukan oleh Pnt. Maria Sindu dijelaskan bahwa daun palem sebagai lambang kebahagiaan untuk menyambut kedatangan seseorang yang istimewa, selain itu disinggung juga mengenai doa bersama untuk anak-anak yang akan mengikuti ujian nasional bagi para pelajar SD, SMP, dan SMA.

Kebaktian di awali dengan penyalaan lilin ke 6 dan pujian pembukaan “Tuhan Engkaulah Hadir” (NKB 216: 1 dan 3). Liturgos,Pnt.Ertien M.Sugiono, Pnt.Ricky Sutanto dan Pnt. Rina di masing-masing kebaktian 1, 2 dan 3 membacakan Matius 21 : 5 dan 11. Pendekatan Tuhan Yesus di dunia ini adalah kasih yang lemah lembut dan persahabatan.

Sebagai pujian pembuka dinyanyikan dari NKB 74 : 1 – 2 Hosana. Sedangkan pujian dari NKB 74 : 1 – 3 Kasih Tuhanku Lembut, dinyanyikan kemudian.

Pengakuan dosa diambil dari Yakobus 3 : 9 – 10 “ dengan lidah kita memuji Tuhan, Bapa kita; dan dengan lidah kita mengutuk manusia yang diciptakan menurut rupa Allah, dari mulut yang satu keluar berkat dan kutuk.Hal ini, saudara-saudaraku, tidak boleh demikian terjadi”.Sebagai respon dari pengakuan dosa dilantunkan KJ 44 :Tuhan Kasihanilah Kami.

Berita Anugerah diambil dari Yakobus 3 : 13 : “Siapakah yang diantara kamu yang bijak dan berbudi? Baiklah ia dengan cara hidup yang baik menyatakan perbuatan-nya oleh hikmat yang lahir dari kelemahlembutan”. Umat melantunkan KJ 434 : 1 -4 : “Allah adalah Kasih dan Sumber Kasih “ pujian ini merupakan terjemahan dari lagu tradisional India (Hindustani) untuk menyambut Berita Anugerah ini.

Persembahan pujian dari Paduan Suara Anak-Anak Dorkas sebagai ungkapan syukur Panti Asuhan Dorkas telah berusia 129 tahun.Mereka menyanyikan dengan apik lagu Haleluyah dan Never Give Up.

Dilanjutkan dengan doa pelayanan firman yang dimulai dengan mendaraskan Mazmur118 : 1 – 2, 19 – 29 yang didaraskan, dan bacaan Injil diambil dari Matius 21 : 1 – 11, yang oleh LAI diberi judul “ Yesus dielu-elukan di Yerusalem.”

Sebelum memasuki kotbah, sketsa drama menceritakan tentang pertemuan Pendeta Mario pergi ke Jogya, dan bertemu dengan sahabatnya ketika masih kuliah di SekolahTeologi di Jogya, yang sekarang menjadi pendeta juga. Pendeta Mario menceritakan tentang Rebeka dan anaknya, pertengkaran dari pasutri Lili dan Billy, mengenai anak mereka – David yang jatuh cinta kepada Aisyah anak tunggal Pak Tono yang berbeda agama.Nita yang cemas karena belum memiliki keturunan, serta Lydia yang kena tipu.Pesan Firman Tuhan dalam Surat-surat Paulus agar selalu bersyukur dan bersukacita dalam segala hal.Akhir dari cerita ini, Pendeta Mario akan mengadakan pertemuan keluarga di acara Paskah. Dan pada saat itu, dia (Pdt. Mario) akan memberitahukan penyakitnya sekaligus agar mereka (keluarganya) tidak khawatir mengenai penyakit yang dia derita.

Pdt.Em.Suatami memulai kotbahnya dengan pertanyaan : “Bagaimana kita menghadapi masa yang sulit dan pahit dalam hidup ?

Kita diharapkan dapat belajar dari Tuhan Yesus yang memenangkan kekerasan dengan kelembutan. Tuhan Yesus menjalankan tugasnya sebagai Mesias mengajarkan kita untuk memuliakan Allah dalam hidup kita dan menjadikan diri kita berguna bagi sesama.

Untuk mewujudkan tugas panggilanNya sebagai Juru Selamat bagi semua orang :

  1. Yesus tetap pergi ke Yerusalem sekalipun Dia akan mengalami hal yang buruk. Jadi Yesus tidak melarikan diri dari tugasNya untuk menyelamatkan manusia. Jadi jika kita mau disebut sebagai orang Kristen dan mau berguna bagi sesama, belajarlah dari Tuhan Yesus yang tetap setia pada tugas yang kita emban kendati kesulitan menghadang.
  2. Yesus datang ke Yerusalem untuk menghadapi orang-orang yang tadinya mengelu-elukan Dia yang juga (akhirnya) memusuhi Dia. Dia tampil dengan menunjukkan kerendahan hatiNya dengan menunggang keledai, dengan tujuan memuliakan Allah. Oleh karenanya ketika kita menghadapi orang-orang yang tidak menyukai kita, ingatlah, selama kita hidup bergantung kepada Allah, tetaplah memohon kekuatan dariNya dan memuliakan Allah dengan hati yang rendah dan penuh syukur.
  3. Yesus menghadapi semua hal (penghinaan dll.) tanpa membela diri dan tanpa ada yang membelanya karena Dia tahu disanjung dan dikhianati adalah suatu proses dan Dia tahu kematianNya di kayu salib bukan akhir dari segala-galanya, tapi kebangkitanNya merupakan kekekalan selama-lamanya.

Kesimpulannya adalah :Jangan takut dan jangan tawar hati, tanyakan pada diri kita : adakah kita taat dan tunduk kepada Allah ? Jika kita yakin setia di jalanNya, dengan kerendahan hati dan bergantung kepadaNya maka yakinlah bahwa tugas seberat apa pun pasti dapat kita atasi. Kita pasti dapat memenangkan kekerasan dengan kelembutan seperti yang Tuhan Yesus teladankan.

Allah tidak akan meminta kita bekerja jika kita belum diberiNya berkat, setelah kita menerima berkat, maka kita harus menjadi berkat bagi diri kita dan sesama, amin.

Dalam saat hening, diisi oleh angklung PS. Haleluya dengan nyanyian Damai di Dunia.

Pengakuan Iman Rasuli dan persembahan dipimpin oleh Pnt. John Lie (kebaktian 1), Pnt. Lauw Mei Lan (kebaktian 2) dan Pnt. Monita Gautama (kebaktian3) diucapkan dengan sikap berdiri tegak dan menyatakannya dengan iman. Dilanjutkan dengan doa syafaat yang ditutup dengan menyanyikan Doa Bapa Kami.

Persembahan syukur dan doa persembahan, diiringi dengan pujian PKJ 145 : 1 – 4 : Aku Melangkah ke Rumah Tuhan.

Lagu Ya Allah Kasih Mu Besar dari PKJ 212 dilantunkan sebagai lagu pengutusan agar kita memenangkan kekerasan dengan kelembutan seperti yang diteladankan Tuhan Yesus.

Jkt09/04/17

Puspita D.L. Tobing

Foto-foto selengkapnya bisa dilihat melalui link google photo di bawah ini:

https://goo.gl/photos/VQ13sFpL7x7U4EFZ7

0 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *