Kebaktian Pra-Paskah 2

MENJALANI HIDUP YANG TAK PASTI

Persiapan umat Kristiani menyambut paskah telah memasuki Minggu II Pra Paskah. Demikian halnya umat GKI Samanhudi, Minggu 12 Maret 2017 semua kebaktian umum mengambil tema “Menjalani Hidup yang tak Pasti”.

Para umat memadati gereja pada kebaktian umum 1 yang dihadiri oleh 487 umat (227 Pria dan 260 wanita), kebaktian umum 2 dihadiri oleh 655 umat( 256 Pria dan 399 wanita),dan kebaktian umum 3 dihadiri oleh 239 umat( 120 Pria dan 119 wanita). Meski tidak sebanyak minggu Pra Paskah I. Jemaat yang hadir pun dengan pola yang sama, pada pagi hari terdapat banyak orang dewasa dan lansia, sore hari pada Kebaktian Umum 3 diisi kebanyakan oleh pemuda dan orang dewasa. Sekolah minggu diadakan tiga kali mengikuti jam Kebaktian Umum 1 pada pukul 07.00, Kebaktian Umum 2 pada pukul 9.30 dan Kebaktian Umum 3 pada pukul 18.00.

Pujian diiringi oleh suara merdu dan musik dari sekelompok pemuda dalam tim Doulos. Nyanyian Kidung Baru 217:1-2 mengawali ibadah Minggu II Pra Paskah. Dalam ibadah ini juga diisi sketsa drama dari tim Rhemata. Menyambung cerita minggu lalu di mana Pdt. Mario divonis dokter terserang kanker prostat, saat ia akan memberi kabar ke putrinya Rebecca, ternyata Rebecca juga menghadapi masalah yang cukup pelik. Rebecca yang hamil di luar nikah telah melahirkan seorang anak. Saat ini anaknya yang bernama Kris sering bermasalah dalam pergaulan di sekolah, karena dia sering dikatakan temannya sebagai anak haram. Kris tumbuh sebagai pribadi yang keras dan melawan teman-teman yang berbuat jahat kepadanya, sehingga menimbulkan masalah di sekolah. Hal inilah yang sangat mengganggu pikiran Rebecca. Melihat kondisi Rebecca, Pdt. Mario mengurungkan niatnya untuk mengabari tentang vonis dokter. Kemudian sketsa drama berakhir dan dilanjutkan kotbah dari Pdt. Rinto Tampubolon dari Jemaat GKI Seroja.

“Apakah anda menjalani hidup yang tak pasti? Bagaimanakah anda bisa mengetahui apa yang akan terjadi dengan anda esok hari? Menjadi tua itu apakah pasti bagi yang muda?” Demikian beberapa pertanyaan menggelitik yang diajukan oleh Pendeta Rinto Tampubolon dalam mengawali kotbahnya dalam Kebaktian Umum 1 dan 2.

Berbahagialah Bapak Ibu yang sudah menjadi tua..karena tidak selalu manusia itu menjadi tua. Ada yang di usia remaja/ pemuda selesai…dan tidak pernah menjadi tua..

Pendeta Rinto mengilustrasikan seorang tetangga yang menanam pohon jati, dengan harapan pohon jati tersebut dapat dijual bila ia membutuhkan uang. Menunggu hingga sepuluh tahun, tiba-tiba pohon tersebut terbakar. Dia merasa sangat kehilangan karena masa depannya bergantung pada pohon tersebut. “Apakah betul hidup ini tidak pasti? Kalau tidak pasti untuk apa kita hidup?” Demikian pertanyaan lanjutan yang dilontarkan oleh Pendeta Rinto.

Kotbah dilanjutkan dengan mengangkat kisah Abraham. Bagaimana Abraham dipanggil di saat kehidupannya nyaman. Sesuai kejadian 12: 1-4, Abraham istimewa di mata Allah, karena dia percaya akan rencana Allah meski dia belum melihat rancangan yang besar itu. Dalam ketidakpastian perjalanan menuju tanah perjanjian, Abraham memilih percaya bahwa Tuhan senantiasa menyertai dan tahu Tuhan ada bersama dengan dia. Allah tidak merancangkan hal-hal yang buruk tapi hal-hal yang baik. Lalu bila memang demikian, mengapa kita harus mengalami penderitaan di dalam dunia ini? Demi menyempurnakan kita untuk kehidupan yang disiapkan Allah bagi kita kelak. Dalam Yohanes 3:1-17, seorang ahli taurat yang bernama Nikodemus, mempelajari dan mengamati apa yang sebenarnya yang ada pada diri Yesus di zaman itu. Nikodemus melihat fenomena kehadiran Yesus yang mengusik semua ahli taurat. Hal inilah yang mendorong Nikodemus mencari Yesus untuk dapat bercakap langsung denganNya. Dia melihat dan merasakan bahwa hadirat Tuhan hadir dalam diri Yesus.

“Nah, untuk dapat melihat kehadiran Tuhan dalam kehidupan harus memohon pertolongan Roh Kudus.” Tuhan bersama kita…mendampingi kita…menopang kita sehingga tidak sampai tergeletak. Kalimat ini menutup kotbah yang disampaikan Pendeta Rinto.

Band Doulos mempersembahkan satu pujian “ Percayalah kepada Tuhan” dengan segenap hati kita dan jangan bersandar kepada pengertian kita sendiri.

Seperti minggu lalu, umat dipersilakan maju ke depan untuk memberikan amplop penyangkalan diri. Lagu pengutusan dari PKJ 241 “ Tak Ku Tahu Kan Hari Esok” menutup Ibadah minggu Pra Paska II.

[Nz140317]

0 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *