Kebaktian Pra-Paskah 4

“Banyak orang telah mengalami perjumpaan dengan Tuhan tetapi buta”. Banyak orang termasuk orang Kristen hidup tapi mati. Karena fokus tidak jelas dalam menjalankan hidupnya.

Hal-hal apa yang membuat kita buta secara spiritual ? Bagaimana kita melepaskan diri dari halangan-halangan tersebut dan melihat kehadiran Kristus, Sang Terang dalam kehidupan kita ?

Ruang konsistori di minggu Pra Paska IV tanggal 26 Maret agak beda suasananya. Pagi itu nampak puluhan penatua wanita yang memakai seragam broken white, sementara penatua pria memakai jas hitam memenuhi ruangan konsistori. Beberapa penatua sedang menunggu antrian untuk foto dengan latar belakang kain biru. Ada acara khusus apa hari ini ?

Lilin Prapaskah keempat yang akan dinyalakan menjadi pengingat bagi kita bahwa pekerjaan-pekerjaan besar Allah mampu mengubahkan kehidupan manusia. Allah , Sang Terang kehidupan itu melepaskan kita dari kegelapan, sehingga kita mempunyai terang hidup demikian Pnt. Inge Sutisna mengawali Ibadah di kebaktian 1 yang dihadiri oleh 380 umat ( 152 Pria dan 228 wanita) dan Pnt. Yudha di kebaktian 2 yang dihadiri oleh 744 umat (293 Pria dan 451 wanita) lebih banyak dari minggu lalu.

Lagu Pujilah Tuhan Sang Raja,KJ 10:1,2,4 pun mengalun mengajak umat dengan hati penuh syukur menyanyikan pujian bagi Tuhan yang kasihNya sungguh menopang dan memperbarui kehidupan setiap ciptaan.

Melihat, menerima dan mengimani Sang Terang kehidupan harusnya menjadi pendorong bagi kita semua untuk bertanggung jawab atas anugerah kehidupan yang dipercayakan-Nya.

Dalam Efesus 5: 8-10 tertulis demikian “Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan. Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang, karena terang hanya berbuahkan kebaikan dan keadilan dan kebenaran, dan ujilah apa yang berkenan kepada Tuhan “.

Umat menyambut Firman Tuhan dengan Pujian Yesus Terang-Mu Pelita Hatiku.

Dengan kerendahan hati kita mengakui dosa di hadapan Tuhan. Umat diminta hening dan diberikan kesempatan untuk mengakui dosa secara pribadi.

Meski Tak Layak Diriku, dinyanyikan sebagai respon dari pengakuan dosa.

Berita Anugerah diambil dari 1 Yohanes 1:7 “ Tetapi jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain, dan darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita dari pada segala dosa”.

Nyanyian KJ 40: 1-4 Ajaib Benar Anugerah mengajak umat menyambut Berita Anugerah.

Bacaan pertama diambil dari 1 Samuel 16: 1-13 ( Daud diurapi menjadi Raja), Mazmur tanggapan dari Mazmur 23 (Kau Tuhan adalah gembalaku yang baik) dan bacaan kedua dari Efesus 5: 8-14 (Hidup sebagai anak-anak terang).

Sketsa pagi ini menceritakan Lidya yang muram dan sedih, menyesal kepada diri sendiri karena sudah mudah percaya kepada orang. Uang tabungan sebesar Rp 17.000.000,- (termasuk uang tabungan Merry untuk membeli mesin jahit nachi yang bisa border) raib setelah diberikan ke perusahaan PT Peruntungan Indonesia. Penipuan terjadi ketika Lidya ingin mengecheck uang tabungan beserta bunganya ke perusahaan tersebut, ternyata kantor nya sudah tutup.

Ketika Pendeta Mario berkunjung ke Malang dan bertemu dengan mereka, Merry menanyakan kondisi Rebecca rupanya Rebecca belum bisa melihat rancangan Tuhan pada hidupnya….demikian juga yang terjadi pada Lidya. Ia melihat tetapi buta.

Bacaan Injil diambil dari Yohanes 9 : 1-41 (Orang yang buta sejak lahirnya).

Yang buta semata-mata bukan secara fisik tapi juga secara spiritual adalah dua hal yang sangat berbeda. Perjumpaan mengubahkan dari buta secara fisik menjadi melihat…tapi terlebih dari itu adalah proses fisik jadi proses spiritual. Pemahaman Injil Yohanes menolong kita mendapat tuntunan setapak demi setapak…. Demikian Pdt. Semuel Akihary mengawali kotbahnya.

Dari sudut pandang manusia, seolah-olah mengabaikan Tuhan. Apa yang dilihat Tuhan beda dengan apa yang dilihat manusia.

Buta tapi melihat adalah simbol untuk meneguhkan keteduhan Yesus. Apakah kehidupan saudara dan saya bisa kita lihat dengan mata batin. Ketika mata spiritual kita terabaikan karena banyak kepentingan pribadi. Kata buta pada teks ayat 39 ini berarti orang yang tidak mengerti/memahami bahwa terang dunia ada dihadapan mereka.

Atau dalam konteks ini mereka menolak sang terang….Pertanyaan demi pertanyaan muncul ketika mereka menemukan siapa Tuhan Yesus. Setelah terjadi percakapan orang tersebut menyimpulkan bahwa Ia seorang nabi dan menjadi percaya.

Selanjutnya Pdt. Semuel mengatakan : “banyak orang telah mengalami perjumpaan dengan Tuhan tetapi buta”. Banyak orang termasuk orang Kristen hidup tapi mati. Karena fokus tidak jelas dalam menjalankan hidupnya…hanya aktivitas rutin.

Dalam Efesus 5 apa saja hal-hal yang hidup dengan terang ? Paulus di Efesus mendatakan hal-hal apa saja yang gelap. Penegasan dari sang terang….keinginan diri sendiri , keegoisan, kesenangan, cinta diri adalah hal-hal yang membuat kita buta secara spiritual. Mereka harus bisa melihat dengan jelas dan ditolong untuk melepaskan diri dari halangan-halangan tersebut.

Apakah kehadiran Kristus, sang terang dapat bercahaya dan kita bisa melihat sesuatu dengan mata hati ? Kalau pemahaman ini tidak mendasar dan tidak mendapat tempat dalam hati kita maka pelayanan yang kita lakukan hanya rutinitas. Semakin memahami dan membiarkan terang Kristus ada dan menerangi kita secara spiritual. Karena masih banyak halangan yang membuat kita buta dan tidak melihat. Yang dibutuhkan adalah melepas halangan-halangan tersebut karena tidak bisa melihat terang Tuhan.

Di akhir kotbahnya Pdt. Semuel melontarkan satu pertanyaan “Apakah kita siap melepaskan halangan dan membiarkan Yesus masuk menerobos dan menjadi terang dalam kehidupan kita “?

Pemahaman yang jelas dan hidup dalam kesadaran. Tuhan kiranya menolong dan memberkati kita supaya menjadi anak –anak terang.

Persembahan Pujian: Amazing Grace…..amazing love….dilantunkan oleh PS Anak dan Philadelphia. Di Kebaktian 2,anak-anak sekolah minggu mempersembahkan sebuah pujian “Kumenang-kumenang bersama Yesus Tuhan”

Suasana di konsistori pagi itu pun menjawab adanya acara khusus di kebaktian 2, yaitu peneguhan 17 orang penatua untuk masa pelayanan tahun 2017 – 2020.

Ada pilihan kita mau tetap menjadi buta atau melihat ? Bacaan ini menolong saudara-saudara yang diteguhkan untuk menjadi pelayan Tuhan sebagai penatua. Banyak hal yang bisa membutakan pelayanan kita. Namanya pejabat gereja, api jantung dari pejabat adalah pelayan.

Tidak mudah tapi kita terus belajar setia untuk tetap hidup dalam terang.

Selamat melayani para penatua yang baru diteguhkan. Tuhan memberkati.

Umat diberikan kesempatan untuk mengucap syukur atas berkat yang senantiasa dicurahkan bagi kita. Dasar persembahan diambil dari Yunus 2 :9 “ Tetapi aku, dengan ucapan syukur akan kupersembahkan korban kepada-Mu; apa yang kunazarkan akan kubayar. Keselamatan adalah dari Tuhan!”

Pujian “Mari Bersyukur Semua” dari KJ 291: 1-5 di nyanyikan.

Setelah kantong persembahan diedarkan, bagi umat yang akan mempersembahkan amplop Penyangkalan Diri, dapat maju kedepan. Amplop penyangkalan diri akan diberikan kepada:

  1. GKI Cianjur untuk pembelian mobil ambulan. Karena sewa mobil mahal dan penyewaan yang ada enggan melayani umat Kristen.
  1. Panti Wreda Hanna

Nyanyian pengutusan “Buka Mataku” dari PKJ 197 menutup Ibadah di kebaktian 1 dan 2 minggu Prapaskah IV yang spesial ini.

 

KEBAKTIAN 3 MINGGU PRAPASKAH IV, BUTA TAPI MELIHAT

Kebaktian ketiga, Minggu Pra Paskah IV, GKI Samanhudi, dimulai jam 6 sore dengan tanda dibunyikannya lonceng yang kedua. Pnt.Kristiana Wahyudi membacakan warta lisan tentang pelayan-pelayan yang bertugas di kebaktian sore tersebut. Kemudian Pnt. Rosy Chandra sebagai liturgos memimpin umat menyanyikan lagu dari KJ 10, Pujilah Tuhan, sang Raja, dalam posisi berdiri. Pendeta dan para penatua yang bertugas memasuki ruang ibadah, menuju tempatnya masing-masing.

Dalam Efesus 5: 8-10 tertulis demikian “Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan. Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang, karena terang hanya berbuahkan kebaikan dan keadilan dan kebenaran, dan ujilah apa yang berkenan kepada Tuhan “.

Umat menyambut Firman Tuhan dengan Pujian Yesus Terang-Mu Pelita Hatiku.

Dengan kerendahan hati kita mengakui dosa di hadapan Tuhan. Umat diminta hening dan diberikan kesempatan untuk mengakui dosa secara pribadi.

Meski Tak Layak Diriku, dinyanyikan sebagai respon dari pengakuan dosa.

Berita Anugerah diambil dari 1 Yohanes 1:7 “ Tetapi jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain, dan darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita dari pada segala dosa”.

Nyanyian KJ 40: 1-4 Ajaib Benar Anugerah mengajak umat menyambut Berita Anugerah.

Bacaan pertama diambil dari 1 Samuel 16: 1-13  ( Daud diurapi menjadi Raja), Mazmur tanggapan dari Mazmur 23 (Kau Tuhan adalah gembalaku yang baik) dan bacaan kedua dari Efesus 5: 8-14 (Hidup sebagai anak-anak terang).

Sketsa sore ini menceritakan Lidya yang muram dan sedih, menyesal kepada diri sendiri karena sudah mudah percaya kepada orang. Uang tabungan sebesar Rp 17.000.000,- (termasuk uang tabungan Merry untuk membeli mesin jahit nachi yang bisa border) raib setelah diberikan ke perusahaan PT Peruntungan Indonesia. Penipuan terjadi ketika Lidya ingin mengecheck uang tabungan beserta bunganya ke perusahaan tersebut, ternyata kantor nya sudah tutup. Merry menghibur dengan mengatakan jika Tuhan mengijinkan sesuatu terjadi, Tuhan menyediakan sesuaru yang baik.

Ketika Pendeta Mario berkunjung ke Malang dan bertemu dengan mereka, beliau mengatakan bahwa sering ada kejadian perusahaan investasi seperti itu yang tidak mengembalikan uang nasabahnya. Merry menanyakan kondisi Rebecca rupanya Rebecca belum bisa melihat rancangan Tuhan pada hidupnya….demikian juga yang terjadi pada Lidya. Ia melihat tetapi buta.

Adegan sketsa ditutup dengan helaan nafas Lidya dan kemudian ia masuk ke ruangan belakang, membawa tas koper Pdt.Mario.

Bacaan Injil diambil dari Yohanes 9 : 1-41 (Orang yang buta sejak lahirnya).

Pdt. Semuel Akihary mengatakan, orang yang melihat secara jasmani tapi buta pada sisi yang lain. Orang dapat melihat bukan hanya secara fisik tetapi melihat secara spiritual. Di dalam Kitab Yohanes 9:1-41, Tuhan Yesus  menegaskan diri-Nya sebagai terang dunia, secara simbolisasi Tuhan Yesus menyembuhkan orang yang buta sejak lahir.

Pdt.Semuel mengutip pesan dari buku yang dikarang Anthony de Mellow, Awareness, banyak orang yang hidup tetapi mati, karena mereka menjalani hidup aktivitas yang rutin sehari-hari, tapi tidak mempunyai kesadaran saat melakukannya.

Dalam Kitab 1 Samuel 16:1-13, Samuel mendapat tuntunan dari Tuhan untuk melihat secara spiritualitas siapa anak dari Isai yang diurapi menjadi raja atas Israel. Samuel dan orang yang buta sejak dari lahir mendapat tuntunan dari Tuhan untuk dapat melihat secara spiritualitas.

Orang-orang yang melek mempunyai getaran-getaran spiritual dengan memiliki keintiman dengan Tuhan. Orang lebih suka melihat hal-hal visual yang dapat membuat terlena atau tergoda. Saat ada godaan kita  harus punya getaran-getaran batin yang terhubung kepada Tuhan sehingga tetap berada pada kehendak Tuhan.

Setelah saat hening, persembahan pujian Bimus, solo Trombone, oleh Crederis (Ian) dan Pianis, Andre Suthedja memainkan instrumental lagu Ku berserah kepada Allahku.

Saatnya tiba bagi Pdt. Semuel melantik tiga Guru Sekolah Minggu, yaitu :Ruth Angeline Carolee Surjadi, Teddy Wijaya, Theodora Putri Simanjaya, dengan pesan bahwa pelayanan guru sekolah minggu adalah suatu anugerah dari Tuhan yang dijalankan dengan tanggung jawab. Pelayanan guru sekolah minggu dalam hal yang terlihat atau tidak terlihat merupakan pertaruhan identitas, bukan hanya transfer cerita tetapi sebuah kehidupan.

Umat diberikan kesempatan untuk mengucap syukur atas berkat yang senantiasa dicurahkan bagi kita. Dasar persembahan diambil dari Yunus 2 :9 “ Tetapi aku, dengan ucapan syukur akan kupersembahkan korban kepada-Mu; apa yang kunazarkan akan kubayar. Keselamatan adalah dari Tuhan!”

Pujian “Mari Bersyukur Semua” dari KJ 291: 1-5 di nyanyikan.

Setelah kantong persembahan diedarkan, bagi umat yang akan mempersembahkan amplop Penyangkalan Diri, dapat maju kedepan. Amplop penyangkalan diri akan diberikan kepada:

  1. GKI Cianjur untuk pembelian mobil ambulan. Karena sewa mobil mahal dan penyewaan yang ada enggan melayani umat Kristen.
  1. Panti Wreda Hanna

Nyanyian pengutusan “Buka Mataku” dari PKJ 197 menutup Ibadah di kebaktian 3 minggu Prapaskah IV yang spesial ini yang dihadiri oleh 237 umat (118 Pria dan 119 wanita).

(Yenny T.)

0 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *