Kebaktian Jumat Agung

JUMAT AGUNG   “PENONTON KEKERASAN”

Hidup ini keras…dan penuh kekerasan..

Bagaimana sikap kita terhadap kekerasan ? Mengapa kita cenderung menonton kekerasan tanpa ada usaha menghentikannya?

Kebaktian Jumat Agung tanggal 14 April agak berbeda dengan kebaktian biasanya, selain dilakukan pada hari Jumat juga nampak tersedia kotak di pintu utama ruang kebaktian maupun di Aula dimana umat menaruh kartu anggota untuk mengikuti Perjamuan Kudus. Untuk para simpatisan yang berasal dari gereja lain dan ikut mengambil bagian dalam perjamuan kudus cukup menuliskan nama di form yang sudah disediakan.

Kebaktian diawali dengan lagu Siapa Tergantung Di Salib dari Kidung Jemaat 173 bait 1 , 2 dan 5. Votum dan salam disambut dengan pujian Golgota, Tempat Tuhanku Disalib. Umat diberikan kesempatan untuk pengakuan dosa dengan diiringi lagu Pada Kaki Salibmu, Yesus ku berlindung.

Anugrah Pengampunan diambil dari Yesaya 1:18 “ Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba”. Umat menyambut dengan melantunkan pujian “Ajaib Benar Anugerah “ dari Kidung Jemaat 40 bait 1 , 3 dan 4.

Diawali dengan pembacaan Yesaya 11 umat diajak untuk tetap setia, takut akan Tuhan dan menantikan Raja Damai yang akan datang. Melalui pujian Salib Kayu Agung, kita membuka hati kepada Tuhan, tempat perlindungan kita.

Penyakit kita sudah ditanggungnya, memikul kesengsaraan kita, ganjaran yang mendatangkan keselamatan ditimpakan kepadanya dan oleh bilur – bilurnya kita menjadi sembuh. Dia dianiaya, membiarkan diri ditindas dan dalam matinya diantara penjahat-penjahat sekalipun ia tidak berbuat kekerasan.

Firman Tuhan dari Yesaya 52: 13 – 53: 12 “ Hamba Tuhan yang menderita’ dilanjutkan dengan Mazmur 22 “ Ya Allahku mengapa kau tinggalkanku” dan Ibrani 10: 16 -35 berbicara tentang ketekunan, mengajak umat teguh berpegang pada pengakuan tentang pengharapan kita, sebab Ia, yang menjanjikannya, setia. Saling memperhatikan , mendorong dalam kasih , pekerjaan baik, bersekutu.

Bacaan Injil diambil dari Yoh 19 : 16-42 mengenai penyaliban Yesus.

Ada seorang bocah laki-laki yang terbaring di Rumah Sakit dengan tubuh terbungkus kulit dan perut gendut akibat dipasang rantai pada kaki nya selama bertahun-tahun. Dimanfaatkan oleh sekelompok orang dan mulutnya penuh luka. Sebut saja namanya Boy…Demikian Pdt Frida mengawali renungannya.

Anak perempuan lain usia 4 tahun yang otaknya bergeser karena kekerasan yang dialami di rumah dan dilakukan oleh Ayahnya dan sudah terjadi berulang kali. Sehingga Ibunya tidak tahan dan melaporkan kelakuan suaminya kepada aparat. Sebut saja anak perempuan itu Dewi.

Boy dan Dewi adalah contoh kekerasan di sekitar kita yang berulang ulang dan bertahun tahun .

Kekerasan yang dialami mereka berdua juga terjadi disekitar kita. Bagaimana seorang penyidik KPK yang disiram air keras , keluarga di Medan yang di bantai , hanya 1 anak paling kecil yang selamat, Kasus Pulo Mas dimana 11 orang disekap di kamar mandi 1,5 m dan 6 orang meninggal.

Hidup ini Keras dan penuh kekerasan….

Pdt Frida menyatakan bahwa kisah kekerasan sudah ada sejak Yesus. Namun keputusan yang paling keras ketika Pilatus memutuskan untuk menyalibkan Yesus. Pilatus tahu Yesus tidak melakukan kesalahan. Strategi Pilatus dengan membawa Barnabas keliru. Karena akhirnya Pilatus menyerahkan Yesus untuk disalibkan. Kekerasan lebih menang ditengah kondisi masyarakat Yahudi yang haus akan kekerasan. Yesus menjadi obyek kekerasan itu.

Kekerasan yang jahat dan lengkap…Yesus membawa sendiri salibnya. Jalan panjang yang dipilih Yesus supaya bila ditengah jalan ada orang yang bisa membela sehingga kasus penyaliban tidak akan terjadi.

Disepanjang perjalanan tentu ada orang yang mengenal Yesus. Tapi penyaliban ternyata tetap terjadi ..artinya tidak ada orang yang memberikan kesaksian tentang Yesus dan kesaksian yang benar. Yesus disalibkan dekat kota dengan tulisan 3 Bahasa : Yesus orang Nasaret yang disalibkan (INRI).

Bagaimana kekerasan mendapat persetujuan massa.Kekerasan dipertaruhkan … berakhir dengan perkataan Yesus : sudah selesai …

Mereka akan memandang Dia yang sudah mereka tikam. Kisah itu juga berisi betapa naifnya manusia terhadap tindakan kekerasan. Hanya menonton kekerasan tanpa ada usaha untuk menghentikannya. Itulah kecenderungan manusia.

Kondisi Boy dan Dewi saat ini jauh lebih baik dan memiliki keluarga yang mengasihinya. Pada masa kini apa yang Gereja lakukan, apa yang kita mau lakukan ? Kita bisa melakukan menghambat terjadinya kekerasan di sekitar kita .

Banyak orang diluar kita yang peduli dan tidak hanya menonton kekerasan. Bagaimana dengan kita ? Kita bisa bertindak aktif stop kekerasan , tidak menjadi bagian dari kekerasan , mulai dari diri sendiri.

Boy bisa selamat karena pembantu rumah tangga yang melapor pada aparat , ia tumbuh menjadi bersahabat dengan masyarakat di keluarga angkatnya. Sedangkan Dewi bisa selamat karena sang ibu dibantu aparat , operasinya berhasil dan masih dalam proses pemulihan dan mendapatkan keluarga baru.

Tuhan menolong kita, demikian Pdt Frida mengakhiri renunganya.

Down the Via Dolorosa, in Jerusalem that day

The soldiers tried to clear the narrow street

But the crowd pressed in to see

The man condemned to die on Calvary

He was bleeding from a beating,

There were stripes upon His back

And He wore a crown of thorns upon His head

And He bore with every step

The scorn of those who cried out for His death

Down the Via Dolorosa, called the way of suffering

Like a lamb, come the Messiah,Christ the King

But He chose to walk that road out of His love for you and me…

Down the Via Dolorosa, all the way………..to Calvary.

Lagu Via Dolorosa mengalun dengan indah nya dinyanyikan oleh Paduan Suara Remaja Philadelphia dan Kelompok Vokal Immanuel. Hal ini mengingatkan kepada kita bagaimana proses legalitas kekerasan dipertontonkan melalui jalan salib dan kematian Tuhan Yesus yang sudah menebus semua dosa-dosa kita.

Apakah kita hidup dalam damai dengan sesama kita ? Pengantar Perjamuan kudus dibacakan oleh pdt Frida Situmorang dan dilanjutkan dengan doa syukur. Pujian Kudus Kudus dilantunkan mengawali Penetapan Perjamuan Kudus yang merupakan peringatan akan Kristus.Kemudian Lagu Haleluya bagi Anak domba Allah dinyanyikan mengiring pemecahan Roti dan penuangan air anggur. Sakramen Perjamuan Kudus pun berlangsung.

Kebaktian 1 dihadiri oleh 696 umat ( 258 Pria, 438 wanita), Kebaktian 2 dihadiri oleh 1133 umat ( 454 Pria, 679 wanita), sedangkan kebaktian 3 dihadiri oleh 322 umat ( 147 Pria, 175 wanita). Ibadah di tutup dengan nyanyian pengutusan “Hanyalah Yesus Juruselamat” dari Pelengkap Kidung Jemaat 126 bait 1 – 4.

0 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *