Kebaktian Malam Getsemani

“SALING MENGASIHI SAMPAI AKHIR”

Apa yang bernilai dan penting ? Sesuatu yang bernilai kekekalan … dan tidak ada batasnya. Saling mengasihi sampai akhir seharusnya menjadi panggilan hidup setiap orang percaya.

Ibadah malam Getsemani tanggal 13 April ini agak unik tanpa seorang liturgos….mengalir dari awal sampai akhir Ibadah dengan 2orang Narator.

Ada beberapa titik di hall yang disediakan untuk berdoa, ada beberapa bantal juga yang bisa digunakan untuk berlutut dan berdoa.

Umat diajak untuk merefleksi diri.Tuhan memanggil kita dalam kondisi keterbatasan yang kita miliki, untuk ikut Dia meski sulit.

Pujian Mazmur 22 “Ya Allahku, mengapa Kau tinggalkanku ?”dilantunkan oleh Jeanette dan Kel Vocal Joyful, nampak 4 penari mengiringi pujian tersebut dengan membawa daun palem.

Diceritakan Tuhan Yesus dan 3 orang murid sedang perjalanan menuju Taman Getsemani. Sesampai di taman, Yesus merasa sangat sedih dan berdoa untuk melakukan apa yang Tuhan kehendaki.

Lagu Taise Tinggalah bersamaku dilantunkan secara berulang beberapa kali membuat suasana ibadah terasa mengalir dan syahdu. Kemudian dikisahkan juga tentang Yudas yang menyesal dan akhirnya bunuh diri.

Pujian “Setiakah Diriku Padamu” dari PKJ 154:1 mengajak umat merefleksikan diri apakah kita akan tetap setia menapak jalan Tuhan meski letih…menerima panggilanNya dengan rendah hati karena Tuhan akan mengobarkan semangat di hati kita, menguatkan iman kita dan menuntun kita.

Yesus mengatakan: “Lihat…waktunya sdah dekat !” Pujian “ Getshemane” dilantunkan…suasana ibadah semakin syahdu.

Apa yang bernilai dan penting ? Sesuatu yang bernilai kekekalan. Demikian Pdt. Semuel Akihary mengawali refleksinya. Kasihlah yang tidak ada batasnya. Yesus mau identitas apa dari pengikut kristus?

Berita tentang Kasih dari Perjanjian Lama sudah menjadi sesuatu yang diketahui umat pada masanya. Mengasihi seperti Tuhan Yesus mengasihi kita. Bukan hanya orang Yahudi terhadap komunitas Yahudi saja. Perintah saling mengasihi suatu anugerah yang lebih luhur. Kita baru mampu mengasihi setelah kita sendiri mengalami kasih dari Tuhan yang begitu luar biasa.

Kadang kita lupa sumber dari mana dikasihi sehingga kita sulit mengasihi bahkan dapat mengasihi sampai tuntas.

Ia yang adalah guru dan Tuhan merendahkan diri dan hati untuk mengasihi kita. Dasar orang Kristen mengasihi karena kita sudah mengalami kasih Tuhan.

Kadangkala dalam kehidupan sehari-hari, kita rela berkorban dengan orang lain karena kita tahu akan ada balasannya. Kadang cinta kasih juga berubah. Orang tua bisa melahirkan anak-anak tapi anak-anak belum tentu bisa merawat orang tua.

Saling mengasihi sampai akhir seharusnya menjadi panggilan hidup setiap orang percaya. Setiap kita merenungkan apakah kita siap mengambil bagian dalam perjamuan kudus. Perintah mutlak saling mengasihi seperti yang diteladankan Yesus.

Doa bersama Yesus di Getsemani. Diingatkan kembali bahwa tindakan mengasihi adalah keharusan.

Sakitnya orang muda yang kehilangan mata batin. Sakitnya orang yang ditindas dan diabaikan. Engkau datang berbagi rasa dalam kondisi. Beri kekuatan dan pertolongan penuhi dengan rohmu.

Saatnya sudah tiba. Yesus sadar apa yang akan terjadi pada dirinya. Tapi dalam kelemahannya tetap berjalan, bersedia dengan memberikan diri dan memasuki jalan penderitaan.

Lagu Taise “Ke dalam Tangan Bapa” aku serahkan hidupku mengajak umat belajar menjadi pengikut Yesus yang setia.

Saya mau ikut Yesus dari KJ 375 dilantunkan menutup ibadah Malam Getsemani.

0 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *